
Setelah kejadian semalam di sofa. Tubuh mereka kini sudah berbaring di atas ranjang. Entah gimana cara mereka bisa berjalan masuk ke dalamnya.
Devian mengerjapkan matanya, pandangannya masih terlihat samar. Tubuhnya terasa sangat kaku, dengan kepala yang sangat berat. Dia melirik ke samping, melihat kepala seorang gadis berada diatas lengannya. Dengan memeluk erat tubuhnya. Di balut dengan selimut tebal. Merengkuh tubuhnya sangat erat
Devian mencoba menatap, siapa yang ada di depannya. Dia mencoba menarik tangannya, lalu beranjak duduk. Mengusap ke dua matanya, seketika pandangan itu tertuju pada Adelina yang masih berbaring. Membuat dia menggeram kesal, rahangnya mulai memegang dengan.
Apa yang semalam aku lakukan? Kenapa dia ada di sini? Bagaimana dia bisa tahu rumah ini. Gerutu Devian, beranjak berdiri. Dengan tubuh yang masih sempoyongan, ia meraih bajunya, memakainya dengan cepat.
Aku harus pergi, ini tidak boleh terjadi. Tidak boleh! Ini pasti kesalahan. Dan gak mungkin aku berbuat itu padanya.
"Devian!" Adelina meraih tangannya, dengan ke dua kata yang masih menutup, seakan dia sadar jika Devian akan pergi meninggalkannya sendiri.
Devian menarik napasnya dalam-dalam, mencoba menarik tangannya perlahan. Agar tidak mengganggu tidurnya. Dia berjalan mengendap-endap keluar dari rumah itu, lalu menutupinya rapat. Seakan dia merasa tidak pernah terjadi apa-apa dengannya.
Sekarang aku harus pulang ke rumah. Jika aku pergi meninggalkannya. Devid dan Salsa pasti kecewa, dan aku tidak mau jika orang tuaku menikahkan Adelia dengan Devid. Apalagi sampai menganggu keluarga mereka.
Devian masuk ke dalam mobil, yang memang di parkir di halaman belakang. Dia sengaja menyembunyikan mobilnya agar tidak ada yang tahu. Mobil itu melesat jauh meninggalkan rumah itu.
\=\=\=\=\=\=\=
Sedangkan Salsa, dia masih berbaring hanya menggunakan selimut tebal yang menutupi tubuhnya. Tanpa sadar Devian pergi meninggalkannya.
"Devian..." desah Adelina, yang perlahan membuka matanya, dia membaringkan tubuhnya ke kanan, meletakkan tangannya ke depan, wajahnya tertegun saat merasa tidak ada siapa-siapa di sampingnya. Adelina meraba di samping kanan dan kirinya. Tidak ada seorang pun di sampingnya.
"Devian..." sontak wanita itu beranjak duduk membuka ke dua matanya lebar. Tubuhnya seketika gemetar, mencengkeram erat selimutnya.
"Apa yang ingin kamu katakan? Apa kamu benar-benar ingin pergi dariku. Kenapa kamu tidak pernah mau denganku? Kenapa?" gerutu Adelina, menangis tersedu-sedu, dia teringat membayangkan wajah Devian di saat dia memberikan sebuah malam pertama untuknya. Wajah yang akan selalu di ingat dirinya.
Hiks... Hikss.. Hikss.
Devian, apa aku salah melajukan ini Aku istri kamu." gumam Adelina, dia terdiam kesekian detik.
Aku tidak boleh nangis. Aku harus pergi, aku yakin dia pasti akan pulang ke rumah. Mungkin tadi hanya menganggap aku orang lain.
Adelina beranjak berdiri, meraih baju yang berantakan di lantai, mamakainya secepat kilat. Dan segera beranjak pergi. Dia mencoba menelfon sopirnya untuk menjemput dia sekarang. Dan dirinya menunggu di luar rumah, dengan rambut yang masih berantakan.
Hingga lima belas menit dia menunggu. Sopir sudah berhenti tepat di rumah itu. Adelina langsung masuk. Dan segera memerintahk!n sopirnya langsung pulang.
-------------
__ADS_1
Sampai di rumah mewah miliknya, Dia berjalan masuk dengan langkah terburu-buru. Hanya ingin membuktikan jika Devian masih berada di dalam atau dia pergi menunggalkannya.
"Devian..." teriak Adelia menggema sepenjuru ruangan. Membuat para pelayan berlari keluar.
"Ada apa, non?" tanya salah satu pelayannya.
"Kamu lihat, tuan Devian?"
"Dia baru saja pulang. Dan sekarang mungkin di kamar, non."
"Makasih!" jawab datar Adelina, beranjak pergi melangkah cepat, menuju ke kamar Devian. Kamar Devian dan Adelia menang terpisah. Mereka tidak pernah tidur seranjang sama sekali.
Adelina menarik napasnya perlahan, mencoba memberanikan dirinya membuka pintu, di bukanya pintu kamar berwarna cokelat itu perlahan.
"Devian..." panggilnya, sontak membuat Devian yang baru saja selesai mandi, yang hanya berbalut handuk dari pinggang sampai lututnya keluar dari kamar mandi.
Adelina menatap dari ujung kepala hingga kakinya, seketika wanita cantik itu menelan ludahnya dalam-dalam. Entah kenapa dia merasa malu. Memalingkan pandangan matanya berlawanan arah, melihat tubuh sispek Adrian yang begitu menggodanya.
"Maaf!" ucap lirih Adelina.
"Ada apa?" tanya jutek Devian.
"Aku.. hanya ingin mencari kamu," jawab gugup Adelia.
"Ada apa?" tanya Devian. "Jika masalah tadi pagi. Jangan harap aku bisa menerimanya. Karena kamu sendiri yang mau itu. Dan memanfaatkan aku, kan." Devian melangkahkan kakinya mendekati Adelia, menarik tangannya kasar hingga jatuh dalam dekapan tubuh Devian tanpa helaian kain.
Deg!
Jantungnya berdetak cepat seketika. Wajahnya mulai pucat pasi merasakan detak jantung Devian berdetak cepat.
Apa ini? Aku menyentuhnya lagi. Tubuhnya, harum tubuhnya, benar-benar membuatku melayang.
Adelina memegang dada bidang Devian. Menarik napasnya dalam-dalam, mencoba melepaskan dirinya.
"Kamu mau kemana" tanya Devian, menarik tangannya. Hingga ke dua mata mereka saling tertuju, Hembusan napas mereka saling berpacu cepat.
"Bukanya ini yang kamu mau?" tanya Devian, menajamkan matanya.
"Bukan! Bukanya seperti itu."
__ADS_1
"Bukan apa? Bukanya kamu yang tidur denganku." geram Devian, menarik dagu Adelia sedikit mendongak ke atas.
Adelia hanya diam, meringis menahan rasa sakit akibat cengkeraman tangan Devian yang seakan hampir saja membunuhnya.
"Ingat, jangan harap aku akan mencintai kamu setelah apa yang aku lakukan. Perasaanku masih tetap sama. Aku tidak akan pernah suka dengan kamu. Sampai kapanpun! Camkan itu." tegas Devian, mendorong tubuh Adelia menjauh darinya.
Adelia hanya diam, dia menarik napasnya dalam-dalam, mencoba menahan air matanya yang terbendung.
"Maafkan aku!" ucap Adelina, yang tak kuasa menahan air matanya, dia berlari keluar terburu-buru meneteskan air matanya.
Devian menarik sudut bibirnya sinis. Melihat tubuh Adelia yang sudah berlari jauh darinya.
Jangan harap kamu bisa bersama denganmu. Dan hidup bahagia. Itu tidak akan pernah terjadi, Adelina.
\=\=\=\=\=\=
Adelina berlari menuruni anak tangga. Menangis tersedu-sedu. Mencoba menyeka air matanya yang sudah membasahi pipinya.
"Non, kenapa?" tanya salah satu pelayan, membuat langkahnya terhenti.
"Tidak, kenapa-napa." jawabnya, berlari kembali masuk ke dalam kamarnya.
Brakkk...
Suara pintu tertutup sangat keras membuat para pelayan begidik takut.
"Ada masalah apa lagi, non Adelina dengan tuan?" tanya pelayan itu pada teman sesama profesinya.
"Entahlah, sepertinya mereka bertengkar lagi,"
"Kasihan, Non Adelina. Dia menikah tapi seakan hidupnya benar-benar teriksa dengan pernikahan ini."
"Sudah jangan bicarakan dia. Kalau tuan dan non Adelina dengar. Pasti mereka marah."
"Ya, sudah ayo cepat kita kerja."
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Semua tahu, kalau aku tidak pernah di sukai oleh Devian. Aku hanyalah benalu baginya," gumam Adelina, menyandarkan punggungnya di pintu kamarnya. Menarik tubuhnya ke bawah hingga duduk lantai meratapi semua kehidupan yang tidak pernah sama sekali berpihak padanya.
__ADS_1