
Tangan Ridho menghidupkan ponsel, dan banyak sekali panggilan telepon dan pesan dari Arum sang sekretaris. Ridho membulatkan matanya saat tahu jika semua ini terjadi gara-gara video dirinya bersama Rosie di sebuah hotel viral di media sosial.
"Siaal ... Arghh!" Hampir saja Ridho melempar ponselnya karena kesal, namun ia urungkan karena masih membutuhkan ponsel itu.
Ridho setengah berlari memutari gedung itu untuk masuk dari pintu samping. Melalui tangga darurat, Ridho naik ke lantai empat di mana ruangannya berada. Peluh sudah membasahi kemeja Ridho. Bau keringat bercampur aduk dengan alkohol, membuat siapapun yang bersisian dengannya akan menutup hidung.
"Hosh ... Hosh!" Napas Ridho tersengal -sengal. Tenaganya hampir habis untuk bisa naik tangga hingga ke lantai empat. Namun dia paksakan diri untuk terus menaiki tangga.
Usaha Ridho tidak sia-sia, dia pun akhirnya sampai juga di lantai empat. Dengan napas tersengal dan keringat yang membasahi badan, Ridho masuk dari pintu darurat. Banyak orang yang menunggu dirinya hingga pada berkumpul di depan ruang kerja Ridho.
Ridho berjalan mengendap -endap bagai pencuri yang takut tertangkap oleh pihak keamanan. Sambil mengatur napas dan pikiran, Ridho berhasil masuk ke dalam ruang kerjanya.
" Tuan, syukurlah Anda segera datang. Semu dewan komisaris ingin bertemu dengan Anda," ucap Arum menyambut kedatangan sang majikan.
__ADS_1
Ridho menyeka keringat yang membasahi dahinya.
"Arum bagaimana bisa ini terjadi?" Ridho menyugar rambutnya, menenangkan diri.
"Mereka marah dan mulai menanyakan saham yang ternyata anjlok, Tuan. Video itu merusak kehormatan dan kredibilitas Anda sebagai pimpinan perusahaan ini," jawab Arum sesuai kabar yang dia terima.
"Apa?! Saham perusahaan anjlok?! Bagaimana ini? Masa hanya dengan video seperti mereka menarik semua saham kita? Ini tidak bisa dipercaya dan tidak boleh terjadi. Aku harus segera mencari cara untuk mendapatkan kepercayaan mereka lagi," ucap Ridho setengah berteriak.
Wajah Ridho semakin kusut, sebenarnya dia tidak tahu harus bagaimana. Tidak mungkin dia meminjam pada bank untuk menutup semua dana. Ridho meremas rambutnya. Pikirannya buntu dan emosi ingin segera ia ledakkan. Namun, semua ini juga kesalahannya yang telah ceroboh.
Ridho mengambil napas dalam-dalam, mencoba berpikir jernih sebelum melangkah. Dia pun masuk ke dalam ruang pribadinya.
__ADS_1
"Arum, aku ingin mandi dan berganti pakaian. Aku tidak mungkin menemui mereka dalam keadaan seperti ini," ucap Ridho yang menyadari kalau bau badannya sangat menyengat. Persis para pekerja berat yang harus mengeluarkan keringat banyak.
Arum yang sebenarnya dari tadi juga menahan bau badan sang majikan pun akhirnya mengangguk.
"Baiklah, Tuan. Saya akan mempersiapkan ruangan rapat , agar para dewan komisaris itu segera tenang," jawab Arum sembari mengusap hidungnya.
Gegas Arum pergi keluar dari ruang kerja Ridho, dia berlalu menuju ke ruang khusus untuk melakukan meeting bersama.
Guyuran air dari shower mampu meredam kepala Ridho yang hampir meledak tadi. Dia merasa lebih rileks dan bisa berpikir dengan jernih. Setelah selesai mandi dia pun berganti pakaian lalu bercermin.
"Hari ini masa depan perusahaan sedang dipertaruhkan, semoga para dewan komisaris tidak menuntutku untuk mundur dari jabatanku!" batin Ridho berharap cemas sembari mematut diri di depan cermin.
__ADS_1
Setelah dirasa penampilan sudah oke, Ridho pun keluar menuju ke ruang meeting. Dadanya berdebar dengan kencang, kakinya bergetar saat melangkah di depan para anggota yang sudah duduk menunggunya sambil berkasak kusuk.