
Sampai di tempat tujuan, Devid dari tadi sibuk dengan ponselnya. Dan dia memang sengaja ingin menghubungi Dea, tetapi entah siapa nantinya yang akan datang menemuinya. Dan Devid ingin bertemu di sebuah restauran terkenal di pusat kota. Dia bilang ingin datang sendiri dan sudah menunggunya di restaurant. Seperti rencana mereka, di pesan yang di kirimkan Devid, agar Dea tidak terlihat curiga sama sekali.
"Aku turun dulu," ucap Devid, beranjak turun dari mobilnya.
Salsa mengerutkan keningnya bingung.
"Kamu mau kemana?" tanya Salsa, seketika membuat Devid menggerakkan kesal.
Devid mencoba untuk tersenyum paksa. Mengusap lembut ujung kepala Salsa.
"Jangan banyak bicara lagi? sekarang kalian tunggu aku di sini." Pinta Devid.
"Aku akan ikut dengan kamu, dan memantau dari kejauhan." ucap Salsa.
Devid mendekatkan kepalanya, dan berbisik pelan. "Kamu di sini saja, buat, tuh, Adelina dan Devian semakin dekat. Itu tugas kamu!"
Salsa tersenyum, ke dua matanya menyipit. Dia melayangkan ibu jarinya. "Sip.. Aku pasti akan melakukannya dengan baik," gumam Salsa penuh semangat. Seakannwanita itu punya segudang ide di otaknya.
"Kalian bicara apa?" tanya Alan penasaran. Dia yang dari tadi diam, bingung dengan alur pembicaraan mereka.
"Ada deh," Salsa mengedipkan matanya, memberi kode pada Alan. Sembari melirik tipis ke belakang.
Alan menggaruk kepalanya yang tak gatal, dia tidak tahu maksud Salsa.
"Mata kamu belekan, ya?"
"Enak saja belekan, apa kamu gak tahu." umpat kesal Salsa.
Alan hanya menyeringai, menggelengkan kepalanya tanpa dosa.
"Udah, aku masuk. Nanti dia curiga. Kalian di sini dulu Dan bisa pantau dari luar," saut Devid, tersenyum, melangkahkan kakinya.
Salsa duduk lagi, melirik sekilas ke arah Adelina yang hanya diam saja, dengan wajah terlihat sangat pucat. Dan Salsa pandangannya mulai turun, melihat tangan mereka sudah tidak lagi berpegangan.
"Ehem...." Dahem Salsa, menajamkan pandangan matanya, dengan ke dua tangan berkacak pinggang.
"Apa yang kalian lakukan? Kenapa melepaskan tangan kalian. Kalau kalian saling canggung begini. Gimana hubungan kalian bisa baik." ucap Salsa sok bijak, dengan nada naik turun.
"Entah, apa yang harus aku lakukan sekarang," gumam Alan, memotong begitu saja ucapan Salsa. Membuat wanita itu seketika menoleh ke arahnya. "Alan..." panggil Salsa, menarik turunkan alisnya.
"Ada apa?" tanya Alan datar.
"Kamu mau makan gak?" Salsa menepuk pundak Alan dari belakang sok akrab. Tapi, memang sekarang mereka sangat akrab. Seperti teman sendiri.
__ADS_1
"Boleh," jawab Alan dengan santainya
"Bagaimana kalau kita masuk ke dalam. Kita makan, tapi pakai jaket kamu. Dan tutupi wajah. Biar tidak ada yang tahu jika itu kita." Salsa membuka pintu mobilnya, melangkahkan kakinya turun. Dan langsung membuka paksa pintu depan, menarik Alan keluar dari tempatnya.
"Sekarang aku mau, kalian baikan!" ucap Salsa, menatap ke belakang. Ke dua manusia di dalam itu yang dari tadi diam seperti patung, membuatnya semakin geram. tidak ada yang saling bicara, bahkan saling menyentuh satu sama lain.
"Kalau kalian masih seperti ini, aku tidak mau bicara lagi dengan kamu Devian," tegas Salsa, melangkahkan kakinya pergi. Dia kecewa dengan sifat Devian. yang entah kenapa dia berubah. Tidak seperti Devian yang lembut dan penyayang.
"Oke.. Fix, kalian tidak mau bicara juga," pekik Salsa.
"Emm.. Aku..." Adekina menciba membuka mulutnya meski hanya sepatah.
"Udahlah, lupaka saja. Aku malas." Salsa yang sudah merasa kesal, dia membalikkan badannya. Melangkah pergi.
"Salsa...." panggil Devian, dan Salsa hanya mengangkat tangan kanannya. Tanpa menoleh ke belakang, ia terus berjalan melingkarkan tangannya di tangan kanan Alan.
"Perbaiki hubungan kalian, baru bicara denganku." ucap Salsa yang sudah masuk ke dalam restaurant.
"Apa yang perlu di perbaiki, hubungimu juga seperti ini. Air garam meski di minum akan tetap asin. Bagaimanapun di rubah juga tetap sama tidak akan bisa berubah manis," gumam Devian.
"Kita bisa membuang air garam itu, menggantinya dengan air putih jernih. Karena setiap kesalahan, luka hati, dan kekecewaan, akan tetap bisa di rubah, menjadi diri kita semulanya. Asal kita membuang semua sifat angkuh kita, membuang rasa sakit hati, dan benci pada diri kita. Seperti air putih yang baru dintuangkan, tanpa rasa, jika kamu ingin rasa manis, kamu bisa memberinya gula, jika kamu ingin rasa pahit, kamu bisa memberinya kopi, dan jika kamu ingin rasa asin. Sama seperti air garam itu."
"Maksud kamu," tanya Devian bingung.
"Kamu bisa membuang semua yang ada dalam dirimu. Menjalani hidup baru dengan kebahagiaan baru, itu intinya." lanjut Adelina.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hingga lima belas menit setelah Adelina berbicara tadi. Devian hanya diam, tanpa membalas sama sekali ucapan Adelina. Seakan dia memikirkan ulang apa yang di katakan Adelina.
"Apa boleh aku bicara sebentar?" ucap ragu Adelina, mencengkeram jemari tangannya sendiri.
"Apa yang perlu kita bicarakan?"
"Aku tidak bahas tentang itu." jawab Adelina, tertunduk lesu, jemari tangan dan wajahnya nampak sangat pucat ketakutan.
"Terus bahas apa? Aku tidak punya banyak waktu lagi." Devian menatap ke arah Adelina yang tertunduk. Dia meraih dagunya, menariknya sedikit ke atas.
"Kenapa kamu gugup?" tanya Devian.
"Emm... A... Aku.. Aku hanya bilang..." sekujur tubuh Adelina semakin bergetar hebat di saat ke dia mata mereka saling bertemu. Adelina menatap sisi lain dari Devian, tatapan matanya tidak setajam saat dia di rumah tadi.
Wanita itu menelan ludahnya dalam-dalam, memberanikan dirinya untuk bicara dengan Devian. "Kamu tidak marah denganku?" tanya Adelina memelankan suaranya.
__ADS_1
"Kali ini Salsa sedang berbaik hati denganmu. Jika aku marah-marah di sini, yang ada malah mereka yang akan marah denganku." Devian melepaskan tangannya dari dagu Adelina.
"Tetapi kamu jangan terlalu kepedean. Aku seperti ini bukan seperti apa yang kamu inginkan, ya. Dna jangan harap kamu bisa dapat cintaku. Kalau itu tidak mungki terjadi."
Adelina yang semula tersenyum tipis, dia menarik kembali senyumnya. Wajahnya seketika datar. Jika mendengar kenyataan Devian tidak akan pernah menyukainya.
"Aku mau keluar," ucap Adelina gugup. Dia mencoba membuka pintunya, Devian yang tidak mau jika Dea nantinya tahu, dengan cepat tangannya menarik lengan Adelina, hingga kepala wanita berparas cantik itu terjatuh tepat di dadanya.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Devian, mencoba mendorong tubuh Adelina sedikit menjauh darinya.
"Aw---" rintih Adelina, helaian rambut berombak miliknya tersangkut kancing kemeja Devian.
"Kamu sengaja?" gertak Devian kesal.
"Enggak," Adelina berusaha melepaskan rambutnya yang tersangkut.
"Ada gunting?"
"Buat apa?"
"Buat potong rambut kamu," tegas Devian, mencoba mencari gunting, sedangkan Adelina terus mencoba melepaskan sendiri dari pada rambut kesayangannya harus di gunting.
Kraakkkk...
Tanpa sengaja Adelina membuat kemeja Devian terbuka. Hingga dua kancing kemejanya lepas, menunjukan bagian dadanya. Membuat ke dua mata Adelina tak lepas dari dadanya.
"Apa yang kamu lihat," sentak Devian.
Ke dua mata Adelina berpaling takut. Dia tidak berani menatapnya, meski ada kesempatan.
"Shiittt...Semua gara-gara kamu, jika kamu tidak maksa ikut. Tidak akan menyusahkan aku." geram Devian
"Maaf... aku bisa jahitkan nanti,"
"Memangnya kamu bisa jahit?" Devian meninggikan suaranya. Dan hanya di balas dengan celengan kepala oleh Adelina. Dengan wajah tertunduk merasa bersalah.
Devian melepaskan kemejanya, memeberikan pada Adelina. "Jahit ini dengan tangan kamu sendiri, ingat jangan pakai mesin. Atau tangan orang kain untuk jahitkan."
Adelina mengenggam erat kemeja Devian. Bau harum parfumnya masih terasa menyeruak masuk penciumannya.
"Iya, aku akan berusaha." gumam Adelina menunduk menatap kemeja itu.
Gimana bisa aku jahit. Aku saja tidak pernah jahit baju. Tetapi demi dia apapun akan aku lakukan. Gumam Adelina dalam hatinya, tersenyum tipis. Memeluk erat kemeja Devian, sembari merasakan hangatnya tubuh Devian yang masih membekas pada kemeja biru itu. Tanpa sadar jika Devian memerhatikannya dari tadi.
__ADS_1
"Dasar aneh!" cibir Devian tak suka, dia duduk bersandar, memejamkan matanya, lalu memasang airphone di telinganya. Tanpa perdulikan Adelina lagi.