
Hans adalah sosok suami yang penyabar, dan penyayang. Namun saat rumah tangganya diusik, mana mungkin dia bisa duduk tenang?! Karena itulah Hans mendatangi kafe tempat Ridho bekerja. Tentu saja dia datang saat tidak bersama Tia, seperti kemarin.
Hans langsung duduk di meja paling dekat dengan ruang manager cafe. Dengan harapan, dia bisa menemui managernya, dan mengingatkan dia tentang Ridho.
Saat sedang fokus bekerja sembari menunggu si manager, mendadak Hans melihat kenalannya dari kejauhan. Tanpa menunggu lama, dia pun memanggil teman masa lampaunya tersebut.
"Eh! Reyhan, ya?!" tanya Hans begitu dia dekat dengan rekannya itu.
"Iya. Ini Hans, temanku waktu SMA?!" si pria dengan baju santai itu menanggapi dengan ramah.
"Iya! Ternyata beneran kamu, Rey! Ayo, duduk ngopi dulu, aku traktir, deh!" Hans sedikit memaksa dengan menarik lengan Reyhan untuk duduk di mejanya tadi.
Reyhan pun mengikuti kemauan Hans dengan senyum yang terus mengembang. Kedua pria itu pun terlihat sangat akrab satu sama lain. Mereka mulai ngobrol membicarakan soal masa muda mereka yang cukup nakal. Sampai akhirnya mereka bercerita pasal kisah, dan karir hidup di masa sekarang.
"Sekarang kamu kelihatan sukses banget, Hans," komentar Reyhan melihat penampilan mentereng teman lamanya tersebut.
"Alhamdulillah, Rey. Berkat istriku sebagai Dewi Fortuna, aku kini perlahan semakin sukses dalam berbisnis. Kamu sendiri sudah menikah belum?" tanya Hans sembari menyesap kopi di cangkir.
"Belum, Hans. Jodohku masih sulit sekali diluluhkan," keluh Reyhan terlihat sendu. Teman masa putih abu Hans ini bahkan memijat pelipisnya yang mendadak penat setiap kali membahas jodoh yang belum juga dia temukan.
"Yang sabar, ya, Bro! Kelak kalau kamu udah nikah, kamu bakal sadar kalau yang lebih sulit itu mempertahankan hubungan, bukan mendapatkannya," kata Hans dengan nada kasihan.
Hans teringat akan cobaan yang melanda hubungannya selama ini dengan sang istri. Cobaan yang membuat rumah tangganya sempat goyah.
"Iya, Bro. Thanks, nasehatnya," jawab Reyhan dengan senyum kecil.
Pada saat ini datang seorang pelayan yang membawakan pesanan ke meja mereka. Pelayan wanita itu terlihat sangat berhati-hati saat meletakkan pesanan di depan Reyhan. Apalagi setelah itu dia berkata, "Tuan Rey, ini kopi Americano anda. Oh iya, kak Dewi sudah datang untuk menyerahkan laporan bulanan."
"Baiklah, Indri. Kamu bisa pergi sekarang," sahut Reyhan tanpa menatap wajah pelayan muda yang sedang memasang tampang penuh perhatian.
"Baiklah, tuan Rey. Saya permisi," ujar pelayan itu langsung berlalu dari hadapan mereka dengan wajah penuh kecewa.
Hans yang melihat kejadian itu seketika heran. Dia pun bertanya kepada Reyhan seperti ini, "Rey, kelihatannya kok, pelayan itu sangat segan kepadamu? Apa jangan-jangan cafe ini adalah milikmu?" tebak Hans.
__ADS_1
Reyhan tersenyum kecil mendengar pertanyaan Hans. Dia pun mengangguk sebelum akhirnya berkata, "Iya, benar. Bisnis kecil-kecilan aja, kok. untuk mengisi waktu luang." Reyhan pun menyesap kopi di cangkir setelah mengatakan hal itu.
Hans tersenyum kecil. Tidak ketinggalan dia menganggukkan kepalanya saat mendengar jawaban santai dari rekan sekolah itu. Dari sini Hans mulai menyusun rencana untuk memberikan peringatan kepada Ridho.
Mengingat pemilik cafe ternyata temannya sendiri, membuat Hans semakin berani memberikan ancaman mengerikan pada mantan suami dari istrinya itu.
"Bagus, bagus. Kita memang tidak boleh membuang peluang apapun dalam dunia bisnis. Selagi ada peminatnya di sana, ya, lakukan saja dengan sepenuh hati," kata Hans memberikan tambahan semangat kepada teman lamanya itu.
"Elo bener banget, Bro. Eh, aku harus pergi dulu. Masih ada urusan penting yang harus aku lakukan," Reyhan berdiri. Dia pun mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan saling membenturkan tinju khas anak muda. Kemudian dia berkata, "Lain waktu kita ngobrol lagi, ya?"
"Tentu. Aku bakal dengan senang hati datang kemari setiap hari untuk ngobrol sama kamu, dan dengerin curhatan kamu, kok," sahut Hans mencoba memancing tawa Reyhan.
Seketika pria muda pemilik cafe itu tersenyum kecil mendengar lelucon Hans. Barulah setelah itu dia melanjutkan langkah menuju ke ruangan manajemen untuk menemui sang manajer, dan membicarakan laporan bulanan cafe.
Pada saat Reyhan pergi, Hans mengulas senyum licik di salah satu sudut bibirnya. Dia menunjukan senyum mengerikan itu untuk seorang pria yang sejak tadi mengawasi dirinya dari kejauhan. Perlahan, Hans melangkah dengan santai mendekati pria itu.
Sosok yang dahulu terlihat bersih, dan berkelas dengan pakaian mahal, kini berubah lusuh, dan berantakan. Kantung mata di wajah tirus pria itu pun memperburuk keadaannya. Uang hasil jual rumah sudah habis untuk bergaya hidup mewah dan membayar belanjaan Tia.
"Anda melihat pemandangan yang menarik, tuan Ridho?" Hans bertanya dengan ekspresi mengejek. Sorot matanya terlihat jelas sangat merendahkan Ridho.
Ridho tersenyum kecut. Beberapa kali dia mengalihkan pandangan agar tidak bertemu mata dengan suami mantan istrinya ini. Meski pada akhirnya, dia tetap gagal. Mata tajamnya selalu saja ingin menoleh pada sosok Hans yang kini terlihat semakin berisi, dan gagah.
"Kenapa anda senang sekali mencari keributan dengan saya di tempat kerja saya ini, tuan Hans yang terhormat?!" kali ini Ridho yang gantian bertanya. Nada sarkasme terdengar jelas dari suaranya yang berat.
"Aku tidak bermaksud membuat keributan denganmu, tuan Ridho. Tapi kau lah yang beberapa kali memancing keributan, dan masalah denganku. Tidakkah kau merasa lelah terus mengusik rumah tanggaku?!" Hans melipat tangan di depan dada. Sorot matanya begitu tajam, sarat akan kemarahan.
"Aku tidak mengusik apapun. Memang sejak awal Tia adalah milikku!" emosi Ridho terpancing. Pria itu maju untuk mendorong pelan bahu Hans.
Pria yang berstatus sebagai suami Tia hanya tersenyum kecil. Dia heran melihat sikap Ridho yang masih saja belum mau menyerah merebut istrinya. Hans mulai mempertanyakan kewarasan pria di hadapannya itu.
__ADS_1
"Dengar, ya, tuan Ridho yang terhormat! Anda lihat sendiri 'kan, betapa akrabnya aku dengan bos mu? Aku peringatan dirimu, jika sampai kau mengganggu kami, maka aku tidak akan segan-segan lagi meminta bos mu, yang juga teman lamaku untuk langsung memecatmu!" kata Hans dengan penuh penekanan di setiap katanya. Dia benar-benar sudah muak terus diganggu oleh pria tidak tau diri seperti Ridho.
"Aku tidak perduli!! Jika kau berani mengatakan seperti itu pada bos ku, maka aku juga berani mengatakan pada semua tamu di cafe ini bahwa kau adalah seorang pria perebutan istri orang!" balas Ridho tanpa rasa takut sedikitpun di matanya.
Kedua pria dewasa itu adu mulut di tengah cafe yang sedang ramai. Meski orang-orang tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang mereka katakan, tetapi mereka sudah mulai mencium gelagat perseteruan yang terlihat sangat jelas di antara kedua pria dewasa itu.
Bisik-bisik parah pelanggan cafe mulai terdengar riuh. Para pelayan pun mulai memperhatikan tingkah Ridho dengan seksama. Mereka khawatir Ridho akan membuat masalah dengan pelanggan sehingga bisa mencemarkan nama cafe.
"Emm, permisi, tuan, teman saya masih ada pekerjaan. Jadi, ayo, pergi ridho!" Salah seorang rekan Ridho sama pelayan menghampirinya dan mencoba menariknya dari cek-cok yang menegangkan. Tampaknya pelayan lelaki itu paham betul, bahwa emosi Ridho mudah terpancing. Sehingga dia menarik rekan kerjanya itu untuk segera meninggalkan lokasi perseteruan.
"Tidak, Bagas! Aku tidak bisa pergi sekarang sebelum pria perebut istri orang ini pergi juga!" kata Ridho kembali bersikap keras kepala. Membuat rekan kerjanya menepuk kening karena bingung, dan pusing. Dia kehilangan akal untuk mengajak Ridho menghindar dari masalah.
Hans tersenyum kecil di sudut bibirnya. Pria dewasa ini heran melihat tingkah Ridho yang begitu egois, seperti anak kecil. Dia justru senang melihat Ridho yang begitu mudah terpancing. Sebab dengan begini lebih mudah bagi Hans untuk menghancurkan Ridho.
"Aku merebut istrimu? Bukannya kamu yang menelantarkan dia? Aku hanya seorang pria yang datang tepat waktu untuk menyembuhkan lukanya. Sadar diri dong! Kau yang udah sia-siain dia! Enak aja nuduh orang sembarangan!" kata Hans dengan nada suara mulai naik. Menyita atensi para pengunjung cafe.
Pada saat ini emosi Ridho semakin memuncak. Pria itu pun maju untuk memukul wajah Hans. Dia ingin mengajak suami sah Tia duel. Namun dicegah dengan kuat oleh Bagas, rekan kerjanya. Meski begitu, dia tetap mencoba memberontak, dan ingin memukul wajah Hans yang masih tersenyum mengejek padanya. Hans bahkan hanya berdiri diam, tapi Ridho semakin emosi melihat wajahnya.
Ketika keributan terlihat semakin memanas, seseorang memanggil manager cafe yang pada saat itu sedang rapat dengan pemilik cafe. Otomatis manager cafe keluar dari ruangan diikuti oleh si pemilik cafe, yaitu Reyhan.
"Ada apa ini?!" Seorang perempuan yang merupakan manager cafe datang menengahi situasi.
"Karyawan Anda kurang ajar," jawab Hans dengan wajah dingin.
"Hans? Ada apa ini?" Reyhan pun ikut bertanya dengan wajah bingung pada teman lamanya itu.
Ridho langsung berhenti memberontak saat melihat sang manajer, dan pemilik cafe ada di antara mereka. Ridho hanya bisa menyerang Hans dengan sorot mata tajam penuh kebencian.
Melihat sikap Ridho yang langsung diam, Hans semakin tersenyum senang. Inilah yang dia harapkan sejak tadi. Ridho merasa kalah, dan tidak berkutik. Hans berharap, dengan ini Ridho memahami ancamannya untuk tidak menggangu istrinya lagi.
"Salah satu karyawanmu ini bersikap kurang ajar," ucap Hans sembari melirik tajam pada Ridho.
"Aku hanya memperingatkan dia dengan bahasanya yang halus, dan baik. Tapi lihatlah dia! Malah menantang akan melayangkan tinjunya padaku," lanjut Hans dengan wajah dingin.
__ADS_1