Menikahi Mantan Suami Pelakor

Menikahi Mantan Suami Pelakor
Bab 80


__ADS_3

Bab 80


Wulan merasa selama menjadi istri Ridho, tidak pernah merasakan puas kebutuhan batinnya. Untuk itu Wulan mencari kepuasan dari sosok yang selama ini dia sewa.



"Bagaimana, Tante? Apakah permainanku kali ini cukup memuaskan dirimu?" tanya sosok pemuda yang tengah menghisap sebatang rokok setelah melakukan tugasnya.



"Randy, kau memang luar biasa. Aku sangat puas dengan permainan mu. Tapi maaf, untuk malam ini tidak ada yang tips untukmu,"ucap Wulan dengan wajah yang memelas.



"Tante sudah jatuh miskin ya? Kasihan sekali ... punya suami sudah lemah terongnya, eh ... miskin lagi! Kasihan sekali kau, Tan?"



Wulan terhenyak, dirinya yang dulu selalu disanjung oleh Randy sang penjaja kepuasan para tante-tante, kini dihina bahkan direndahkan oleh Randy.



"Ran ... Kau tidak boleh begitu, aku sudah rela hamil anakmu, walau akhirnya anak itu gugur. Jadi, aku harap kau tidak perlu lagi menghina diriku sebagai orang miskin. Asal kau tahu, nanti di acara pesta pernikahan klien suamiku, aku akan mencari mangsa untuk menggantikan suami ku yang sudah kere itu!" ucap Wulan mengutarakan rencananya pada Randy.



"Waw, Tante mau alih profesi? Dari seorang ibu rumah tangga menjadi simpanan para om- om kaya?" tanya Randy. Randy bukannya bertanya melainkan mencibir Wulan yang ingin menjadi wanita simpanan para pengusaha sukses.



"Diam kau, Ran! Lebih baik aku pulang, ini bayaranmu! Dasar buaya!" sumpah serapah keluar dari bibir Wulan. Dia sangat kesal, ternyata tanpa uang hidupnya menjadi menderita. Selalu dalam cacian orang lain. Bahkan seorang lelaki bayaran saja berani menghinanya. Gegas Wulan memakai bajunya lalu meninggalkan kontrakan yang dia sewa untuk berkencan dengan Randy.



"Hahaha ... Terimakasih, Tante. Nanti kalau tante mendapatkan om-om terong kecil, hubungi Randy ya, Tan ... Hahaha ...." Randy tertawa mengejek Wulan.


__ADS_1


Wulan pun pergi dengan menahan semua kekesalan hatinya. Berharap dengan bertemu Randy dia bisa sejenak melupakan segala beban dalam hatinya. Namun, semuanya jauh dari ekspektasi. Hatinya bertambah kesal.



Wulan berjalan dengan menghentakkan kakinya. Tidak menyangka jika lelaki sewaannya akan berani sekali menghinanya.



"Pokoknya, nanti di acara pesta pernikahan klien mas Ridho. Aku akan mencari pebisnis muda yang bisa aku manfaatkan dan kuras


habis isinya!" ucap Wulan di dalam hati sembari mengeram kesal.


Wulan pun kembali ke rumahnya dengan menggunakan taksi online. Hari ini benar-benar adalah hari sialnya Wulan. Di mana-mana selalu mendapat ejekan dan hinaan.



"Sial! Argh ...! Mengapa hari ini nasibku sungguh sial sekali! Dihina di butik, uang tabungan hilang, kini dihina Randy!! Sungguh menyebalkan ...!" Wulan menggeram kesal di dalam mobil taksi online nya.




" Mm ...."



Wulan menatap ke arah sang sopir dari arah spion. Ternyata sopir itu sangat ganteng. Hati Wulan berdegup kencang. Dia menatap supir itu dari ujung rambut hingga pinggang saja.



"Ya sudah, Nyonya. Kalau Anda tidak mau cerita," lanjut sang supir yang merasa kesal pada Wulan. Wulan tidak menjawab, bahkan terkesan cuek.



Suasana hening pun tercipta antara Wulan dengan sang sopir taksi on-line. Malam yang semakin larut bahkan akan menjelang pagi itu terasa lama oleh Wulan. Mobil taksi on-line pun sampai juga di rumah Ridho.


__ADS_1


Brak!



Wulan membanting pintu mobil dengan kasar. Sang supir pun hanya bisa mengusap dada.



"Dasar ODGJ ditanya tidak jawab, eh nutup pintu ni mobil kasar!" gerutu sang sopir taksi on-line. Taksi itu pun akhirnya pergi meninggalkan rumah Ridho.



Braak ....


Wulan masuk ke rumah dengan kasar.


"Mbak ... Mbak Wulan. Aris minta uang sedikit untuk beli pampers mama," pinta Aris terpaksa karena pampers sang ibu habis dan dirinya belum mendapatkan uang dari Tia.



Wulan menghentikan langkahnya seketika saat mendengar sang adik memanggil namanya.



"Apa?!! Kau minta Pampers?" tanya pada Wulan.



"I ... Iya, Mbak. Pampers mama sudah penuh dan yang kosong sudah habis," ulang Aris pada sang kakak. Semua kebaikan yang telah sang ibu perbuat ternyata tidak ada yang membekas di hati Wulan.



"Duit mbak sudah habis, kau pergi minta pada Tia! atau tidak biarkan ibu ngompol kau tinggal pel, beres bukan! sudah aku mau istirahat! Dasar semua benalu di rumah ini!" teriak Wulan lalu melanjutkan langkahnya menuju ke kamar.



Aris terdiam dan berdiri mematung melihat sikap sang kakak yang sungguh keterlaluan. Dia tidak menyangka anak yang dulu paling dimanja dan selalu dipuji sang mama ternyata sama sekali tidak perduli dengan nasib mamanya. Sungguh miris sekali, kasih sayang dibalas dengan akhlak yang tidak terpuji dari sang anak.

__ADS_1


__ADS_2