
Indahnya siang menjelang sore, tidaklah seindah suasana hening yang tercipta di dalam mobil Hans. Mobil mewah dengan logo kuda hitam itu melaju tanpa suara.
"Tia ... Sekali lagi aku minta maaf, bukan bermaksud untuk membohongimu. Semua aku lakukan hanyalah untuk membuktikan pada diriku sendiri, bahwa engkau adalah wanita yang berbeda dengan wanita yang hanya mencintai lelaki karena harta. Maafkan aku, Tia. Aku berjanji tidak akan ada lagi yang akan aku sembunyikan. Semua kesuksesan ini nyata, dan aku tidak sedang bangkrut seperti yang dikatakan oleh kakakmu itu," ucap Hans menatap sendu pada Tia.
Mata Tia terpejam untuk sekian detik lamanya. Dia sedang berdamai dengan dirinya sendiri. Semua orang pasti punya khilaf. Khilaf yang bisa dimaafkan dan tidak bisa dimaafkan. Semua berhak untuk mendapatkan kesempatan untuk mendapatkan maaf.
Tia membuka matanya lalu mengambil napas dalam -dalam dan mengembuskannya pelan.
"Kak, kau tahu aku. Sedari kecil aku tidak mendapatkan kasih sayang dan keadilan. Dewasa pun aku dikhianati dan ditikam dari belakang. Apa yang bisa aku andalkan untuk menguatkan diriku sendiri selain rasa percaya dari orang terdekatku, Kak?" Tia menitikkan air mata.
__ADS_1
Seketika Hans pun merasa bersalah atas semua yang telah terjadi. Hanya karena untuk mendapatkan wanita yang bisa dipercaya, Hans telah melukai sosok yang rapuh namun belajar kuat.
"Tia, aku mohon, maafkan aku. Beri aku kesempatan untuk membuktikan bahwa aku adalah sosok yang paling bisa kamu percaya. Aku berjanji mulai hari ini tidak akan ada lagi yang aku sembunyikan darimu. Aku mohon, Tia. Jangan hilangkan rasa percayamu kepadaku," ucap Hans sembari menggenggam erat jemari tangan Tia.
"Baiklah, Kak. Aku akan memberikan satu kesempatan lagi untuk kakak. Jika kesempatan itu tidak kakak gunakan dengan baik, maka aku akan pergi selamanya dari hidup kakak. Karena hatiku pasti tidak akan bisa menerima lagi yang namanya pengkhianatan," ucap Tia dengan bibir yang bergetar.
Hans memeluk tubuh mungil Tia, tubuh yang semakin kurus karena banyaknya hal yang harus dipikirkan dan diselesaikan.
__ADS_1
"Tidak, Tia. Jangan pernah pergi dari hidupku. Aku juga sama sepertimu yang sedang menyembuhkan diri dari pengkhianatan. Aku yakin kita berdua akan bisa saling menyembuhkan. Tidak akan ada lagi yang namanya pengkhianatan, jika kita saling menjaga kepercayaan dalam diri kita untuk satu sama lain. Iya 'kan, Tia?" Hans menatap wajah Tia dengan mata yang masih sembab karena air mata.
Mata Tia menatap tajam ke arah mata Hans, mencari titik kebohongan di mata hitam milik Hans.
"Baiklah, Kak. Mulai saat ini kita akan saling percaya, tidak ada lagi pengkhianatan dan kebohongan. Rumah tangga yang akan kita bangun ini aku harap tidak akan goyah karena adanya pengkhianatan. Kita sama-sama korban dari keegoisan seseorang. Jangan sampai untuk kedua kalinya kita menjadi korban lagi. Aku mohon, Kak. Sebelum terlanjur, masih ada waktu, Tia mohon pikirkan sekali lagi," ucap Tia.
Kepala Hans menggeleng ke kanan dan ke kiri, kemudian kembali menggenggam tangan Tia.
__ADS_1
"Tidak, Tia. Aku tidak salah memilih, dan aku berjanji tidak akan mau dan tidak akan pernah menyakiti hatimu. Kita tetap akan menikah hari ini juga, jika tidak denganmu maka lebih baik aku menduda seumur hidupku!" tegas Hans. Tia membulatkan matanya mendengar perkataan Hans yang menurutnya berlebihan.