Menikah Muda Dengan CEO

Menikah Muda Dengan CEO
Berkorban


__ADS_3

"Bawa uang itu, dan sekarang pergilah dari sini," ucap tegas Devid, mendorong tubuh laki-laki itu jauh darinya.


"Baiklah!! Dan untuk kamu wanita jelek, ingat Aku Felix Fransisco." Laki-laki itu menarik bibirnya tipis dan bergegas masuk ke dalam mobil.


Sedangkan Salsa hanya diam ke dua alisnya tertaut menatap bingung. "Laki-laki aneh, lagian siapa juga yang tanya namanya," desah Salsa, membalikkan badannya melangkahkan kakinya pergi tanpa menghiraukan Devid yang masih berdiri di depannya.


"Salsa!!" panggil Devid, membalikkan badannya cepat.


Langkah Salsa terhenti kesekian detik, ia menghela napasnya dan melanjutkan langkahnya lagi.


Devid serta berlari meraih pergelangan tangan Salsa. "Salsa tunggu!! Aku tahu, kamu marah denganku. Dan keluarga aku. Tapi aku mohon kembalilah!!" ucap Devid memohon.


"Maaf aku gak bisa!!" jawab Salsa menarik tangannya. Dan segera masuk ke dalam rumahnya, mengunci rapat pintu rumah kecil miliknya. Dia menyandarkan punggungnya di balik pintu. Ke dua matanya mulai berkaca-kaca. Dia menutup ke dua matanya, seakan menulikan ke dua telinganya juga, tanpa prerdulikan teriakan Devid yang semakin keras di depan.


Maafkan aku!! Maaf!! Kita gak bisa bersama lagi. Kita sudah tak ada ikatan! Kita tidak akan pernah lagi bersatu. Aku harap kamu tahu tentang itu. Gumam Salsa, menutup ke dua wajahnya yang sudah di basahi air mata yang tak hentinya bercucuran.


"Salsa keluarlah!!" teriak Devid gak putus asa.


Brak! Brak! Brak!


"Salsa buka pintunya, aku ingin bicara denganmu," Devid menggebrak pintu rumah Salsa menggebu.


"Pergilah!!" Salsa merendahkan suaranya, menahan isakan tangisan yang seakan membuatnya semakin sesak.


"Aku mohon padamu, pergilah!! Aku ingin sendiri di sini. Kau ingin hidup sendiri, tolong jangan pernah cari aku lagi," lanjutnya,


"Aku gak akan pergi!!"


"Jika kamu masih ingin melihatku, maka pergilah!!" bentak Salsa dengan nada meninggi.


"Tidak akan, keluarlah dulu. Aku ingin bicara dneganmu,"


"Hiks.. Hiks..." suara isakan tangisan semakin tak tertahankan, Salsa mencoba untuk mengatur emosinya agar lebih tenang.


"PERGILAH!!" teriak Salsa.


"Terserah kamu mau marah atau apapun, aku gak akan pernah pergi dari sini. Aku akan tetap di sini.. Menunggu sampai kamu keluar,"


Salsa mengusap air mata yang membasahi pipinya, dan bernajak berdiri, bergegas pergi, tanpa perdulikan Devid yang masih terus berdiri di depan rumahnya.


"Kak ada apa?" tanya Gio, berjalan menghampiri kakaknya.


"Udah sekarang kita tidur, udah malam," jawabnya mencoba untuk tersenyum di depan adiknya.

__ADS_1


"Salsa aku akan tetap menunggu kamu di sini. Sampai kamu mau keluar!!" teriak Devid terdengar menggelegar masuk ke dalam rumah kecil Salsa.


"Kak, bukanya itu suara ķak Devid?" tanya Gio menatap ke arah pintu.


"Bukan, udah kamu masuk saja. Cepat tidur sudah malam. Kalau mau mainan, kakak buatkan mie instan ya." ucap Salsa mendorong pelan tubuh Gio berjalan menjauh dari arah pintu.


"Salsa aku mohon keluarlah"


"Salsa!! Aku sayang sama kamu."


"Ku mohon keluarlah!!"


Suara Devid semakin keras, tak hentinya dia terus memohon padanya.


"Kak kasihan kak Devid!! Lebih baik suruh masuk saja kak,


"Gak mau!! Lebih baik kamu cepat pergi, masuk ke dalam kamar." ucap Salsa dengan nada meninggi.


"Tapi.."


"Pergi, Gio masuk ke kamar. Kau akan buatkan makanan," lanjutnya.


Gio berdengus kesal, sebelum dia pergi. Pandangan matanya tertuju pada pintu yang tak hentinya terus di gebrak yang menimbulkan suara bising tengah malam.


---------


"Kak, sudahlah. Kita besok bicara lagi dengan Salsa, lebih baik sekarang kita pergi dulu!!" Devian menepuk pundak Devid, dan seketika di tepis olehnya.


"Aku gak akan pergi dari sini;" ucap tegas Devid.


"Besok kita ke sini lagi," jelas Devian, ia tak berhenti terus membujuk kakaknya itu.


"Gak aku akan tetap di sini, sampai Salsa mau keluar" jelasnya tegas.


"Kita bisa pergi cari hotel dulu buat istirahat. Besok kita bisa bertemu dia lagi. Lagian kita sudah tahu rumahnya jadi gak sulit untuk bertemu," Devian tak hentinya terus membujuk kakaknya.


Devid masih tetap berdiri tegap menatap ke depan pintu. "Aku gak akan pergi!!" tegasnya lagi, dengan nada sedikit meninggi.


"Kamu diamlah!! Kalau kamu gak mau tunggu aku pergi cari hotel sendiri. Aku akan tetap di sini," lanjutnya bersikukuh.


"Kamu yakin?"


"Sangat yakin, jangan banyak tanya lagi."

__ADS_1


"Baiklah! Aku akan tunggu kamu di mobil," ucap Devian, ia tahu kakaknya itu keras kepala meski dia sudah membujuknya berkali-kali masih tetap sama. Tidak akan pernah mau pergi sebelum bertemu dengan Salsa.


Devian berjalan menepuk bahu Devid. "Semoga berhasil!!" katanya.


"Iya!!" hanya memberikan sebuah semangat dia bergegas pergi meninggalkan Devid sendiri.


Hampir beberapa jam menunggu Salsa tak kunjung keluar menemuinya. Tanpa menyerah sama sekali, baginya cinta butuh perjuangan. Meski dia harus berdiri seharian di depan rumahnya, Devid tak perduli asalkan orang yang dia cintai mau melihatnya Meski hanya seuntai kata keluar dari bibirnya.


Dengan tubuh gemetar, bibir yang terlihat memucat. Devid berdiri menatap pintu kayu rumah itu Berharap pintu itu perlahan terbuka.


"Salsa!! Aku akan tetap di sibuk, aku ingin kita menikah secara resmi." ucapnya lemas, seakan suaranya perlahan sudah mulai hilang.


Hingga menjelang pagi, sekujur tubuhnya semakin bergetar hebat. Dia hanya diam berduri, perlahan tubuhnya mengigil kedinginan. Raut wajah semakin pucat pasi, dan bibr yang tek hentinya bergetar, Devid memeluk dirinya sendiri.


"Salsa!! kaluarlah!" ucapnya lirih, bahkan mungkin suaranya tak akan terdrngar dari dalam rumahnya. Benar-benar sangat pelan.


-----


Sedangkan Salsa wanita cantik itu baru bangun dari tidurnya, suara lembut pelannya terdengar samar. Dia nenarik ke dua tanganya merenggangkan otot-ototnya yabgvterasa kaku sehabis tidur.


"Huaammm!!"


"Sudah pagi ternyata;" ucapnya, membuka selimut yang membungkus tubuhnya dan beranjak berdiri. Dia berjalan pelan dengan tangan mengusap ke dua matanya yang masih terasa lengket.


Devid?


Apa dia masih di luar? Atau dia sudah pergi? Sudahkah lupakan saja, lebih baik pergi saja dari pada harus mikirin dia.


Salsa menggelengkan kepalanya mencoba menghilangkan pikiran Devid dari dirinya. Namun hati dan pikirannya tak hentinya terus mengingat nama itu. Rasa cemas, khawatir terbesit dalam pikirannya.


Pikirannya teringat tentang Devid, sontak gadis itu langsung membuka pintu kamarnya cepat, berlari melihat di balik kaca Devid yang masih berdiri di depan pintu rumahnya dengan tubuh yang sudah tidak bisa berdiri tegap sempurna lagi.


"Dasar bodoh!! Kenapa kamu masih di sana, Devid!!" decaknya cemas.


Salsa berjalan cepat membuka pintu, dia terdiam berdiri di depan pintu. Seketika langsung di sambut dengan senyuman hangat dari Devid.


"Pa..Pagi!!" ucapnya terbata-bata.


"Kenapa kamu masih di sini, kenapa?" bentak Salsa, dan hanya di balas dnegan senyuman tipis.


"Aku akan tetap di sini sampai aku bisa melihatmu," jawab Devid, seketika tubuhnya hampir saja jatuh tengkulai, dengan sigap Salsa meraih lengan Devid, dan meletakkan di pundaknya.


"Kamu bodoh!! Gimana kalau kamu sakit, terus kalau kamu kenapa-napa aku pasti cemas.. Lagian kenapa kamu gak pergi saja. Aku juga sudah tidak mau bertemu denganmu lagi.. Kenapa kamu memaksa.. Kenapa Devid?" ucapnya menggebu dengan nada naik turun.

__ADS_1


Devid menyentuh wajah Salsa, mengusap pipinya lembut. "Karena kamu!! Aku sudah bodoh karenamu!! Dan aku gila juga karenamu. Jadi jangan buat aku bodoh dan gila lagi." ucapnya lemas, menarik bibirnya tipis membentuk sebuah senyuman. Dia mengusap lembut pipi Salsa, padangan mereka bertemu dalam sebuah perasaan yang sama.


__ADS_2