Menikahi Mantan Suami Pelakor

Menikahi Mantan Suami Pelakor
MMPS2 bab 95


__ADS_3

Devi terus meronta, akan tetapi tenaganya tidak cukup untuk melawan dua polisi wanita yang memiliki lengan kekar. Dua polisi wanita itu terus menyeret Devi dengan paksa menuju ke mobil polisi.



Tia masih duduk menyandarkan kepalanya di bahu sang suami, menunggu kabar dari sang dokter. Dalam diam dia melangitkan doa untuk keselamatan Aris.



Tidak berapa lama kemudian, Tia dipanggil oleh seorang suster.



"Nyonya Tia, maaf anda dipanggil oleh dokter," ucap sang suster mendekat ke arah Tia dan Hans.



"Saya dipanggil dokter? Ada apa ya, Sus?" tanya Tia takut sesuatu terjadi pada Aris.



"Sebaiknya anda langsung menemui dokter saja, Nyonya," jawab sang suster datar. Tidak terlihat ramah sama sekali. Mungkin terlalu banyak beban hidup yang menimpa dirinya.



"Mm ... baiklah, Sus," ucap Tia kikuk. Tidak menyangka mendapat suster yang tidak ramah sama sekali.



Tia berjalan mengekor si suster dengan dada yang bergemuruh, sepanjang perjalanan mengikuti sang suster, Tia merasakan sesak di dada. Semua pikiran negatif tentang Aris berkecamuk di pikirannya.



"Silakan duduk, Nyonya," ucap suster itu mempersilakan Tia untuk duduk di kursi yang sudah disediakan.



"Anda keluarga dari pasien yang bernama Aris?" tanya sang dokter sembari menulis data pasien.



"Benar, Dok. Saya kakak kandungnya. Bagaimana keadaan Aris, Dok?" tanya Tia balik.



"Keadaan pasien sudah mengalami kemajuan yang berarti, hanya tinggal menunggu dia sadar dari pingsannya. Tapi,untuk sementara kita tempatkan di kamar ICU agar mendapat perawatan yang intensif. Nanti setelah mengalami kemajuan, bisa kita pindah ke bangsal perawatan," ucap si dokter dengan kacamata bertengger di hidungnya.



"Alhamdulillah, Ya Allah. Terimakasih Engkau sudah menyelamatkan adik hamba satu-satunya," ucap Tia bersyukur di dalam hati. Apa yang dia takutkan tidak terjadi.



"Baiklah, Dok. Terimakasih sudah memberikan yang terbaik untuk adik saya," ucap Tia berterima kasih kepada sang dokter.



"Sama-sama, Nyonya. Kami akan segera memindahkan pasien ke ICU. Silakan anda lengkapi persyaratan yang diperlukan," ucap sang dokter.



"Baik, Dok," ucap Tia bersemangat. Harapan untuk kesembuhan Aris pun mulai bangkit. Dia bergegas menuju ke ruang administrasi ditemani oleh Hans.



Keesokan harinya.



"Aris, kau sudah baikan? Mbak sangat khawatir mendengar mu kecelakaan," ucap Tia menggenggam tangan adiknya dengan penuh kasih sayang.



Semalam, Aris sudah sadar dan pagi ini sudah dipindah ke bangsal VVIP.


"Alhamdulillah, Mbak. Allah masih memberi kesempatan pada Aris untuk memperbaiki semua. Aku sudah banyak salah pada mbak Tia." Aris menunduk, dia sangat bersyukur masih bisa diberi kesempatan untuk meminta maaf pada kakak perempuan satu-satunya.


"Sudahlah, Ris. Kamu adalah saudara mbak satu-satunya. Jika seorang adik bersalah, maka kewajiban kakaknya untuk membimbing dan memaafkannya. Oh ya, kamu mau mbak kupaskan buah apel?"


__ADS_1


Tia melepas genggaman tangannya dan berjalan menuju ke meja. Tadi dia datang membawa buah yang menjadi buah kesukaan adiknya.



"Makasih, Mbak," jawab Aris sambil tersenyum. Dia bahagia karena kakak perempuannya masih mengingat buah yang paling ia sukai.



"Okey, mbak kupaskan satu untukmu agar kamu cepat pulih," ucap Aris.



"Iya, Mbak. Oh ya, Mbak dimana Devi, Mbak? Kenapa dia tidak ada?" ucap Aris mencari sosok istrinya.



"Mmm ... Mungkin dia sedang dalam masalah. Aris, apa kau akan menceraikan Devi?" tanya Tia hati-hati. Dia tidak ingin membuat adik lelakinya tersinggung.



"Insyaallah, Mbak. Dia yang menginginkan perceraian itu sebelumnya. Aku hanya melanjutkan apa yang menjadi keinginan Devi. Kami sudah tidak bisa bersama." Aris terlihat menunduk dalam. Hatinya terasa sakit akibat pengkhianatan sang istri.



"Sudahlah, sekarang kamu fokus pada kesembuhan luka mu terlebih dahulu, setelah itu terserah kau mau bagaimana kan rumah tangga mu. Mbak yakin kamu pasti bisa memutuskan hal yang menurut mu itu adalah yang terbaik," ucap Tia dengan senyum yang hangat.



"Iya, Mbak. Aris sudah dewasa, Aris harus memutuskan mana yang terbaik untuk diri dan keluarga Aris. Semoga Allah memberikan jodoh yang terbaik untuk Aris," ucap Aris.



"Mbak yakin kamu bisa kok, setelah hujan pasti akan ada pelangi yang indah. Mbak dulu juga begitu, setelah berpisah dengan mas Ridho, mbak mendapatkan mas Hans yang begitu baik. Oh ya, tadi dapat salam dari mas Hans. Berhubung kamu sakit, mas Hans menghandle semua pekerjaan mu. Jadi kamu tenang saja, fokus pada kesembuhan mu, okey?"



Tia memberikan motivasi dan semangat untuk Aris, bahwa hidup harus terus berjalan. Suatu saat nanti jika tiba waktunya untuk bahagia, pasti akan bahagia juga.



"Benar, Mbak. Mbak lah yang menjadi inspirasi Aris dari dulu hingga sekarang. Mbak selalu disakiti oleh mas Ridho, tapi mbak terus berjuang hingga pada akhirnya mbak bertemu dengan mas Hans yang baik."




"Oh ya, Ris. Mbak nanti mau ada acara di sekolahan si kembar. Tapi tenang saja, mbak sudah minta anak bik Asih untuk menjagamu. Kamu tidak apa-apa kan?" ucap Tia memberikan irisan apel pada Aris.



"Iya, Mbak. Mbak tenang saja, Aris di sini baik-baik saja." Aris melahap potongan buah apel yang disajikan oleh Tia.



"Baiklah, sebentar lagi orangnya mau datang. Kalau begitu mbak pamit dulu, takut nanti si kembar marah kalau ibunya datang terlambat," ucap Tia mengingat jika Hasan dan Hasna marah jika ibunya datang terlambat.



"Iya, Mbak. Hati-hati. Jaga baik-baik kandungan mbak Tia. Sampaikan juga salamku pada Hasan dan Hasna," jawab Aris sambil tersenyum.



"Okey, Ris. Mbak pergi dahulu, Assalamualaikum," ucap Tia berpamitan.



"Wa'alaikum salam," jawab Aris. Dia pun tersenyum dan setelah Tia pergi dia memilih untuk memejamkan mata kembali.



Tidak berapa lama kemudian ...



Tok!



Tok!

__ADS_1



"Assalamu'alaikum." Suara seorang wanita terdengar mengulurkan salam dari luar pintu.



Aris membuka matanya karena mendengar suara wanita uluk salam dari luar.



"Wa'alaikum salam, masuk," ucap Aris. Dia yakin pasti wanita itu adalah anak dari pembantu Tia yang ditugaskan untuk menjaga Aris.



Klek!



Pintu dibuka dari luar, sosok wajah gadis belia yang imut menyembul dari luar.



"Assalamu'alaikum, Pak," ucap gadis itu polos.



"Wa'alaikum salam," jawab Aris heran, bukan kah tadi dia sudah uluk salam, tapi kenapa dia mengucapkan lagi. Aris menatap gadis berusia kisaran 17 tahun.



"Nama bapak, Pak Aris kan? Adiknya nyonya Tia? Benar gak, Pak?" tanya gadis itu lugu. Menunjukkan kalau dia sepertinya baru saja datang dari kampung.


"I ... Iya, kamu siapa?" tanya Aris menatap gadis itu tanpa berkedip.


"Nama saya Bunga, saya putri dari Bu Asih. Kemarin saya diminta ibu untuk datang ke Jakarta. Katanya ada pekerjaan baru, nunggu orang sakit. Jadi bapak yang sakit itu?" cerocos gadis itu seperti kereta api tanpa jeda.



"I ... Iya, saya Aris. Silakan duduk. Maaf, saya mau istirahat," ucap Aris merasa kantuk sudah menyapanya.



"Baiklah, Pak. Orang sakit memang harus banyak istirahat. Karena dengan istirahat sakitnya akan cepat sembuh, bapak hanya butuh istirahat agar badan kembali fit kembali," oceh Bunga. Sedangkan yang diajak bicara malah sudah tidur pulas. Suara Bunga membuat Aris mengantuk, seperti di bacakan dongeng sebelum tidur.



Bunga melongo, dia kesal karena bicara sendirian. Bunga menghempaskan bobot tubuhnya di kursi sofa sambil bermain dengan ponsel jadulnya. Ponsel yang tidak bisa buat WA, hanya bisa telepon dan mengirim pesan saja. Namun, Bunga tidak mempermasalahkan tentang ponselnya.



Bunga menatap ke sekeliling, dia melihat jika cairan infus Aris sudah mulai habis. Bunga pun memanggil suster jaga untuk mengganti cairan infus. Walaupun dia dari kampung, Bunga tahu bagaimana merawat di rumah sakit.



"Permisi, Sus, infus di ruangan pak Aris habis," ucap Bunga dengan sopan.



Suster itu tersenyum dan memandang remeh pada Bunga.



"Dek, tidak perlu datang ke sini, kan tinggal pencet bel. Kami akan datang ke kamar tuan Aris," ucap suster itu seakan mengejek kebodohan Bunga.



"Iya, Mbak. Lupa ... Maaf, saya dari kampung jadi tidak paham dengan rumah sakit yang serba mewah ini," jawab Bunga apa adanya. Memang dia agak sedikit malu, akan tetapi dia tetap berani asal dia tidak bersalah.



Bunga pun berjalan meninggalkan ruangan suster jaga dan kembali ke ruangan Aris. Sepanjang jalan, Bunga mendumel sendiri.



"Ck! Dasar suster sombong, mana tahu kalau pencet bel. Letak bel aja tidak tahu, dasar aneh tuh suster!"



Bunga dengan kesal kembali duduk di sofa dengan tangan dilipat dan juga kaki yang diangkat ke sofa. AC yang dingin membuat gadis itu merapatkan kaki. Sambil menunggu suster ganti cairan infus.

__ADS_1



Lama kelamaan, Bunga tertidur di kursi sofa dan saat suster mengganti cairan infus, dia sama sekali tidak tahu.


__ADS_2