
Tia dan Hans saling menatap lalu saling menunduk. "Dek Tia, kamu bersama Wulan dan Ridho bertiga datang ke sini?" tanya Hans yang tahu ada sesuatu yang disembunyikan Tia.
"I-Iya, Kak, tadi mereka katanya menyusul. Mungkin mencari saya tidak ketemu akhirnya malah muter-muter." Tia memberi alasan.
"Oh begitu ya," balas Hans datar. Dia tidak ingin menambah risau hati Tia.
"Oh ya, Kak. Aku ke sana dulu ya. Tapi Aku mau ke toilet sebentar karena sudah tidak tahan nih," ucap Tia sembari memegang perutnya. Dia harus mencari alasan agar tidak bertemu dengan Wulan dan Ridho.
"Baiklah sampai jumpa lagi ya, dek," jawab Hans sembari mendorong ibunya menuju ruang periksa karena nama ibunya sudah dipanggil.
"Iya, Kak. Semoga ibu sehat selalu," sahut Tia lagi.
Mereka pun berpisah, Tia segera menuju ke Toilet khusus perempuan. Untungnya Ridho dan Wulan tidak melihat ke arah mereka tadi.
Tia segera masuk ke toilet untuk menghindari berpapasan dengan Wulan dan Ridho. Setelah dirasa Tia cukup aman, diapun keluar dari toilet dan langsung pulang ke rumah. Dengan menggunakan taksi yang dia pesan saat di toilet tadi Tia bergegas pulang dan bilang pada si supir untuk mampir ke pasar terlebih dahulu. Tia tidak ingin mama dan papanya curiga kalau dia sebenarnya sedang mengikuti Wulan dan Ridho.
__ADS_1
"Pak, mampir di pasar ya. Ada yang mau Saya beli untuk oleh-oleh cuman sebentar kok," perintah Tia pada supir taksi.
"Siap, Bu." jawab singkat Sopir Taksi yang lumayan tampan bak Jaemin versi Jawa.
Sang supir taksi dengan setia mengantar kemanapun Tia pergi. Dia merasa nyaman dengan Tia yang sesekali mengajaknya mengobrol saat perjalanan.
Tia memang gadis yang humble, mudah untuk akrab dengan siapa saja. Sifatnya yang polos membuat orang selalu memanfaatkannya.
"Assalamu'alaikum ... Ma, Pa ...." Tia masuk ke rumah dengan mengucapkan salam sebelumnya. Mama dan Papanya terlihat sedang duduk santai menonton televisi. Di rumah ini memang Ridho lah yang membiayai semua kebutuhan rumah, sedangkan orang tua Tia hanya bersantai sudah tidak bekerja lagi. Oleh karena itu semua selalu mendukung Ridho meskipun tahu Ridho yang salah maka Tia yang harus minta maaf.
"Wa'alaikumussalam ...." Kedua orang tua Tia menjawab dengan nada datar tanpa mau melihat ke arah Tia. Tia yang sudah terbiasa cuek dengan hal itu, dia sudah kebal dengan perlakuan kedua orang tuanya. Kadang lebih baik diam dan menuruti perintah keduanya agar tidak terjadi keributan.
__ADS_1
Dulu Tia menikah dengan Ridho pun juga atas paksaan kedua orang tuanya. Pertama kali Ridho datang mengutarakan niatnya untuk melamar Tia juga langsung disetujui oleh mama dan papa Tia. Walau keduanya tidak tahu menahu dengan seluk beluk keluarga Ridho, yang terpenting ada uang itu cukup bagi mereka.
"Assalamu'alaikum, Ma, Pa ...," ucap Ridho dan Wulan bersamaan. Seketika kedua orang tua Tia bangkit dari duduknya dan menyapa kedua orang yang baru datang.
"Wa'alaikumussalam ... Eh kalian sudah datang. Bagaimana, apa kata dokter?" tanya Bu Meri sambil menghampiri Wulan dan Ridho.
"Mm ... Wulan baik-baik saja kok Ma, tapi ada yang ingin kami berdua sampaikan pada Mama dan Papa juga Tia," jawab Wulan dengan senyuman dan mata yang menunjuk ke arah Tia.
"Memang ada apa? Baiklah kalian duduk dulu. Tiaaa ... ke sini!" teriak Meri memanggil Tia yang sedang menata buah di kulkas. Tia yang mendengar panggilan ibunya segera datang menghampiri.
"Ada apa, Ma?" tanya Tia heran. Tia memandang ke arah Wulan dan Ridho yang duduk berdempetan dengan tangan Wulan bergelayut manja di lengan Ridho.
"Mbak Wulan dan Mas Ridho, ada apa ini?" Tia pura-pura tidak tahu dan terkejut dengan perbuatan Wulan barusan. Dalam hati Tia dia sudah jijik dan malah ingin segera mengakhiri pernikahannya dengan Ridho. Akan tetapi dia tahan agar punya kesempatan untuk melihat sejauh mana Wulan tega pada adiknya sendiri.
__ADS_1
Terus dukung author dengan kirim komentar, like dan gift. Biar Author bersemangat