Menikahi Mantan Suami Pelakor

Menikahi Mantan Suami Pelakor
Bab. 159


__ADS_3

Hans bergegas menuju ke kamar bayi, kedua bayi kembar Hans menangis bersama. Satu menangis pasti yang lain tidak lama kemudian akan menangis.



"Silakan masuk, Tuan," ucap sang suster mempersilakan masuk Hans.



"Terima kasih, Sus." Hans melangkah masuk ke dalam kamar bayi. Seketika dua bayi berbeda jenis kelamin itu terdiam. Hans terkejut, baru satu langkah dirinya mendekat ke box bayi anak-anaknya, kedua bayi itu terdiam.



"Masyaallah, bayi-bayi itu terdiam hanya mendengar suara sang ayah!" puji salah satu perawat yang berjaga di ruang bayi. Mereka terheran, sedari tadi kedua bayi itu menangis dan tidak ada satu perawat penjaga pun yang berhasil mendiamkan mereka.



Hans tersenyum melihat kedua anaknya yang diam dan seakan tahu jika sang ayah yang memberikan rasa aman dan ketenangan sudah ada di dekat mereka.



"Sus, boleh saya gendong anak saya? Saya ingin melafalkan adzan di telinga mereka," ujar Hans yang sangat bahagia melihat kedua anaknya.



"Silakan, Tuan. Satu persatu," ucap sang suster ramah. Dengan hati-hati sang suster mengangkat bayi laki-laki Hans.



Bayi mungil dengan bibir merah dan kulit kemerahan itu seakan tahu jika yang menggendong adalah sang ayah. Hans melafalkan adzan di telinga sang putra. Setelah selesai, Hans berganti melafalkan Adzan di telinga sang putri.



Hans mengecup pipi sang putri yang terlihat Chubby dan menggemaskan. Kebahagiaan Hans tidak lama, sang anak lelaki tiba- tiba menangis lagi.



"Oeek ... Oeek ...."



Hans meletakkan bayi perempuannya dan mengangkat bayi lelakinya. Namun, bayi lelaki itu tidak mau berhenti menangis. Hans berusaha menenangkannya akan tetapi malah semakin menangis.



"Nak, kamu kenapa? Papa di sini, Nak. Jangan menangis ... Papa jadi ikut sedih," ujar Hans sembari mendiamkan bayi laki-lakinya.



Hans kebingungan, ini adalah pengalaman pertama kali menggendong dan menenangkan bayi yang sedang menangis.



"Sus ... Bagaimana ini?"



Para suster membantu menggendong dan menenangkan bayi tersebut. Akan tetapi, bayi itu tidak berhenti menangis.



"Sus, mungkin anak -anak rindu dengan ibunya. Apakah boleh saya bawa anak-anak untuk melihat ibunya?" tanya Hans dengan tatapan memohon.



Dua suster yang berjaga itu saling memandang. Mereka tidak berani memutuskan sebelum ijin pada dokter jaga.


__ADS_1


"Maaf, Tuan. Saya harus minta ijin dulu pada dokter. Nanti jika sang dokter mengijinkan maka saya akan bantu Anda membawa mereka ke ruang di mana nyonya di rawat.



Hans mengerti jika semua harus dalam pengawasan sang dokter.



"Baiklah, Sus. Saya akan menunggu di sini," jawab Hans menghela napas.



Salah satu suster itu meninggalkan ruang bayi dan berusaha untuk konsultasi pada sang dokter jaga.



Sepuluh menit pun berlalu, suster itu datang dengan membawa box dorong untuk sang bayi.



"Mari, Tuan. Dokter mengijinkan, namun dibatasi jamnya. Tidak boleh lebih dari sepuluh menit.



Hans tersenyum, walau hanya sepuluh menit waktu yang diberikan, itu sudah cukup untuknya.



"Terima kasih, Sus. Saya akan membawa keduanya agar bisa dekat dengan ibu mereka," ucap Hans dengan wajah yang penuh kelegaan.



Lelaki yang baru saja menyandang status sebagai seorang ayah itu terlihat bahagia. Suster jaga pun membantu Hans untuk membawa kedua bayi itu mendekat pada sang ibu.



Gunawan tersenyum haru melihat kedua cucu kembarnya. Tidak mengira jika ia akan dikarunia dua cucu sekaligus.


"Alhamdulillah, Ya Allah. Engkau karunia kan hamba dua cucu yang sangat cantik dan tampan. Semoga kelak menjadi anak yang Sholih dan Sholihah." Gunawan menggendong salah satu bayi Hans sembari mendoakan dan mengecup keningnya.



Gunawan meneteskan air mata karena sangat bahagia, di usianya dia masih bisa melihat cucu-cucunya.



"Tia, lihatlah ... Anak -anakmu begitu cantik dan tampan. Apakah kau tidak ingin bangun dan memeluk mereka?" ucap Gunawan dengan lembut dan penuh harap agar Tia mau membuka matanya.



Hans membawa sang putra mendekat ke arah ibunya. Bayi laki-laki yang menggemaskan itu menangis seakan meminta sang ibu untuk bangun dan menyusuinya.



"Oeek ... Oeek ...."



Tangis sang bayi menyayat hati siapapun yang mendengarnya. Hans mendekatkan sang bayi ke badan sang ibu. Bayi itu seketika terdiam. Namun, bayi perempuan ganti menangis. Seakan bilang pada sang ayah untuk meletakkan dirinya ikut bersama sang kakak yaitu di samping sang ibu.



"Oeek ... Oeek!"



"Sepertinya bayi perempuan cantik ini juga ingin berada di dekat ibunya. Tia, ayo bangun, Nak!" Gunawan meletakkan bayi perempuannya yang ia gendong itu di samping Tia. Hal yang aneh pun terjadi, semua bayi terdiam sambil tangannya bergerak meraih wajah sang ibu.

__ADS_1



Lima menit kemudian ....



Kedua bayi itu menangis bersamaan seakan memanggil sang ibu untuk bangun. Jemari Tia bergerak, detak jantungnya meningkat. Alat napas yang terpasang menunjukkan sedang terhirup dalam.



"Tia ...?! Susteer ... Dokter ...! Istri saya sadar, Sus!" teriak Hans dengan girang. Suster dan dokter pun mendekat. Hans dan Gunawan membantu mengangkat sang bayi dari samping Tia.



"Pasien tersadar, Alhamdulillah," ucap sang dokter jaga.



"Maas ... Di mana anak kita, Mas?" tanya Tia membuka matanya.



Hans tersenyum haru, air matanya tidak dapat ia bendung lagi. Perasaan lega menyelimuti hatinya. Sang istri tercinta akhirnya sadar juga.



"Alhamdulillah, Sayang. Kau sudah sadar, lihatlah kau memiliki dua bayi yang sangat lucu," jawab Hans sembari mendekatkan bayi mereka pada Tia.



"Dia anak laki-laki ku kan?" tanya Tia menunjuk ke arah bayi yang digendong Hans.



"Benar, Sayang. Dia adalah anak laki-laki kita." Hans mendekatkan bayi laki-laki itu di lengan Tia. Tia sangat bahagia, diusapnya wajah sang bayi dengan tangan kanannya.



Setelah mengecup bayi laki-lakinya, Tia beralih ke bayi perempuannya. Tia mengusap wajah sang putri lalu mengecup keningnya.



Hans sangat bahagia, istrinya telah sadar kembali dan bisa berkumpul lagi bersama anak -anaknya.



"Maaf, Tuan dan Nyonya. Waktunya bayi-bayi ini untuk istirahat. Besok akan kami bawa kembali ke bangsal perawatan nyonya," ucap salah satu suster yang memperingatkan Hans dan Tia.



"Baiklah, Sus. Kami serahkan putra dan putri kami. Tolong jaga mereka dengan baik," ucap Hans menyerahkan kedua anaknya pada suster jaga.



Suster itu pun pergi membawa kedua anak Hans kembali keruang perawatan bayi. Kedua bayi itu sudah tenang kembali bahkan mereka tidur berdampingan.



"Tia ... Sekarang mas akan memanggilmu mama, agar anak kita juga memanggilmu dengan mama. Sekarang kita akan menjadi orang tua untuk bayi kembar cantik dan tampan itu. Apakah kau masih merasakan sakit?" tanya Hans pada sang istri.



"Tidak, Mas. Eh ... Papa, mama sudah tidak merasakan sakit lagi setelah bertemu dengan anak-anak kita," jawab Tia dengan senyum manisnya.



Hans bernapas lega. Tia pun akhirnya dipindah ke bangsal perawatan kelas VIP. Gunawan mengikuti mereka dari belakang. Sungguh Gunawan merasa haru mengingat semua yang terjadi pada hari ini. Sekarang waktunya pemulihan untuk Tia.

__ADS_1


__ADS_2