
Hans dan Tia menghentikan debat mereka dan bersamaan menoleh ke arah Aris. "Apa solusinya, Aris?!" tanya Hans dan Tia serempak. Aris melongo melihat keduanya yang begitu kompak dalam mencari solusi untuk rumah mereka.
"Mas ... Mbak ... Kita bisa kok mengadakan rukyah untuk rumah yang mbak Tia dan mas Hans tempati saat ini. Kita bisa memanggil ustadz yang berkompeten untuk melakukan rukyah di rumah kita. Pasti akan ketemu buhul sihir yang sengaja ditanam seseorang untuk mengganggu mbak Tia," ucap Aris menjelaskan solusi yang tepat untuk rumah Tia dan Hans.
"Baiklah, kita akan mengikuti saranmu!" tegas Hans menyetujui usulan dari Aris. Hans berharap jangan sampai rumah yang menjadi kenang-kenangan mereka dimiliki oleh orang lain.
"Permisi, Tuan," ucap pelayan kafe yang datang membawa beberapa makanan yang dipesan oleh Tia, Hans dan Aris.
"Terima kasih, Mbak." Aris mengucapkan terima kasih kepada pelayan wanita yang memakai jilbab segitiga berwarna putih itu.
Pelayan itu pun mengangguk dan meninggalkan meja Tia. Sebelum memulai memakan makanan yang terhidang di meja, mereka berdoa dengan Aris yang memimpin doanya.
Saat Aris melantunkan doa dengan khidmat, tubuh Tia merasakan panas. Tanpa menunggu Aris selesai membaca do'a, Tia menyantap hidangan yang ada di atas meja itu.
Setelah selesai berdoa Aris dan Hans dibikin terkejut melihat Tia yang makan seperti orang seharian tidak makan. Begitu lahap hingga belepotan di mulut.
"Tia, makan pelan-pelan. Lihat belepotan sekali ini," ucap Hans sembari membersihkan mulut Tia dengan tisu. Bagi siapapun yang melihat, pasti akan beranggapan bahwa mereka adalah pasangan romantis. Aris pun tersenyum melihat perlakuan manis kakak iparnya pada kakak perempuannya. Aris yakin jika Hans benar-benar mencintai Tia dengan tulus.
"Semoga ujian cinta kalian kali ini akan cepat berakhir. Tidak ada lagi yang akan mengusik kebahagiaan kalian," ucap Aris berdoa dalam hati.
Setelah habis satu porsi steak ayam, Tia melahap spaghetti. Hans yang melihatnya menjadi kenyang sendiri, padahal dia belum menyentuh makanan yang ia pesan tadi.
__ADS_1
"Lho, Mas. Kok belum dimakan?" tanya Tia sambil memakan spaghetti miliknya.
"Melihatmu makan seperti itu membuatku kenyang, Sayang. Aku nanti makan juga kok, cuman mau bersihin makanan yang nyangkut di pipimu saja," jawab Hans tersenyum. Melihat wanita yang dinikahinya hampir dua belas tahun itu makan dengan begitu enaknya, membuat Hans lupa akan rasa laparnya.
"Iya, Mas Hans. Sedari tadi Aris lihat mas hanya bersihin pipi mbak Tia aja. Kapan makannya?" timpal Aris yang kali ini mendukung kakak perempuannya.
"Baiklah, aku makan nih. Bair cepat kita ke masjidnya. Tujuan kita berikutnya, mengingat hari sudah semakin malam." Hans mulai menyantap makanan yang ia pesan.
"Huaargh!"
Tia bersendawa karena perutnya terlalu kenyang. Hans dan Aris hanya menggelengkan kepala, tidak heran karena tahu bagaimana Tia menghabiskan makanannya.
Mobil yang membawa ketiganya pergi meninggalkan kafe itu. Perjalanan selanjutnya yaitu masjid. Hans pun bertanya pada sang adik ipar, masjid mana yang akan menjadi tujuan mereka.
"Ke Masjid Agung kota, letaknya tidak jauh dari sini. Paling kisaran 15 menit kita akan sampai. Mas Hans lewat jalan pintas saja, lebih cepat dan tidak terjebak macet. Dari lampu merah itu nanti ke kanan dan sekitar 500 meter belok kiri. Setelah itu akan ada plang penunjuk jalan masjid kota," jawab Aris menerangkan arah yang harus Hans tempuh.
"Baiklah, mas akan mengikuti semua arahan mu," jawab Hans membelokkan mobilnya ke arah kanan setelah lampu lalu lintas menyala hijau.
Suasana malam yang tenang membuat Tia mengantuk. Dia pun tertidur di dalam mobil.
"Aris, mbak mu tidur. Bagaimana ini?" tanya Hans pada Aris, sebentar lagi mereka akan sampai.
__ADS_1
"Apa yang aku kata, Mas. Mbak Tia jika di luar rumah akan bisa makan enak dan tidur kan? Jelas sekali rumah itu ada buhul ilmu hitam yang harus segera ditemukan," ungkap Aris pada Hans. Dia meyakinkan Hans bahwa apa yang dikatakannya adalah sebuah kebenaran. Memang Tia dalam pengaruh seseorang.
"Apa benar seperti itu ya, Ris. Mas gak terlalu percaya dengan hal semacam itu. Tapi melihat apa yang dialami oleh Tia, mas jadi berfikir ulang bahwa apa yang kau katakan itu benar adanya. Mas baru percaya jika ilmu hitam seperti teluh, guna-guna, santet dan semacamnya itu memang ada," sahut Hans sambil terus mengemudi dengan hati-hati. Dia tidak ingin membangunkan istrinya dengan rem mendadak.
"Mas, memang kalau di nalar, Zaman sekarang percaya pada hal yang mistis itu sama aja dengan orang kuno tidak maju. Akan tetapi yang namanya ilmu hitam itu tetap ada dan akan selalu ada jika penganutnya masih bertebaran di muka bumi ini. Misal mas berguru pada seorang dukun maka mas pun akan bisa memiliki ilmu yang sama dengan dukun itu," tukas Aris.
Hans mengangguk paham. Dia merasa selama ini pemikirannya salah. Di dunia ini yang namanya ilmu hitam atau sihir akan selalu ada. Seperti amoeba yang bisa membelah diri. Jika seseorang berguru pada seorang kyai dengan ilmu hitam maka orang itu pun akan bisa memiliki ilmu yang sama dan akan mengajarkan lagi pada orang lain.
"Seperti itu ya, tapi kira-kira siapa yang memiliki niat jahat pada Tia ya, menurut mu siapa, Ris?" tanya Hans yang penasaran siapa yang telah tega membuat istrinya menderita.
Aris menyugar rambutnya sembari berpikir. "Apa mungkin mbak Tia punya musuh, Mas? Orang yang pernah merasa dijahatin sama mbak Tia," tanya Aris mencoba membuat Hans mengingat siapa yang memiliki dendam pada Tia.
"Sepertinya Tia jarang punya musuh, mbak mu itu orangnya baik dan tidak suka mencampuri urusan orang lain. Musuhnya hanya Wulan saja, tapi sekarang Wulan sudah meninggal, dan dia sebelum meninggal hanya di penjara saja. Mana bisa ia menemui dukun?" jawab Hans yang ragu jika Wulan dalang di balik sakitnya Tia.
"Benar juga sih, Mas. Kita harus bisa menemukan buhul itu, jika buhul sihir itu ketemu maka orang yang sudah berbuat jahat akan muncul dengan sendirinya. Mencari buhul yang ia tanam masih ada atau tidak," ucap Aris.
"Kalau bisa seperti itu, maka kerja kita akan lebih mudah. Dengan cepat kita bisa menangkap orang yang berniat jahat dengan Tia."Hans berkata dengan yakin bahwa orang yang sudah berbuat jahat pada istrinya akan segera ketemu.
"Benar ini masjidnya, Ris?" tanya Hans yang berhenti di depan sebuah masjid besar.
"Benar, Mas. Kita akan bertemu dengan teman Aris yang pandai dalam rukyah," jawab Aris.
__ADS_1
Hans pun membawa mobilnya masuk ke halaman parkir masjid.