Menikah Muda Dengan CEO

Menikah Muda Dengan CEO
Keadaan Angel yang memburuk


__ADS_3

Hampir 2 jam berlalu, dokter yang sudah memeriksa Angel memindahkan dia menuju ke ruangan khusus untuk perawatan penyakitnya, dengan penanganan khusus oleh dokter, yang menjadi teman Devid.


"Aku mau bicara dengan suaminya!!" ucap dokter itu, yang baru keluar dari ruang pasien.


"Saya suaminya, dok!!" tubuh Devian bergetar hebat, ia menarik napasnya dalam-dalam melangkahkan kakinya mendekati dokter dengan wajah yang sudah mulai datar, sedikit menunduk menunjukan kesedihan. Ia sekilas melirik Angel tang berbaring lemas dengan berbagai seleng yang menancap di tangan hidung bahkan mulutnya.


"Apa keadaan dia sudah parah dok?" tanya Devian yang sudah terlihat sangat panik, tanpa sadar air mata perlahan jatuh melihat wajah cantik istrinya itu terbaring lemas tak berdaya di dalam ruangan yang seakan kini semakin menyiksa tubuhnya.


"Saya ingin bicara dengan anda, tapi anda masuk ke ruangan saya!!" ucap dokter itu, membalikkan badannya, melangkahkan kakinya menuju ke ruangan dokter laki-laki itu yang tak jauh dari tempat dia berdiri sekarang.


Sampai di ruang dokter milik teman dari Devid, yang kini dia sedamg sibuk menghubungi Salsa yang memang dari tadi ia tinggal sendiri tanpa bicara apa-apa saat dia pergi menemani Devian.


-----


Dokter itu mulai duduk, dan memposisikan duduknya senyaman mungkin. Dia sedikit menunduk, menarik napasnya, dan mulai mengaluarkan suaranya perlahan.


"Dia sekarang masih sangat kristis. Jika dia sudah sadar, Kamu akan melepaskan selang yang menancap pada dirinya. Sekarang aku ingin bicara sesuatu hal!!"


"Cepat katakan, Dok! Gimana kondisi dia? Apa istri aku baik-baik saja?" ucap Devian menggebu, dia yang sudah sangat cemas, dan khawatir jadi satu, beranjak berdiri sedikit jongkok berbicara dengan nada tunggu.


"Duduklah!! Tenangkan diri kamu dulu!!" ucap dokter itu. Dan seketika Devian mencoba mengatur napasnya dan kembali duduk meski ia masih terlihat sangat cemas.


"Sebenarnya maaf jika saya berbicara seperti ini. Tapi anda terlambat membawa istri anda ke sini. Sekarang kanker dalam otaknya sudah semakin ganas. Bahkan sudah stadium akhir. Jadi..."

__ADS_1


"Apa katamu? Buat apa kamu jadi dokter kalau kamu gak bisa..."


"Devian!! Duduklah, tenang dan dengarkan apa yang dokter katakan." potong Devid cepat yang langsung melerai ucapan kasar Devian pada temanya itu. Mereka saling memotong oembicaraan, dan seketika Devian melirik ke belakang. Devid datang tanpa langsung mengetuk pintu, mendengar Devian berbicara keras, dia yang sudah berdiri di depan pintu langsung membukanya.


Puk!


Devid menepuk pundak Devian, menekannya untuk duduk kembali.


"Maafkan adikku!!" ucap Devid mencoba tersenyum pada dokter yang jadi temannya itu.


"Gak masalah!!" jawabnya ramah.


"Oya, gimana kondisinya?" tanya Devid.


"Aku harap suaminya memberikan kenangan indah. Di sata-saat terakhir dia. Hidupnya tinggal hitung hari saja. Jadi jangan maksa dia untuk pergi jauh lagi. Buatlah hidupnya lebih berarti saat dia menutup matanya." kata dokter itu memberikan sarannya.


"Apa dia sudah buruk?" tanya Devid, melanjutkan ucapan Devian.


"Dia sudah stadium akhir. Dan hidupnya hanya hitungan hari. Tapi sepertinya dia sebelum datang ke sini kondisinya sudah sangat parah." ucap dokter itu, membuat Devian mengusap wajahnya dari wajah ke sampai kepalanya penuh frustasi, ia ingin sekali menangis menjerit meluapkan setiap amarahnya. Ia begitu bodoh telah melakukan hal bodoh mengajak dia ke korea di saat dia sedang sakit parah seperti ini.


"Baik terima kasih!! Aku akan bawa adik aku keluar. Kamu tangani dia lebih baik. Agar dia bisa bertahan lebih lama."


"Saya akan usahakan!! Oya, aku akan bicara dengan kamu nanti. Kamu datanglah ke rumahku!!"

__ADS_1


"Siap!!" Devid beranjak dari duduknya, memegang ke dua bahu Devian, membawanya segera keluar dari ruangan dokter itu.


"Apa kamu yakin dokter itu benar-benar bisa menangani. Tolong!! Beri tahu dia selamatkan istriku!!" ucap Devian, seketika langsung menepis tangan Devid, ia menyandar ke tembok, perlahan tersungkur ke lantai.


"Sudahlah lebih baik sekarang kita masuk duku. Kita lihat kondisinya," ucap Devid, melangkahkan kakinya pergi, ia tahu jika Devian sangat terpukul, tapi ini baginya bukan saatnya untuk menyesali semuanya.


Devid menghentikan langkahnya, ia melirik ke belakang, tanpa menoleh ke belakang. "Ini bukan saatnya menyesali semuanya. Kamu harus lihat, dan beri semangat dia!!" ucap Devid, kemudian mulai melangkahkan kakinya lagi, pergi membiarkan adiknya untuk berpikir jernih dalam menghadapi kondisi yang menyedihkan.


-------


"Benar kata Devid, aku tidak bisa seperti ini terus. Jika memang ini adakah takdir. Aku akan melalui takdir ini, dan menyelesaikan tugas aku dengan sempurna." gumam Devian, yang mesih menundukkan kepalanya, dengan ke dua tangan mengepal di lantai, menyangga tubuhnya. Seakan ia sudah tidak perduli terus meneteskan air mata yang semakin banyak jatuh berceceran di lantai tepat di bawahnya.


Devian yang mulai sadar, ia beranjak berdiri. Ia tahu apa yang harus di lakukan, ini bukan saatnya untuk terpuruk sendiri.


"Aku harus membuat dia bahagia, meski di hari terakhirnya. Dam aku juga akan selalu mencintainya. Itu janji aku!!" Devian, mengepalkan tangannya, mengangkatnya sebahu. Ia mendongakkan kepalanya, dengan wajah merngernyit memberikan semangat untuk dirinya sendiri untuk menerima kenyataan yang ada.


"Apa yang kamu pikirkan sekarang!!" ucap Devian. "Kamu harus bisa membahagiakan dia. Dan membuat dia tersenyum, mengenang cinta ini sampai di ujung surga, nantikan diriku di sana, Istriku!!" kata Devian, menarik sudut bibirnya untuk teraenyum, di balik luka, dan kesedihan yang semakin mendalam.


Devian melangkahkan kakinya beranjak pergi, ia melangkahkan kakinya menuju ke ruangan istri tercintanya. Dengan langkah penuh ragu, dan kaki yang seakan berat untuk melangkah lebih jauh, melihat keadaan Angel yang te5baring lemas, membuat tubuhnya seakan ikut lemas, hatinya bagaikan di iris-iris.


Devian menundukkan kepalanya, langkahnya kakinya duduk tepat di samping ranjang Angel, dengan tangan memegang erat tangan istrinya ifu, menempelkan pada pipi kirinya "Angel!! kamu harus kuat, berjuanglah sebisa kami. Di sisa hidup kamu, aku ingin menghabiskan waktu bersamamu.. Aku ingin... Aku ingin sekali berada di sisimu selamanya. Tapi.. Kenapa takdir berkata lain? Aku gak rela kamu harus pergi... Aku gak rela Angel... Tapi, aku janji akan membuat kamu tersenyum di hari terakhir kamu.." air mata Devian pecah seketika mencium punggung tangan Angel yang sudah terasa dingin, dan lemas tanpa tulang.


"Tunggulah aku di surga... Selamanya aku akan mencintai kamu.. Selamanya aku akan selalu menjaga cinta ini untukmu.." lanjut Devian.

__ADS_1


------


Hampir setengah jam berlalu, Devian terus berbicara meluapkan perasaan dan emosi hatinya yang terpendam. Bahkan dia be4cerita tentang kisah cintanya dulu, mencoba membuat agar Angel sadar, namun tetap saja ia tak sanggup menahan air akta yang semakin tak bisa terbendung lagi di setiap perkataan dan cerita yang terucap dari bibirnya.


__ADS_2