Menikahi Mantan Suami Pelakor

Menikahi Mantan Suami Pelakor
MMSP2. Bab. 60


__ADS_3

Tia berpikir bahwa tidak baik jika menyembunyikan sesuatu pada anak maupun suaminya. Lebih baik dimarahi daripada berbohong.


"Hasan, memang benar tadi dek Hasna hampir jatuh di kolam renang karena Hasna lari -larian. Untung aja ada om yang baik itu, karena menyelamatkan Hasna juga salah satu tugasnya sebagai penjaga kolam renang," jawab Tia apa adanya.



Hasan mengangguk paham, dia pun menatap kesal pada sang adik yang membahayakan diri dan kemungkinan juga akan membahayakan ibunya jika sampai sang ibu berlari karena menyelamatkan Hasna.



"Dek, lain kali berhati-hatilah! Jangan lari-larian. Kalau kamu sudah dibilangin, besok-besok lagi kakak gak mau kalau diajak berenang lagi!" tegas Hasan menasehati adiknya --Hasna.


__ADS_1


"Iya, Kak. Lain kali Hasna akan lebih menurut dan hati-hati lagi," jawab Hasna dengan menunduk. Ada rasa bersalah menyelinap di hati anak itu.



"Sudah-sudah, yang penting semua baik-baik saja, lain kali pasti Hasna tidak akan mengulanginya lagi. Bukan begitu, Hasna?" tandas Tia, menghibur hati sang anak.



"Iya, Ma. Hasna akan menurut dan tidak akan mengulangi lagi. Tapi sekarang kita jadi makan kan, Ma?" tanya Hasna dengan wajah yang dibuat sesedih mungkin.


"Terimakasih, Mama!" Hasna mengecup pipi sang ibu dengan penuh kasih.


__ADS_1


Mobil mereka pun dibawa laju oleh sang supir menuju ke rumah makan yang biasa mereka datangi setelah renang.


***


Sinta duduk di dalam taksi online yang ia pesan dengan perasaan marah yang membara. Hatinya terasa panas dan pikirannya penuh dengan ketidakpuasan. Namun, perasaan marah yang melanda Sinta membuatnya sulit untuk menjaga ketenangan.


Pagi ini Sinta bertekad untuk menemui Gunawan di kantor. Perjalanan ke kantor terasa begitu lambat, seolah-olah waktu berjalan dengan sengaja melambat untuk memperpanjang penderitaannya. Setiap jalan yang dilaluinya terasa seperti hambatan yang tidak pernah berakhir. Sinta berusaha keras untuk mengendalikan emosinya, tetapi amarahnya terus membakar di dalam dirinya.


Pikiran Sinta dipenuhi oleh insiden kemarin, di mana Gunawan tampaknya telah melakukan kesalahan yang membuatnya merasa terpinggirkan dan tidak dihargai. Dengan tanpa hormat Gunawan tah mengusir Sinta dari rumahnya. Hal itu mengundang rasa marah yang dalam pada diri Sinta, membuatnya kesal dan tidak terima. Dia merasa bahwa tindakan Gunawan telah melukai kepercayaan dan rasa hormatnya.


Selama perjalanan yang melelahkan itu, Sinta memutar-mutar kejadian tersebut dalam pikirannya. Amarahnya semakin berkobar, dan dia merasa semakin yakin bahwa ia harus menyampaikan ketidakpuasannya kepada Gunawan. Dia berjanji pada dirinya sendiri bahwa kali ini, dia tidak akan membiarkan hal itu lewat begitu saja tanpa penjelasan atau klarifikasi.


__ADS_1


Dengan perasaan marah yang masih menyala di dalam dirinya, Sinta akhirnya tiba di kantor Gunawan. Dia memutuskan untuk langsung menuju ke ruang kerja Gunawan. Derap langkah yang mantap, siap menghadapi situasi yang menantang. Meskipun hatinya masih penuh dengan kemarahan, Sinta berharap agar pertemuan ini dapat membawa kejelasan dan pemahaman di antara mereka.


Dengan tekad yang kuat, Sinta membuka pintu ruangan Gunawan dan melangkah masuk dengan langkah pasti. Dia siap mengungkapkan perasaannya dengan tegas dan berharap dapat mencapai solusi yang memuaskan bagi kedua belah pihak.


__ADS_2