Menikahi Mantan Suami Pelakor

Menikahi Mantan Suami Pelakor
105


__ADS_3

Hans dan Tia saling menatap, berharap Alan mau membantu mereka.



"Tentu saja, Tuan. Kami akan membantu Anda. Sejarah singkat saja ini. Pabrik ini telah berganti pemilik. Saya hanya diserahi tugas untuk mengelola pabrik ini karena pemiliknya sering melakukan perjalanan bisnis keluar kota."



"Jadi pemilik pabrik ini bukan Anda, Tuan Alan?" tanya Hans memperjelas apa yang di dengar barusan.



"Bukan, Tuan Hans. Pabrik ini bukan milik saya. Pemilik pertama pabrik ini yakni tuan Burhan, sudah meninggal dunia dan diteruskan oleh menantu dari tuan Burhan yakni Tuan Gunawan. Saya hanya wakil beliau di sini, walau memang sepenuhnya kebijakan di pabrik ini berada di tangan saya," jawab Alan dengan sombongnya.



"Hmm ... Bukan pemiliknya saja sombongnya bukan main, bagaimana kalau pabrik ini benar-benar miliknya?" ucap Tia di dalam hati, dia sangat kesal dengan sikap Alan yang terlihat begitu sombong dengan kekuasaan yang ia miliki.



"Jadi pemilik pabrik ini sekarang adalah tuan Gunawan? Sepertinya saya pernah mengenal beliau, bukankah beliau penguasa bisnis properti dan kuliner di tanah air?" Hans mencoba mengingat apakah dirinya pernah bertemu dengan Gunawan.



"Benar, Tuan. Pemilik yang sekarang adalah tuan Gunawan. Dia adalah menantu tuan Burhan, suami dari nyonya Clara. Sekarang mereka sedang menemani sang putri yang kemarin melahirkan. Tuan Gunawan sangat beruntung bisa mendapatkan hati dari nyonya Clara. Berkat kesuksesan tuan Gunawan, banyak keluarganya yang ikut sukses. Tuan Gunawan sangat baik, memberi pulang bisnis untuk keluarganya," jelas Alan lagi.



Tia dan Hans manggut-manggut mengagumi kedermawanan Gunawan yang sangat baik pada keluarganya.



"Sungguh mulia hati tuan Gunawan, dia berhasil mengangkat derajat kehidupan saudara-saudaranya," puji Tia ikut bersuara.



Alan tersenyum melihat Tia begitu memuji majikannya. Memang tidak bisa dibantah jika Gunawan itu adalah orang yang baik hatinya.



"Nyonya Seina, tuan Gunawan memang baik, namun dia juga sangat dingin dan keras. Dia tidak mentolerir seorang pengkhianat. Siapapun orang itu, walau saudara sekaligus tetap tidak akan ada belas kasihan," imbuh Alan.



Hans merasa kagum dengan prinsip hidup Gunawan. Dia sangat setuju memang untuk seorang pengkhianat tidak boleh ada belas kasihan.



"Baiklah, Tuan. Bisa saya minta daftar pegawai dari awal mula berdirinya pabrik ini?" tanya Hans untuk menyingkat waktu.



"Sebentar, akan saya ambil laptop saya dulu," ucap Alan, diapun bangkit dari duduknya untuk mengambil laptop yang ada di ruangannya.



Tia dan Hans saling menatap dengan senyum yang terus mengembang. Harapan mulai terbit di dalam hati mereka.



Tidak berapa lama kemudian, Alan pun datang membawa laptop miliknya.


__ADS_1


"Maaf, jika membuat Anda menunggu lama, Tuan."



"Tidak apa-apa, Tuan Alan. Waktu kami masih banyak," jawab Hans dengan tersenyum.


Alan meletakkan laptopnya dan meja. Dia pun mulai membuka laptop lalu mencari data para pegawai dari awal mula pabrik minuman itu berdiri.


"Silakan, Tuan Hans. Ini adalah data para pegawai kami." Alan memutar laptopnya agar bisa menghadap ke arah Hans dan Tia.



"Oh, Terima kasih, Tuan. Di sini yang menjabat jadi mandor memakai kode apa, Tuan?" tanya Hans yang belum paham dengan kode huruf yang ada di data pegawai.



"Mandor pakai huruf D, Tuan. Semua sudah ada di situ," jawab Alan menjelaskan tentang arti kode yang tertera di kolom data tersebut.



Hans berhenti menggerakkan cursornya saat berada di kolom mandor. Di sana tertera nama Gunawan.



"Maaf, Tuan. Ini nama Gunawan ada di kolom mandor. Dia menjabat jadi mandor selama lima tahun. Apakah ini adalah tuan Gunawan pemilik yang sekarang atau Gunawan yang lain?" tanya Hans dengan alis yang bersatu.


Tia segera melihat data tersebut, dan benar saja nama Gunawan tertera sebagai mandor dari awal berdiri dan menjabat selama lima tahun. Tahun di mana sang ayah masih bekerja di pabrik itu.


"Tuan Alan, benarkah nama ini adalah orang yang sama?" tanya Tia pada Alan dengan tatapan mata serius.



"Benar, Tuan dan Nyonya Tia. Dulu tuan Gunawan adalah mandor pabrik mandor ini. Setelah berhasil menikah dengan Nyonya Clara barulah tuan Gunawan naik jabatan dan akhirnya menjadi penerus dari tuan Burhan," jawab Alan menceritakan bagaimana Gunawan bisa menjadi pemilik pabrik tersebut.




"Mas ...!" Tia memegang lengan sang suami karena tubuhnya tidak kuat untuk menopang tubuhnya lagi. Tia akhirnya pingsan, tidak sadarkan diri.



"Tia ...!"



"Nyonya Tia!!"



"Tuan Alan, tolong panggilkan ambulans!" teriak Hans panik, dia sangat khawatir dan cemas pada Tia yang tiba-tiba pingsan begitu saja.



Alan pun memanggil para security, para pegawai lain pun datang untuk melihat apa yang terjadi. Suasana menjadi ramai karena semua ingin melihat apa yang terjadi.



"Security cepat kalian panggilkan ambulans, tamu kita pingsan. Cepaaaat!!" teriak Alan memerintahkan security untuk memanggil ambulans.



Para Security pun bergerak cepat, Hans merebahkan Tia di sofa yang mereka duduki. Seorang cleaning servis membuatkan teh hangat untuk Tia.

__ADS_1



"Tuan, teh hangat untuk istrinya yang pingsan," ucap cleaning servis itu berharap Hans menerimanya.



Hans tersenyum lalu menerima teh pemberian sang gadis muda dengan tulisan cleaning servis di seragam yang ia pakai.



Karena belum sadar juga, Hans meletakkan teh hangat itu di meja. Tidak berapa lama, security datang memberi kabar bahwa ambulans sudah ada di depan lobi pabrik. Segera Hans mengangkat sang istri menuju ke ambulan tersebut.



"Cepat, Pak. Kita ke rumah sakit sekarang!" pinta Hans pada sopir ambulans karena terlalu panik. Padahal di dalam ambulans tersebut Tua sudah dipasang alat bantu pernapasan dan dilakukan pertolongan pertama.



Beruntung pabrik tersebut dekat dengan rumah sakit besar, hingga dengan cepat Tia bisa sampai di rumah sakit.



Para tim dokter menyambut mobil ambulans yang sudah sampai di depan ruang UGD. Segera Tia dibawa masuk ke UGD untuk mendapatkan perawatan yang maksimal.



Di rumah sakit yang sama, seorang lelaki menangis menyendiri duduk di kursi depan taman rumah sakit.



"Astaga ... Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak bisa memeluk anakku sendiri!" desis lelaki itu. Dia pun bangkit dari duduknya lalu berdiri menatap rumah sakit yang besar itu.



Lelaki itu terkejut saat dia melihat sosok Hans masuk ke ruang UGD. Gegas dia mengejar Hans, siapa tahu bisa meminta pertolongan padanya. Lelaki itu menunggu dengan sabar hingga Hans keluar dari UGD, namun yang ditunggu tidak juga keluar, dia pun memutuskan untuk meminta informasi pada resepsionis pasien yang baru saja masuk.



Belum terlaksana untuk bertanya, ia melihat Hans menuju ke arah pendaftaran pasien. Gegas lelaki itu menghampiri Hans.



"Tuan Hans ...."



"Tuan Steve? Anda di sini?"



"Iya, Tuan. Maaf. Anda bukannya di Jakarta? Sedang apa di sini?" tanya Steve basa-basi.



"Ada urusan, dan kebetulan istri saya pingsan karena kecapekan. Kalau Anda sendiri?" tanya Hans pada Steve.



"Kebetulan istri saya melahirkan di sini, jadi saya menunggunya. Kebetulan saat ini istri saya sedang bersama mertua saya, jadi bisa saya tinggal sebentar," jawab Steve berbohong.



"Oh, kalau begitu saya ucapkan selamat berbahagia, tuan Steve. Semoga sehat ibu dan bayinya," ucap Hans memberikan ucapan selamat pada Steve.

__ADS_1



"Tapi, Tuan. Saya sedang dalam masalah besar. Bisakah Anda membantu saya?" tanya Steve dengan wajah penuh harap.


__ADS_2