
"Apa kamu mau makan?" tanya Adelina berjalan menghampiri Devian yang masih fokus pada kaca depannya. Ya, hari ini dia akan pergi ke kantor lagi. Setelah sekian lama dia tidak pernah kerja. Dan hanya memantau dari rumah. Kali ini, ia ingin memulai hidup baru. Mencoba meulapakan semua kenangan yang lalu. Dan memulai hidup baru dari nol. Meski rasanya sangat sulit baginya. Ia tetap berusaha menjadi suami yang terbaik bagi Adelina.
Tapi entah kenapa, rasanya sangat berat jika melupakan seutuhnya tentang Angel. Apalagi sampai begitu mudah memberikan hati pada wanita lain. Ia tak bisa membayangkan itu semua. Biar saja waktu yang akan menjawabnya.
Adelina menarik napasnya dalam-dalam, mengangkat tangannya penuh dengan keraguan. Ia meraih dasi Devian. Memakaikan lalu menariknya ke atas dengan detak jantung berdebar tertunduk takut.
"Maaf!" ucap Adelina, menurunkan tangannya. Lalu beranjak melangkah satu langkah ke belakang.
Ke dua mata Devian tak lepas gerak-gerik tubuh Adelina.
"Bersiaplah!"
Adelina mengangkat kepalanya. Mengerutkan keningnya bingung. "Kemana?"
"Jangan banyak tanya, pakai baju yang layak buat di kantor." pekik datar Devian.
"Kantor?"
"Iya,"
"Tumben kamu mau ke kantor?"
"Kenapa kamu bawel benget. Cepat ganti baju!" tegas Devian.
Adelina seketika terdiam, menelan ludahnya. Dan beranjak dari pergi.
Dari pada Devian marah-marah gak jelas lagi. Lebih baik aku menuruti apa yang di katakan dia.
Devian menoleh menatap punggung Adelina sudah pergi menjauh. "Dasar wanita aneh!" gumam lirih Devian.
***
Selesai ganti baju Adelina kembali pergi ke kamar Devian. Ia mengetuk pintu kamar itu. Tapi belum ada jawaban olehnya.
Kringg.....
Sebuah ponsel berdering dari dalam tasnya. Dengan segera Adelina mengambil ponsel dalam tasnya. Seketika dia mengerutkan keningnya saat melihat nama ponsel di layar ponselnya. tertera nama 'My Husband'.
Kenapa dia mengirimkan aku pesan sekarang? Apa dia sudah pergi dari rumah.
Adelina membuka pesan darinya. Dia memberi tahu dirinya jika Devian menunggunya di bawah.
Ia segera melangkahkan kakinya berlari kecil menuruni anak tangga keluar dari rumahnya. Mobil sport warna merah itu sudah terparkir tepat di depan pintu rumahnya.
"Masuklah!" pinta Devian.
Pintu terbuka dengan sendirinya. Adelina menghela napasnya beranjak masuk ke dalam mobil. Setelah masuk dalam mobil, Adelina melirik sekilas Devian yang masih menampakkan wajah datarnya. Mengemudi mobil dengan kecepatan sedang.
Kenapa dia masih saja datar. Padahal aku tadi sudah siapkan dia makanan. Tapi kenapa dia gak makan sama sekali. Bahkan wajahnya masih datar.
__ADS_1
"Maaf!"
"Sudah berapa kali kamu minta maaf?" tanya Devian.
"Kalau mau bicara, silahkan. Aku bosan dengar kamu maaf kamu berulang kali." lanjutnya tanpa menatap ke arah Adelina. Mata Devian fokus dengan jalan di depannya.
"Sebenarnya kita mau kemana?" Adelina memberanikan dirinya bertanya.
"Kantor!"
"Kamu sudah makan tadi?" tanya gugup Adelina, laku menelan ludahnya. Tertunduk lagi kesekian kalinya. Ia mencengkeram jeri-jari tangannya.
"Belum!"
Adelina mengangkat kepalanya, dengan pandangan lurus tepat di wajah Devian.
"Kenapa?" tanyanya.
"Malas!"
"Oo.."
Adelina kembali diam dan fokus memikirkan obrolan lagi untuk bisa berbicara dengannya.
"Apa oma benar sakit?" tanya Adelina mengangkat kepalanya.
"Kata siapa?"
"Dia hanya berbohong,"
"Kenapa dia berbohong?" tanya Adelina penasaran.
"Karena Oma hanya ingin tinggal di Melbourne dengan Devid.
Wanita berambut lurus itu hanya diam menganggukan kepalanya seakan dia mengenrti dengan apa yang di katakan Devian dengan pandangan mata fokus ke depan. Ia tak tahu bicara apa lagi denganya dari tadi tanya terus tetap saja. Dia hanya jawab singkat dan tidak pernah balas tanya padanya.
***
Mobil Devian berhenti di sebuah sekolahan. Ya, bisa di bilangin adalah tempat di mana Salsa dulu sekolah. Karena ada hal penting terpaksa dia harus datang ke sana. Sekalian melihat sekolahan miliknya yang beberapa hari ini gak pernah sama sekali dia berkunjung ke sana.
Adelina mengerutkan dahinya semakin dalam. Memutar matanya melihat sekeliling sekolahan itu dari depan.
Kenapa dia ke sini? Siapa yang di temuinya? Dan aku belum pernah ke sini sebelumnya.
"Apa kamu terkejut?" tanya Devian.
"Iya, aku bingung kenapa kamu bawa aku ke sini," tanya Adelina, menoleh sekilas lalu kembali lagi mengamati sekitarnya.
"Turunlah!" pinta Devian, "Tapi kalau kamu mau. Kalau gak tetap di sini. Tunggu aja sampai akh kembali."
__ADS_1
"Lama gak?"
"Sekitar satu atau dua jam,"
"Bisa mati aku di dalam mobil." gumam Adelina lirih.
Devian hanya diam, membuka pintu mobilnya dan beranjak keluar. Ia berdiri merapikan jas hitam yang membalut gubugnya, setelah itu dia berjalan dengan langkah ringan.
"Ah.. dari pada lama nunggu terpaksa aku ikut dnegan dia. Siapa tahu dia bertemu dnegan wanita kain disini." ucap Adelina. Dia keluar dari mobil. Menutup kembali pintu mobilnya. Seketika tubuh mungil itu harus mengeluarkan tenaga ekstra saat melihat Devian sudah pergi menjauh dari pandangan matanya. Ia terpaksa berlari mengikuti Devian, dengan kaki yang masih menggunakan high heels.
"Devian tunggu!" teriak Adelina. Meraih tangan Devian, nemeluknya sembari mengusap dadanya yang hampir saja jantungnya mau copot.
"Tunggu aku,"
"Lepaskan!" Devian menarik tangannya, dan berjalan dua langkah di depannya lebih dulu. Ia tak suka terlalu dekat dengan Adelina. Hatinya helum bisa sepenuhnya menerima dia berada tetap di hatinya.
"Pak Devian..." teriak Ika berlari menghampiri Devian.
Devian menghentikan langkahnya, menoleh sekilas.
"Iya, ada apa?" tanya Devian datar.
"Pak... Em.. Salsa di mana sekarang, aku gak pernah tahu kabar dia setelah lulus." ucap Ika. Ia melirik sekilas ke arah Adelina yang berdiri tepat di belakang Devian.
"Emm.. Apa itu istri pak Devian,"
"Iya..."
"Wahh... Cantik juga ya..."
"Kamu ngapain di sini. Bukanya kamu satu kelas dengan Salsa. Dan apa kamu tidak naik kelas?" tanya Devian curiga.
"Ah... Gak naik kelas. Pak.. Devian.. Aku ke sini tanya ingin ligat-lihat sebelum aku pergi nanti."
"Memangnya kemu aku kemana?"
"Ke luar negeri, aku amu sekolah di Australia. Dan berharap bisa bertemu dengan Salsa di sana."
Adelina tertunduk, mengerutkan bibirnya. Menarik ujung bibirnya tipis sembari mencibir pelan. "Hah... Kenapa dia bicara dengan wanita lian seramah itu. Sedangkan denganku.. Cueknya minta ampun.."
"Semiga kamu bisa lulus dengan nilai baik di falkustas baru kamu di sana." ucap Devian mengusap lembut ujung kepala Ika.
"Ika... Udah ayo pergi," panggil Jeni. Sahabat Ika Dan Salsa. Memang mereka dulu sahabatan tapi semenjak Salsa menikah seakan dia melupakan dirinya.
Adelina memegang pergelangan tangan Devian, menariknya dari ujung kepala Ika.
"Udah!" pekik Adelina. Ika menilrh ke arah Adelina dan tersenyum tipis padanya. Lalu kembali lagi menatap Devian.
"Pak devian... Aku pergi dulu, ya. Semiga lain wkatu kita bertemu lagi.. Bye..." Ika melambaikan tanganya dan berjalan pergi.
__ADS_1
"Semoga saja gak pernah bertemu lagi," jawab sinis dengan nada rendah oleh Adelina. Ia memalingkan wajahnya acuh dengan bibir tak berhenti mengumpat kesal. Hatinya rasanya berkecamuk melihat suaminya bisa seramah itu dengan wanita lain. Ingin sekali marah, tapi ia sadar bukanya dua yang menang tapi malah dirinya akan di marahi habis-habisan nanti oleh Devian.