Menikah Muda Dengan CEO

Menikah Muda Dengan CEO
Bandara


__ADS_3

Devid dan Devian sampai di bandara, mereka sudah memesan jadwal penerbangan ke Melbourne. Tapi terpaksa harus menunggu lama. Bahkan sampai berjam-jam, dia dapat tiket penerbangan jam 4 sore.


Hampir satu jam menunggu, Devian yang sudah lelah dia duduk santai di ruang tunggu. Berbeda dengan Devid yang terlihat sangat gusrah, dia tak berhenti mindar-mandir dengan tubuh tak berhenti bergerak cemas. membuat semua orang yang menatapnya pusing.


"Kenapa kita tidak pulang lebih dulu?" tanya Devian, "Seyelah itu kita kembali lagi, jemput Salsa nanti,"


"Enggak!!" ucap Devid tegas, tanpa menatap ke belajang, dia hanya mengangkat satu tangannya dengan menunjukan telunjuknya tepat di belakang.


"Waktu tidak akan bisa di remehkan. Karena waktu juga cinta aku pergi. Sekarang aku harus benar-benar memanfaatkan waktu." ucapnya sok bijak.


"Tapi ini berbeda, kak?" jawab Devian. "Udahlah kita pulang dulu," ajak Devian merendah.


"Enggak!!" jawab tegas Devid ke dua kalinya. Pendiriannya benar-benar kokoh.


"Terserah!!" ucap Devian kesal.


Devid hanya diam terpaku melihat layar jadwal penerbangan selanjutnya. Matanya tak mau jauh-jauh dari layar itu, dia terus menggerakkan kakinya tak sabar menunggu giliran dia untuk segera berangkat ke Melbourne. Hari yang membosankan baginya menunggu terlalu lama.


Hah... Kenapa lama banget... Apa itu layar eror... Kenapa dari tadi belum giliran penerbangan ke Melbourne. Umpatnya lirih.


Devian menggelengkan kepalanya, melihat kakaknya yang tak bisa berhenti menggerutu dari tadi. Bahkan je dua kakinya seakan tak bisa behenti bergerak.


"Kak!! Aku pulang ambil pakaian dulu, penerbangan kita masih lama. Di tiket saja nanti jam 4 sore."


"Gak usah!!" Devid menarik lengan jaket Devian, membuatnya menghentikan langkahnya untuk pergi. Tanpa memandang ke arahnya.


"Kamu diam dan duduklah!!" ucapnya datar, sekarang ke dua tangannya di masukan ke dalam dua kantong celana hitamnya. Tanganya terus bergerak-gerak dalam kantong celananya, berdiri tegap tanpa suara lagi.


Devian menghela napasnya kesal, dia menelan ludahnya meleggakan tenggorakan yang tak kering.


"Kita di sana pakai baju apa, kak?"

__ADS_1


"Baju bisa beli, tapi hati gak bisa di beli," ucap Devid sok bijak, singkat dan tegas. Bahkan kata-katanya membaut Devian seketika tersenyum simpul mendengarnya.


Sejak kapan kakak aku sadar? Baru kali ini ucapan kakak aku memang benar, aku suka sekarang di mulai berubah saat dekat dengan Salsa. Devian semringai menahan senyumnya.


"Dasar ****! Kenapa lama banget. Kalau layar itu gak di atas sudah aku tendang jauh-jauh!!" pekik keras Devid tanpa pedulian setiap orang di sampingnya, yang tak hentinya terus menatap aneh.


Devid yang sadar ada tatapan gak suka melihatnya, seketika dia memutar matanya. Mengabaikan tatapan itu. Tapi, semua semakin menatapnya bahkan ada yang menvibirnya tak suka, karena terlalu berisik dari tadi.


"Apa lihat-lihat, apa kalian gak pernah lihat orang marah... Pergi sana gak punya kerjaan lain.." umpatnya keras, membuat semua orang menatapnya bergidik dan beranjak pergi dengan tatapan sinis.


"Kalau kalian masih banyak bicara.. Aku gak akan segan-segan melayangkan pukulan pada kalian..." amarahnya semakin menjadi.


"Udah kak!! Lagian kami dari tadi berisik, tau gak."


Hampir 5 jam berlalu, dia yang sudah tak sabar bahkan terus marah-marah mengumpat gak jelas, Devian yang merasa telingaya mulai pecah mendengar teriakan kakaknya, dia membaringkan tubuhnya di tempat duduk menutup ke dua telinganya.


Devid melonjak seketika, dia terdiam sejenak, saat mendengar jika penerbangan ke Melbourne sudah siap. Tak banyak bicara, Devid menarik tangan Devian yang masih duduk bersandar di kursi.


"Kak tunggu!!" Devian menepak tangan Devid.


"Gak usah terlalu terburu-buru, lagian pesawat itu jalannya sama gak mungkin hanya satu detik nanti langsung sampai," Devian menarik bibirnya tipis, mengepalkan tangannya lalu memukulkan ke lengan Devid yang diam terpaku dengan ucapan adik ya itu.


"Santai saja, kita masuk sekarang!!" ucap Devian merendah. Hanya Devian yang bisa berbicara merendah saat kakaknya marah-marah. Jika dengan Alan bisa saling tonjok karena memang wataknya sama keras dan tidak ada yang saling mengalah.


"Benar apa kata dia, aku harus kontrol hatiku. Aku tidak boleh terlalu cemas, aku yakin jika Salsa pasti akan baik-baik saja di sana.


"Kak! Mau sampai kapan kamu berdiri di situ?" teriak Devian yang sudah bersiap untuk masuk ke dalam pesawat.


Dia mengibaskan kepalanya, melupakan pikiran buruk dalam otaknya dan menggantinya dengan pikiran positif, lalu berlari masuk ke dalam pesawat.


--------

__ADS_1


"Kak Salsa, lihatlah!!" Gio berlari dengan pandangan tak jauh menatap ponselnya yang kini di genggaman tangannya. Menghampiri kakaknya yang sibuk masak untuknya nanti.


"Ada apa lagi? Kakak masih sibuk masak, nanti dulu Gio."


Gio menarik-narik lengan panjang baju Salsa, gadis itu menghela kesal, dia terdiam beberapa detik, lalu membalikkan badannya menatap Gio yang sudah mengangkat tanganya lurus, menunjukan ponselnya ke arahnya. Seketika ke dua kata Salsa mau melompat keluar, dia mengedip-ngedipkan matanya, lalu mengusapnya berkali-kali. Dan tulisan itu masih sama.


Aku akan datang nencarimu, tunggu aku datang. Jangan pergi lagi.


"Ini dari kak Devid?" tanya Salsa memastikan.


"Apa kita tidak pulang saja, kak?" tanya Gio dengan wajah memelas.


"Tidak, kakak tidak mau pulang lagi," Salsa menggelengkan kepalanya.


Aku gak mau pulang. Jika dia memang cinta denganku maka dia harus jemput aku, atau dia mau tinggal di sini bersama denganku. gumam tegas Salsa dalam hatinya, dengan ke dua tangan berkaca pinggang, dan senyum semringai di wajahnya.


"Udah sekarang jangan pikirin kak Devid, kamu cepat siap-siap, aku akan antar kamu ke sekolah baru," setelah bahas soal Devid, Salsa segera menyelesaikan masakannya. Dan mulai menyajikan di meja makan. Gio yang tadinya kesal dengan ulah kakaknya yang tidak menganggap kak Devid, dia langsung berlari dan bersiap untuk ke sekolah barunya.


"Makan dulu!! Kakak nanti mungkin akan pulang malam, jadi kamu pulang sekolah jalan kaki sendiri gak apa-apa, kan?"


Gio memutar matanya malas, "Iya," jawabnya jutek.


Salsa mengusap kepala adiknya, "Kamu marah boleh!! Tapi kakak yakin jika suatu saat kamu akan mengenrti,"


Gio segera melahap masakan Salsa, dan beranjak berdiri dengan wajah lesu kesal, dia berjalan di samping kakaknya untuk berangkat ke sekolah baru. Hanya 10 menit berjalan dia sampai di sekolah barunya. Salsa menunduk, mengusap kepala adiknya. "Kamu belajar yang benar, jangan kecewain kakak." nasehan Salsa. "Setelah ke kampus nanti kakak akan pergi cari kerja. Dan kamu gak boleh pergi kemana-mana, langsung pulang!!"


"Iya, iya!" jawab Gio jutek.


Note :


Maaf author lama up, kemarin malam mau up tapi gara-gara seharian sakit gara-ara kena udara dingin berhari-hari langsung drop. jadi gak bisa up.. Sekarang baru membaik... Semoga nanti bisa up lagi ya kakak semua.. Maafkan author ini..

__ADS_1


__ADS_2