
Sementara Adelina dia hanya bisa bertahan di dalam hubungan yang membautnya bingung. Di bilang rumit, dia tidak tahu rumitnya gimana. Hanya akrewna bersaing dengan ornag yabg sudah menibggal benar-benar sanagt sulit. Apalagi sebelumnya Angela telah menghabiskan waktunya bersama udah bertagun-tahun. Pasti banyak kenangan manis mereka berdua. Dan Adelina menganggap dirinya adalah pendatang baru yang merubah semua kehidupan Devian.
Hari ini, sudah hampir 1 hari Devian tidak mau berbicara dengannya. Entah apa salah dia, di setiap Adelina mau mendekati Devian, ia selalu menghindar darinya.
Kali ini Adelina hanya menatap Devian dari balkon kamarnya. Dia sedang duduk sendiri di tengahnya malam, dengan hamparan bunga yang mengelilingi dirinya. Wajahnya terlihat bersedih dengan ke dua Tangan memegang foto, entah siapa hang ada di foto itu Adelina berusaha melihat dari atas. Dia bahkan tak bisa melihatnya dengan jelas.
"Devian, apa sampai sekarang kamu belum bisa menerimaku kenajdi istrimu. Apa aku begitu buruknya di mata kamu." gumam Adelina, mencengketam oagar balkon yang terbuat dari besi itu. Air mata perlahan menetes begitu cepatnya membasahi pipinya.
"Aku sudah melakukan berbagai cara untuk membuat kamu jatuh cinta, tapi semuanya nihil. Sama sekali tak bisa membuat hatimu bergerak sama sekali." Adelina menghela napasnya, mencoba untuk tersenyum meski hati terasa sangat sakit. Jemari tangan kanannya mengusap air matanya. Mendongakkan kepalanya menatap gelapnya langit yang seakan menertawakannya.
"Angel, kamu sangat beruntung mendapatkan cinta darinya. Kamu wanita yang selalu ada di hatinya." Adelina memundukkan kepalanya, dia membalikkan badannya. Berjalan masuk ke dalam kamarnya.
Devian menatap ke arah balkon kamar Adelina. Sontak membuat wanita itu salah tingkah. Dia membalikkan badannya cepat. Menghindari ke dua mata mereka saling bertemu nantinya. Dan mulai menutup pintu menuju ke arah balkon.
"Sebaiknya aku harus istirahat, aku gak mungkin menunggu dia berbaring di sampingku. Berada di sisiku, menemani aku, karena itu hanya mimpi." Adelina meringis, menahan rasa sakit yang entah sejak kapan ada di hatinya.
Adelina membaringkan tubuhnya di atas ranjang, membawa wajah Devian masuk ke dalam mimpi indahnya.
Brakkk...
"Adelina?" suara keras itu menggema ke seluruh penjuru ruangan. Membuat Adelina yang baru saja memejamkan matanya. Kini ke dua matanya terbuka lebar, dia beranjak menarik tubuhnya duduk dengan tangan mencengkeram erat selimut tebal berwarna putih yang masih membalut tubuhnya.
"Devian? Ada apa?" ucap Adelina gemetar takut. Wajah Devian penuh dengan amarah yang membara. Ia bisa merasakan pervikan api kemarahn itu dari ke dua matanya.
"Apa aku berbuat salah padamu?" tanya Adelina merendahkan suaranya.
"Kenapa? Kenapa?" Devian berjalan melangkah mendekati Adelina. Semaiain membaut Adelina merasa was-was. Dia sebenarnya suka Devian bisa menemuinya lagi. Tapi. Entah kenapa hari ini dia berbeda, aura pada tubuhnya sangat menakutkan.
__ADS_1
Apa yang terjadi padanya? Apa ku telah melukai hatinya selama ini? Atau hara-gara aku melihat dia tadi di atas balkon? pikiran Adelina melayang membayangkan beberapa pertanyaan yang membuatnya benar-benar pusing.
"Adelina, kenapa kamu.. Kenapa kamu jahat padaku." suara lantang itu terdengar jelas, seketika menghentikan detak jantungnya kesekian detik. Helaan napasnya terdengar sedikit kasar, dengan ke dua mata menatapnya bingung.
"Apa... Maksud kamu?" tanya Adelina memberanikan dirinya untuk bertanya.
Devian duduk.di ranjang tepat di depannya, mencengkeram erat ke dua bahu wanita di depannya
Membuat Adelina hanya meringis menahan rasa sakit dari tangan kekar laki-laki itu.
"Sa--sakit, Dev!" rintih Adelina memegang punggung tangan kanan Devian.
"Apa salahku padamu, Dev! Bilang jika memang aku ada salah denganmu. Atau kamu marah karena aku melihat kamu tadi di atas balkon?" tanya Adelina menggebu. "Tapi.. Tadi. Aku tidak berniat melihat kamu. Aku tadi hanya melihat pemandangan malam. Dan.. Kau gak tahu tadi.. Ada kamu di bawah sana." Jelas Adelina dengan mimik wajah penuh dengan rasa khawatir. Bibirnya gemetar takut.
Devian hanya diam, mengerutkan keningnya bingung. Dengan apa yang di katakan Adelina. Tetapi dia tak mau perdulikan hal itu. Devian memegang tengkuk belakang Adelina, menariknya mendekat, membuat jarak antara wajah mereka hanya berjarak dua jaru telunjuk.
Devian menghela napasnya frustasi. Dalam satu tarikan napasnya. Devian menarik tengkih Adelina, mendaratkan sebuah kecupan di bibir mungil Adelina. Dengan leluasa laki-laki itu menggulum bibir mungil wanita itu penuh dengan gairah.
Kenapa dia? Ada apa dengan dia? Kecupan ini bukan seperti Devian. Aku tidak suka cara dia seperti ini. Seakan bukan dirinya yang sesungguhnya.
"Devian, lepaskan aku!" pinta Adelina mendorong jauh tubuh Devian dari dekapannya.
"Kenapa? Kenapa kamu ingin aku melepaskanmu? Bukanya ini yang kamu mau? Kamu mau tubuhku?" tanya Devian menggebu. Seketika Adelina tak kuasa meneteskan air matanya.
Bagaimana bisa di pikir aku hanya menginginkan dirinya. Aku begitu tulus mencintai dirinya. Bahkan batu kali kini aku jatuh cinta sampai segila ini. Gumam Adelina dalam hatinya.
"Sebenarnya apa yang kamu mau? Kenapa.kamu tidak juga pergi dariku, kenepa?" bentak Devian dengan nada naik turun.
__ADS_1
"Hiks.. Hikss. Devian, apa.yang kamu jatakan? Aku suka dengan kamu..." Adelina menghentikan ucapanya.
Gak! Gak! Dia gak bolehbtahu, jika aku suka dengannya tulus. Aku harus membuat dia seperti ini. Mungkin jauh lebih baik. Dari pada dia tersiksa olehku.
"Kenapa kamu diam? Kenapa? Apa kamu gak bisa jawab?" bentak Devian, semakin meninggikan suaranya, membuat Adelina bergidik takut. Tangisannya semakin menjadi tersedu-sedu.
"Lebih baik kamu pergi dari kamarku,"
"Kenapa kamu selalu menganggu hubungan aku dengan angel. Dan sekarang aku tak pernah bisa melupakannya. Batinku rasanya sangat tersiksa denhan kepergian Angel beberapa bulan ini."
"Devian, jangan tangisi orang yang sudah tidak ada. Dia bakalan tersiksa di sana jika kamu tidak bisa ikhlasin dia."
"Apa urusan kamu, lebih baik kamu sekarang diamlah. Dan jangan benyak bicara lagi."
"Biafkan dia tenang di sana, dengan kehidupan barunya di sana."
"Aku tidak pernah biaa melihat dia tenang di sana. Aku tidak bisa melihat senyumnya."
Adelina menelan ludahnya susah payah, saat melihat dada bidnag Devian. Perlahan dia mengangkat tanganya, meletakkan telapak tangannya tepat di dada bidangnya.
"Dia akan selalu ada di hati kamu. Meskipun sekarang dia tidak ada di samping kamu. Tetapi selamanya dia selalu ada di hati kamu. Dia tak pernah tidur, dan selalu setia menjaga hatimu. Jadi jangan terus sakiti dirimu jika kamu ingin melihat dia bahagia. Karena bagi dia sekarang hatimu adalah hatimya juga. Jika kamu bersedih, pasti dia di sana juga akan bersedih." jelas panjang lebar Adelina, membuat Devian tersentuh oleh perkataannya. Ganganya kenyentuh telapak tangan Adelina, mengusapnya lembut.
"Hati ini tidak akan pernah berubah,"
Deg!
Perkataan itu benar-benar sangat menyakitkan untuknya. Ucapan beberapa kata saja mampu membuat hatinya terombang-ambing dalam derasnya lautan yang menghantam dirinya.
__ADS_1