Menikahi Mantan Suami Pelakor

Menikahi Mantan Suami Pelakor
Bab. 150


__ADS_3

Clara ternyata belum bisa memahami apa yang telah ia lakukan. Diri yang terlalu mengandalkan harta sebagai tujuan hidup, ternyata membuat Clara kikir.


"Maksud mama apa? Mengapa mama bertanya seperti itu? Bukankah selama ini papa yang bekerja untuk kita? Sudah sewajarnya papa membawa pergi apa yang menjadi miliknya." Sinta heran mengapa sang ibu bertanya seperti. Bukankah selama ini ayahnya sudah bekerja keras untuk anak dan istrinya.



"Mmm ... Sinta, bukan begitu. Walaupun papa yang bekerja tapi 'kan semua itu milik mama dan kelak akan menjadi milikmu juga. Untuk itu mama ingin kau yang menggantikan papa mengurus perusahaan kakekmu. Mama besok akan pulang, masih ada acara bersama teman-teman mama," ucap Clara memberi alasan pada sang anak. Dia berbohong untuk menutupi semua yang telah terjadi dari Sinta.



"Tapi, Ma ... Sinta kasihan lho melihat papa. Seperti ada sesuatu yang dia sembunyikan. Apa mama dan papa sedang bertengkar? Biasanya papa akan selalu bercanda terlebih dahulu dengan cucunya, tapi kali ini dia langsung pergi begitu saja. Sinta merasa ada sesuatu yang membuat papa seperti itu. Dan kalian biasanya berangkat dan pulang bersama, mengapa kali ini mama tinggal dan papa duluan pulang?"



Sinta terus mendesak sang ibu untuk berkata yang sebenarnya namun Clara tetap bersikukuh untuk menyembunyikan semuanya dari sang anak.



"Sinta, tidak semua masalah orang tua diketahui oleh anak. Kami baik-baik saja, hanya saja mama pulang besok karena mama memang ada acara dengan teman-teman mama," tegas Clara tetap berbohong demi menjaga nama baiknya di depan sang anak.



"Baiklah, Ma. Syukur deh jika mama dan papa baik-baik saja," ucap Sinta menyerah dan percaya pada apa yang dikatakan oleh sang mama.



"Begitu dong, Sinta. Kamu fokus urusin anak mu saja, tidak perlu ikut campur dengan urusan orang tua!" hardik Clara, kebohongan diri Clara membuatnya berubah sikap pada Sinta.



"Bye, Ma. Sampai ketemu besok."



"Sampai ketemu besok, Sayang."



Sinta mengakhiri pembicaraan dengan sang ibu. Ia merasa lebih baik tidak mencampuri urusan sang ibu. Clara tersenyum sinis mengingat Gunawan pergi tidak membawa apa-apa. Dia yakin Gunawan tidak akan bertahan lama tanpa dirinya.



Clara men-charger ponselnya di atas nakas. Dia pun beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai, Clara merias wajahnya dan memakai gaun malam. Clara berencana ingin menghibur diri ke klub malam.



Setelah selesai menghias diri, Clara pun bersiap menuju ke klub malam yang terkenal di daerah Jakarta.



Jam menunjukkan pukul sembilan malam. Dinginnya kota Jakarta karena diguyur hujan tidak menyurutkan langkah Clara.



Tap!



Tap!

__ADS_1



Tap!



Bunyi suara sepatu high heels Clara. Semua pengunjung yang berpapasan dengan dirinya menatap dengan tatapan lapar. Gaun yang dipakai Clara membuat para lelaki terpesona. Walau sudah berumur, Clara masih terlihat cantik dan segar. Tidak ada yang mengira jika usianya sudah berkepala empat.



"Woow ... Cantik sekali ...!" puji seorang pemuda yang berpapasan dengan Clara.



Clara hanya tersenyum bangga dengan dirinya. Semenjak tadi siang ia bertemu dengan Raiyanza, jiwa mudanya bergejolak kembali. Rasa cinta yang dulu hampir hilang kini bersemi kembali.



Dengan melenggak lenggokkan badannya Clara menuju ke mobil rentalnya. Para security yang berjaga pun melotot melihat Clara. Mereka bak kucing yang menatap lapar ikan yang cantik.



Bruumm ....



Clara melajukan mobilnya menuju ke sebuah club' malam. 20 menit berlalu, mobil Clara pun merapat ke tempat parkir mobil yang ada di Club' malam tersebut.



"Hai, Clara. Kau semakin cantik saja," sapa sosok lelaki yang ingin Clara temui di Club. Di dekat pintu keduanya bertemu. Memang sengaja Rai menunggu Clara.




Clara menghampiri lelaki yang selalu menguasai hatinya itu, walau hinaan dan pengkhianatan telah ia terima, tapi karena Clara masih cinta maka Clara mudah tuk memaafkan. Begitulah jika cinta sudah menguasai hati, semua seolah tidak berarti.



"Kau tidak mungkin membuatku malu, kecantikan dan kekayaan yang kau miliki pasti banyak yang akan terpesona denganmu. Kau bukan lagi Clara yang cupu. Tapi Clara yang modis dan menawan," puji Rai dengan senyum smirknya.



Clara tenggelam dalam rayuan gombal sang kekasih. Dengan mudah Clara jatuh dalam perangkap cinta Rai.



"Clara, mari duduk," ajak Rai pada Clara. Dengan menggandeng mesra tangan Clara.



"Hai, semua. Kenalkan ini adalah wanita yang membuatmu tidak bisa move on," ucap Rai memperkenalkan Clara pada teman-temannya.



Teman Rai menatap dengan tatapan misteriusnya. Mereka seakan sudah menunggu Clara. Teman-teman Rai yang berpenampilan layaknya pengusaha kaya membuat Clara merasa yakin jika Rai adalah seorang pebisnis sukses.


__ADS_1


"Selamat bergabung, Nyonya Clara," ucap salah satu teman Rai yang memakai jas berwarna silver. Dia mengulurkan tangannya mengajak Clara untuk berjabat tangan.



"Terima kasih, Tuan ...." Clara menyambut uluran tangan lelaki itu.



"Panggil saja aku Kevin."



"Oh, baiklah. Terima kasih, Kevin." Clara tersenyum ramah sembari memperhatikan penampilan Kevin dari ujung rambut hingga ujung kaki.



"Kenalkan, Saya David," ucap teman Rai yang memakai kemeja warna biru navi dan berkacamata. David mengulurkan tangan mengajak Clara untuk bersalaman.



Clara tersenyum dan menyambut uluran tangan David sambil berucap, "Clara."



"Hai, Aku Bram," ucap teman Rai yang memakai jas berwarna hitam, dia juga mengulurkan tangan sembari mengedipkan matanya sebelah.



Clara terkejut, namun segera ia tutupi agar tidak dibilang wanita kurang pergaulan. Clara tetap membalas uluran tangan Bram.



"Clara," ucap Clara dengan senyum yang ramah.



"Ayo, Clara. Silakan duduk," ajak Rai mengajak Clara duduk di tengah keempat lelaki itu.



"Rai, mumpung kita bertemu, aku mau tahu bagaimana bisnis kita yang ada di Brunai?" tanya Kevin. Dia bertanya dengan suara yang sengaja dikeraskan agar Clara mendengarnya.



Rai mengambil minuman yang sudah tersedia di meja. Minuman keras yang sengaja sudah disiapkan sebelumnya oleh teman-teman Rai. Semua itu juga atas perintah dari Rai.



"Biasa, banyak mengalirkan uang di rekening kita. Nanti akan aku kirim laporan keuangannya bulan ini. Jumlahnya mengalami peningkatan yang cukup membuat anak keturunan kita hidup kecukupan," jawab Rai. Dia pun menyesap minuman yang ada di tangannya.



Clara yang mendengar ikut menyimak pembicaraan mereka. Di dalam hati, Clara memuji kesuksesan Rai.



"Tidak masalah jika Gunawan tidak mau mengurus perusahaan papa, masih ada Rai yang akan membantu mengurusnya. Aku yakin di bawah kendali Rai, perusahaan papa semakin maju nantinya," gumam Clara sembari memperhatikan Rai dengan mata yang tidak berkedip.


__ADS_1


"Clara, mengapa kau hanya terdiam, ayo ceritakan bagaimana kehidupanmu. Siapa nama suami mu dan dia bekerja di mana?" tanya Bram memancing Clara.


__ADS_2