Menikah Muda Dengan CEO

Menikah Muda Dengan CEO
Rencana pulang


__ADS_3

"Alan?" gumam Salsa.


"Kenapa kamu di sini?" tanya Salsa heran.


"Aku mau kamu pulang denganku sekarang," ucap Lai-laki itu meraih tangan Salsa. Alan meraih tangan Salsa, menariknya dari hadapan Felix.


"Kamu mau bawa dia kemana?" tanya Felix, memegang tangan kiri Salsa, membuat langkah Alan terhenti.


Alan menoleh, menatap tajam wajah Felix. "Ini bukan urusan kamu," jelas tajam Alan.


Alan menatap wajah Salsa, memegang ke dia bahunya. "Aku gak tahu berbulan-bulan ini apa masalah kalian berdua. Dan entah kenapa kamu membuat kecewa Devian. Tapi sekarang aku bawa kamu pulang," jelas Alan dengan nada memohon padanya.


"Kenapa aku harus pulang?" tanya Salsa.


"Kalau kamu gak mau pulang, kamu akan menyesal seumur hidup kamu. Sekarang aku ingin kamu membatalkan pernikahan Devid,"


Salsa melebarkan matanya, "Menikah?"


"Iya, dia menikah dengan Adelina. Ke dua orang tua kita yang menjodohkan mereka. Tapi Devid yang masih belum bisa melupakanmu terpaksa harus menikahinya. Dia tidak mau terus mengingat kamu,"


"Tapi kenapa dia mau menikah dengannya?" ke dua mata Selsa mulai berkaca-kaca, merembak, dia memejamkan matanya, air mata perlahan menetes dari pipinya.


"Karena kamu terlalu egois. Kamu membiarkan dia pergi, tapi kamu tidak memikirkan perasaanmu dan dirinya," jelas Alan menggebu. "Aku mohon, pulanglah. Aku tidak ingin kamu terjebak dalam penyesalan nantinya. Pikirkan anak kamu, jangan terlalu egois pada diri kamu sendiri." jelas Alan tidak mau menyerah untuk mengingatkan Salsa. Meski dulu sempat ada rasa yang terselip di hatinya pada Salsa. Tapi itu dulu, semua sudah berlalu. Dan memulai hidup baru dnegan calon tunangannya kali ini.


Alan sedikit membungkukkan badanua, dengan tangan masih mencengkeram erat ke dua lengan Salsa. "Aku tidak mau kamu menyesal, hanya karena keegoisanmu. Pikirkan masa depan adik dan anak kamu," ucap Alan semakin kesal. Dan Salsa hanya menunduk lesu. Ke dua tangannya mencengkeram erat ujung bajunya.


Salsa mengangkat kepalanya. "


"Tapi apa dia masih mau memaafkanku?" tanya Salsa, ke dua matanya sudah tidak tertahankan lagi. Perlahan air mata menetes tak terbatas.


"Aku yakin, dia akan memaafkan kamu." jelas Alan.


"Aku ragu!"


"Kenapa ragu? Aku yakin dia sangat mencintai kamu. Dan kamu adalah harapan dia. Dan hanya kamu yang bisa membatalkan perjodohan itu. Lagi pula kamu dengannya belum cerai."

__ADS_1


Salsa menarik napasnya dalam-dalam, menahannya lalu mengeluarkan secara perlahan. "Baiklah, aku ikut dnegan kamu," ucap Salsa.


Alan menyeka air mata Salsa dengan jemari tangannya. Lalu memeluk erat tubuh orang yang sempat singgah hanya beberapa saat di hatinya itu. Meski dulu tidak terlihat sama sekali jika dia menaruh hati.


"Makasih!!" ucap Salsa, membalas pelukan Alan. Merasa sudah lega, Alan melepaskan pelukannya. Memegang tangan kanan Slasa menariknya pergi. Dia terdiam sejenak, saat merakan seseornag menarik tangan kiri Salsa.


"Jangan pergi," ucap Felix.


Alan memincibgkan matanya. Menatap laki-laki tidak tahu diri itu. "Kenapa? Memangnya kamu siapa melrang dia pergi," ucaonya dnegan nada penuh emosi, dia beranjak mendekat mendoring kasar tubuh Felix hingga terpentanl menjauh dari Slasa. Tangan Alan menarik tubuh Slasa bersembunyi di halik punggungnya.


"Salsa masuklah!!" ucapnya lirih.


"I-iya," katanya gugup. Salsa menatap sekilas ke arah Felix, dan langsung di balas olehnya dnegan tatapan berharap dia memilihnya.


Apa yang ada di pikiran laki-laki itu. Kenapa dia mengejarku? Dasar aneh. Salsa terus mengumpat dalam hatinya dan bergegas dengan cepat masuk ke dalam mobil Alan. Dan membiarkan Alan bersama dengan Felix, ke dua mata mereka saling beradu Menatap tajam, percikan api kemarahan menjalar di ke dua mata mereka menyambar-nyambar.


"Apa yang kamu inginkan?" tanya Alan merendah.


"Salsa, hanya diam. Dan kamu serahkan dia padaku," ucap Felix mendekati Alan. Tanpa rasa takut, dia mendekati Felix, aroma bau-au pertengkaran seakan ingin mulai. Ke dua tangan mereka mencengkeram kerah musuh.


"Aku tidak akan menyerah,"


"Apa kamu bodoh. Banyak wanita yang pasti suka dnegan kamu. Jauh lebih cantik dari Salsa. Dan kenapa kamu menganggu istri orang. Lebih baik pikirkan itu, jangan pernah ganggu istri orang jika kamu tidak ingin melihat balasannya nanti."


Felix terdiam, dia sepertinya mencoba mencerna apa yang di katakan Alan apdanha.


"Dan ingat, kamu tidak akan hidup bahagia di atas sakit hati dan penderitaan ornag lain. Hidupmu akan hampar tanpa kebahagiaan. Meski kamu sudha dapat yang kamu inginkan. Kamu akan merasa tidak mendapatkan apa-apa," ucap sok bijak Alan, ia me dorong keras tubuh Felix hingga jatuubtersungkur ke lantai. Dan Alan hanya menarik bibirnya dengan senyum tipis terukir di bibir tipisnya.


"Renungkan itu. Lagian kamu masih terlalu muda,"


Alan mengibaskan tangannya dan beranjak pergi. Masuk ke dalam mobilnya.


Salsa hanya diam memandang Alan. Dia benar-benar dewasa. Meski wataknya sangat kaku, tapi aku suka gayanya. Tidak pernah sekali memukul musuhnya. Dia selalu memberikan kata-kata bijak jika dia bisa.


"Alan, tapi Gio?" ucap Salsa yang baru saja teringat tentang adiknya yang sekarang masih sekolah.

__ADS_1


."Apa hari ini kuliah kamu kosong?" tanya Alan.


"Iya, dua hari aku libur kuliah."


"Baiklah!! Aku bawa kamu ke Jakarta lagi, tapi sekarang lebih baik kita ke sekolahan Gio." Alan melirik sekilas ke arah Felix, yang menatap sedu kepergian mereka.


"Apa kamu tahu sekolahannya?"


"Enggak! Kamu yang beri tahu aku,"


"Oke, baiklah!!" Salsa menghela napasnya. Dia merasa sangat gugup kali ini. Harus pergi lagi ke jakarta. Bahkan belum menyiapkan semuanya. Tapi dia pikir Alan membawanya cepat dia sudah mengurus semua penerbangannya


"Alan kenapa datang ke sini sendiri?" tanya Salsa melirik ke arah Alan.


"Karena aku percaya jika kamu pasti masih mencintai Devid, dan hanya aku yang percaya itu. Semua orang di sana sudah terlanjur kecewa dengan semua keputusan yang kamu ambil,"


"Apa dia bicara semuanya dnegan oma dan yang lainya,"


"Enggak! Devian yang cerita semuanya pada oma. Bahkan dia sangat-sangat kecewa," jelasnya melirim ke arah Salsa.


---------


Di sisi lain, rumah mewah berwana outih bersih itu. Devid duduk sendiri di ruang tamu. Entah apa yang dia tunggu di sana. Namun hatinya merasa terkejut untuk menunggu seseorang di ruang tamu. Dengan pandangan kosong, dia menyandarkan punggungnya.


Salsa? Maafkan aku! Maaf! Cinta kita roda yang berputar Entah kenapa tapi aku merasa di bawah. Dan sekarang aku benar-benar salah. Tidak secepatnya menikahi resmi kamu dulu. Dan sekarang kesalahan ke dua terbesar aku adalah menikahi orang yang sama sekali tidak aku suka. Jelas Devid dalam natinya, wajahnya semakin lesu dengan banyaknya beban pikiran menghantam kepalanya.


Ingin sekali keluar dari rasa penyesalan, dan kesedihan yang mendera. Tapi, dia tidak bisa berbuat apapun. Dalam pikirannya hanya ada satu cara melupakan semua yang terjadi memulai hidup baru. Dia pasrah dnegan semua takdir hidup yang di atur Tuhan padanya.


"Devid?" syara wanita yang sangat familiar di telinganya. Membuat Devid menoleh ceoay, dia menatap wajah cantik itu berjalan mendekatinya.


"Kenapa?" tanya Devid kembali menundukkan kepalanya.


"Aku hanya ingin mengingatkan padamu. Belom pernikahan kita. Aku harap kamu bisa merubah semua keputusan kamu. Aku butuh dukungan kamu," wanita itu berjalan mendekati Devid dengan wajah datarnya.


"Keputusanku sudah bulat. Lebih baik kamu sekarang perhilah!" pinta Devid nerendahkan suaranya.

__ADS_1


Kamu pasti akan menyesal. Menikah tanpa cinta adalah mimpi buruk bagi kita berdua," jelas wanita itu dan bergegas pergi meninggalkan Devid yang semula mengangkat kepalanya menatapnya sekilas. Lalu kembali menunduk saat melihat dia sudah jauh dari pandangan matanya.


__ADS_2