Menikah Muda Dengan CEO

Menikah Muda Dengan CEO
Oma?


__ADS_3

Tepat jam 11 malam.


Sampai di Melbourne. Devid barus teringat dengan orang tuanya. Sebelum pergi dia seakan lupa jika dirinya masih punya orang tua dan oma. Dan Salsa merasa juga sangat terluka dia belum sempat pamitan pada oma. Meski dia pulang belum bertemu omanya sama sekali.


"Sayang, kenapa kamu kemarin buru-buru ajak aku kembali ke sini." decak kesal Salsa. Menguntupkan bibirnya kesal. bagi dia oma sudah ia anggap seperti neneknya sendiri. Tanpa dia hatinya terasa hampa. Bahkan sudah hampir setengah tahun Salsa belum pernah melihatnya lagi.


"Maaf! Aku juga tahu, jika kamu berat dnegan oma. Tapi aku akan usahakan bawa oma ke sini. Agar kita bisa tinggal bersama."


Ke dua mata Salsa melebar seketika.


Ia menarik bola matanya ke kanan dan ke kiri. Menimang-nimang apa yang di katakan Devid padanya.


Gimana jadinya jika oma tinggal di rumah ini. Aku gak bisa bayangkan.. Rumah reot ini tidak pantas untuk David dan oma.


"Sa? Kenapa kamu diam?" tanya Devid, menepuk pundak istrinya.


Salsa menarik punggungnya duduk mendekat tepat di samping Devid. Memegang tangan Devid, memasang wajahnya memelas.


"Sayang, aku gak bisa jika oma tinggal di sini!" ucap Salsa pelan.


"Maksudku kamu apa?" Devid meninggikan suaranya, bangkit dari duduknya.


Salsa menarik tangan Devid, agar dia bisa duduk kembali. "Dengar dulu oenjelasanku," ucap Salsa.


"Baiklah!" Devid menarik napasnya dalam-dalam, mencoba untuk tetap sabar mendengarkan penjelasan istrinya.


"Bukanya aku tidak ingin oma di samping kita. Tapi kamu tahu sendiri." ke dua mata Salsa memutar. Devid di depannya mulai sadar saat matanya mengikuti kemanapun gerak-gerik Salsa.


"Apa soal rumah ini?" tanya Devid memastikan.


Salsa menguntupkan bibirnya, sembari mengangguk-anggukan kepalanya.


Devid menghela napasnya "Kalau soal rumah ini gampang. Aku akan membeli rumah ini. Dna dengan segera kita renovasi rumah ini."


"Beli rumah ini?" Salsa mendekat ke arah Devid, ke dua tangannya menyentuh dada bidang suaminya uang terasa terus menggoda.


"Iya?"


"Apa kamu gak mau?" tanya Devid. "Tapi, kalau memang kamu gak mau. Aku bisa belikan rumah lebih bagus dari ini,"

__ADS_1


"Enggak, aku gak mau kamu buang-buang uang, dari pada beli.rumah bagus. Membeli rumah ini, sepertinya lebih murah. Dan kita bisa renovasi kecil-kecilan."


Devid menimang-nimang apa yang di katakan Salsa. Tangan kanannya menyentuh dagu Salsa. Sembari mengangguk-anggukan kepalanya pelan.


"Oke, tapi kalau oma mau ke sini. Biar nanti dia bersama Alan atau Devian ke sini."


"Jangan Devian, biarkan dia bersama dengan Adelina."


Devid menarik tolong salsa mendekat ke arahnya, sembari berbisik pelan.


"Aku punya rencana sekarang? Gimana kalau kita pesan tiket honeymoon ke beberapa negara. Tapi untuk mereka berdua."


Alas mendorong tubuh Devid menjauh darinya. Mengusap telinganya yang terasa sakit. "Iya, tapi gak usah narik telingaku. Lagian di sini hanya ada kita bertiga. Kenapa bisik-bisik,"


"Agar lebih mesra," gumam Devid, menyentuh bibir Salsa. membuat mata Salsa menatap dalam ke arah Devid.


Jemari tangan Devid mengusap setiap lekuk bibir Salsa. Menghusapnya lembut penuh gairah.


"Aku belum sama sekali daoat jatah dari kamu." Devid mendekatkan bibirnya. Dengan cepat Salsa menutup bibir Devid dengan telapak tangannya.


"Apa kamu sudah gila, sayang. Kalau Gio melihat kita gimana? Nanti saja di kamar." gumam Salsa.


"Jangan," Salsa menarik tubuhnya sedikit ke belakang.


"Jangan, Devid sayang!"


"Aku lebih tua dari kamu, tapi kamu memanggil aku Devid?" decak kesal Devid, memegang pinggang Salsa. Yang hampir saja terjatuh ke bawah.


"Mas, atau kak? Atau tuan?"


"Kamu sudah tahu kenapa masih tanya lagi," ucap kesal Devid mencubit kesal hidung mungil Salsa.


"Sakit,"


"Salah sendiri, makanya jangan buat aku kesal terus." gumam Devid, Salsa beranjak duduk. Tak sadar ujung kakinya menyentuh kaki Devid. Bukannya menghindar laki-laki itu seakan punya kesempatan menggodanya. Menginjak keras kaki Salsa seketika membuat dia terjingkat, bibirnya terbentur bibi Devid. Benyaran keras itu membuat tubuh mereka terjatuh tepat di atas sofa. Dengan posisi Salsa di atasnya.


"Sekarang, ya." goda Devid tak taham, pandangan matanya tak lepas dari dada Salsa yang semakin hati terlihat semakin berisi. Tangannya dengan spontan menyentuh ke dua dadanya. Sedikit menekan membuat permainan.


"Hentikan, sayang!" ucap Salsa, bergeliat geli. Di atas tubuh Devid. Membuat laki-laki itu tak tahan lagi dengan gerakan istrinya itu.

__ADS_1


"Sudah, hentikan. Kalau sampai Gio datang melihat kita bahaya."


"Tapi kamu janji dulu, temani suami kamu nanti." ucap Devid mengingatkan.


"Iya, aku janji." ucap Salsa. Ia Mencoba beranjak dari atas tubuh Devid. Kaki kanannya baru menginjak ke lantai seketika terpeleset jatuh tepat dalam dekapan tubuh Devid. Ke dua bibir mereka saling bertemu kesekian kalinya.


"Apa ini cara kamu menggodaku?" tanya Devid, memegang ke dua lengan Salsa.


"Enggak! Aku tadi kepeleset,"


"Alasan!"


"Siapa juga yang alasan,"


"Kak, ada telfon dari oma." suara Gio. Membuat Devid dan Salsa beranjak dari tempatnya. Laku duduk tegap menatap ke arah Gio yang berlari ke arahnya.


"Baru saja di obolin, udah telfon duluan." ucap Salsa.


"Oma, ini kak Devid dan Salsa." ucap Gio mengibaskan tanganya ke depan ponselnya.


"Devid, oma tidak akan pernah mengampuni kamu. Kenapa kamu tega seperti meninggalkan oma sendiri?" pekik oma di balik ponselnya.


Wajah jika oma marah. Sudah hampir 1 bulan dia gak bertemu dengan oma sama sekali. Bahkan Salsa jga tidak bertemu dengannya. Oma yang selalu memikirkan hubungan mereka merasa kesal sendiri.


"Maaf, oma. Kemarin aku dan Salsa buru-buru jadi belum sempat berpamitan dnegan oma."


"Oma gak mau tahu! Sekarang juga oma ingin pergi ke sama."


"Oma, oma jangan. Bahaya kalau sekarang. Minggu depan atau kapan biar nanti oma bersama Devian.


Oma memutar matanya terlihat jelas wajah oma jika dia nampak sangat bingung. Di sisi lain ia segera ingin bertemu dengan cucunya. Tapi di sisi lain, ia teringat tentang Cucu satunya Devian, yang saat ini sedang patah hati. Dan bahkan belum menerima istrinya sepenuhnya.


"Oma, tahu sendiri Devian gimana dengan Adelina. Harusnya oma lebih peka dong. Dna buat dia bersatu." jelas Devid, mencoba memohon pada omanya.


"Baiklah! Akh akan buat dia menjadi lebih mengerti tentang mereka."


Oma tersenyum, lalu menatap terkahir Salsa dan Devid di balik telfon. Ia mematikan ponselnya. Dna mulai menjalakan aksinya. Benar kata Salsa dan Devid. Dia juga harus menyatukan mereka. Agar Adelina tetap menjadi tangguh yang sabar menghadapi cucu itu.


Oma kebiasaan setiap menghubungi kita. Tanpa bicara apa-apa langsung memastikan oanggilannya.

__ADS_1


"Gimama tadi jawaban oma?" tanya Salsa memastikan.


__ADS_2