
Devi terlihat sangat gembira karena kebutuhan Hasan dan Hasna sudah dipenuhi oleh sang ibu. Itu artinya semua persediaan di rumah akan aman.
"Terima kasih ya, Mbak. Memang anak-anak suka main sabun dan shampo jadi kita harus sedia dobel agar tidak kehabisan," ucap Devi membuat Tia tersenyum kecut.
Tia merasa yakin keputusannya untuk mengajak mereka belanja, dengan begitu Tia tidak akan merepotkan Devi dan Aris.
"Baiklah, sekarang kita ke stok makanan," ucap Tia mengajak Devi dan anak-anaknya untuk pindah tempat. Belanja kebutuhan yang lain. Mengetahui sifat Devi yang perhitungan tentu saja Tia akan berpikir tentang kebutuhan makan anaknya selama satu minggu.
"Mama ... Hasna boleh ambil Snack dan es krim?" tanya Hasna dengan tatapan memohon.
"Tentu saja boleh, kalian boleh mengambil Snack untuk persediaan kalian selama di rumah Tante Devi dan om Aris," jawab Tia dengan tersenyum sembari melirik Devi yang terlihat sangat senang. Dirinya tidak perlu mengeluarkan duit untuk jajan para keponakannya. Walau tentu saja Aris bisa untuk menanggung semua pengeluaran anak dari kakaknya itu.
Hasan dan Hasna mengambil Snack yang mereka gemari. Kali ini Tia tidak mencegah sang anak memilih banyak makanan karena untuk persediaan selama enam hari ke depan.
"Mbak, anak-anak terlalu banyak belanjanya. Apa tidak menghabiskan banyak uang, Mbak?" tanya Devi yang kaget dengan Hasan dan Hasna yang mengambil banyak makanan Snack.
"Tidak apa, karena itu untuk persediaan di rumahmu selama enam hari. Jadi biarkan mereka memilih, dan mbak yakin mereka akan menghabiskan Snack mereka dalam waktu enam hari. Anak-anak sudah pandai memperkirakan apa saja yang akan mereka makan tiap harinya," jawab Tia yang bagi Devi terlalu berlebihan dalam memanjakan anak.
Devi berpikir sang kakak ipar terlalu boros, tidak bisa mengirit pengeluaran. Ditambah tidak bisa mendidik sang anak untuk berhemat.
"Ma, sudah," ucap Hasan yang sudah membawa makanan yang ia inginkan.
"Baiklah, Hasna juga sudah. Sekarang kita ke kasir terlebih dahulu," ucap Tia mendorong satu troli penuh belanjaan.
Devi tercengang, entah berapa ratus ribu yang dikeluarkan oleh Tia dalam sehari ini. Namun, dia hanya bisa membatin saja tanpa bisa mengeluarkan kata-kata. Devi tahu bagaimana harus bersikap dan membawa diri. Itulah sisi baik Devi.
Setelah selesai membayar, Tia bersama anak-anaknya juga adik ipar kembali ke rumah Devi.
__ADS_1
"Ma, Hasna lapar. Kita makan ke restoran biasanya ya?" ucap Hasna meminta pada Tia karena merasa perutnya lapar.
Tia tidak bisa menolak permintaan Hasna karena jika mereka selesai berbelanja pastilah mampir untuk makan terlebih dahulu.
"Iya, Ma. Kakak juga lapar. Papa biasanya juga bawa kita makan terlebih dahulu sebelum pulang," ucap Hasan juga merasa lapar perutnya.
"Baiklah, kita akan makan terlebih dahulu," jawab Tia melirik ke arah Devi yang melongo.
"Berapa banyak isi dompet mbak Tia, astagaaa ... Sehari bisa habis jutaan hanya untuk bersenang-senang! Wow ... Amazing sekali ini!" batin Devi di dalam hati. Melongo melihat hidup mewah sang kakak ipar.
Mobil Tia memasuki halaman parkir restoran cepat saji favorit mereka. Tawa dan senyum bahagia menyertai kedua anak kembar itu.
"Devi kamu pilih aja yang kamu suka," ucap Tia pada Devi saat mereka sudah berada di meja yang mereka pilih.
Devi melongo melihat harga yang tertera di setiap pilihan menu makanan. Semuanya di atas rata-rata dirinya makan setiap kali makan di luar.
"Mbak, ini beneran harganya segini?" tanya Devi dengan mata mendelik tidak percaya.
"Tidak apa-apa, Devi. Anak-anak suka menu di sini, selain itu di sini terkenal bersih dan tidak pakai micin! Mas dan Mbak dukung aja, karena makanannya enak, sehat dan higienis. Selain itu anak-anak juga suka. Tidak khawatir sakit perut. Pokoknya mas dan mbak tuh paling jaga konsumsi makanan anak-anak. Seberapa pun mahalnya asal sebanding dengan kualitasnya ya tidak apa-apa," jawab Tia santai.
Tia dan Hans selalu memerhatikan apa yang dikonsumsi oleh anak-anaknya. Baik itu makanan maupun minuman.
"Begitu ya, Mbak. Okelah, Devi mau coba yang ini aja," ucap Devi sambil menunjuk makanan dengan sayuran organik. Satu porsi dibandrol harga dua ratus ribu.
"Okey, itu aja? Atau ada yang lain?" tanya Tia lagi.
__ADS_1
"Gak ada deh, Mbak. Ini saja sudah cukup untukku!" jawab Devi dengan senyum yang dipaksakan. Seumur-umur baru kali ini Devi makan makanan mahal. Itu baru bersama Tia, bagaimana nanti jika Aris mengajak Devi honeymoon ke luar negeri? Pastilah akan lebih terkejut lagi.
"Baiklah, semua sudah pesan, biar mbak panggil pelayannya," ujar Tia sembari melambaikan tangannya memanggil sang pelayan.
Pelayan pun menghampiri meja Tia dan segera menulis semua yang dipesan oleh Tia.
"Silakan, Bu. Ini total bayarnya. Bisa saya bayarkan sekalian di kasir," ucap sang pelayan yang memang kebijakan restoran itu. Membayar dulu baru dibuatkan semua pesanan.
"Oh, Iya, Mbak. Pakai aja kartu ini," ucap Tia menyerahkan kartu debitnya pada sang pelayan.
"Baik, Bu. Permisi, setelah selesai semua pesanan akan kami hantarkan ke sini," ucap sang pelayan.
"Baik, Mbak," jawab Tia dengan senyum ramahnya. Wanita dengan jilbab berwarna biru Wardah itu terlihat sangat anggun dan elegan.
Devi menyunggingkan senyum saat melihat nota tagihan yang hampir mencapai lima juta itu. Bagi Devi, uang sebanyak itu bisa untuk dirinya hidup selama satu bulan.
"Silakan, Bu. Semua pesanan sudah kami hidangkan di meja,"
ucap sang pelayan dengan ramah.
"Terima kasih, mbak." Tia mengangguk lalu memberikan tips pada pelayan itu.
"Mbak, kenapa mbak memberikan uang untuk mereka? Bukankah itu sudah menjadi tugas mereka untuk melayani para pengunjung?" tanya Devi yang terheran mengapa Tia memberikan selembar uang kertas ratusan ribu.
"Biasa sih kita memberikan tips pada para pelayan. Jika mereka mendapatkan tips seperti itu mereka akan kumpulkan dan dibagi rata dengan karyawan lain di luar gaji mereka," jawab Tia menjelaskan untuk apa dia memberikan uang lebih pada sang pelayan.
"Oh seperti itu, jadi mereka bisa senang dengan apa yang mereka terima. Coba kalau yang berkunjung puluhan gitu, mereka juga mendapat banyak uang juga ya, Mbak," ucap Devi sambil menghitung berapa meja yang isi. Jika satu meja mengasih semua sama seperti Tia, maka jelas bisa dihitung kan berapa pendapatan tambahan mereka itu.
__ADS_1
Tia tersenyum melihat adik iparnya yang terlihat sibuk menghitung berapa rupiah yang didapat oleh sang pelayan. Tia mengembuskan napasnya, bagi Tia apa yang dilakukan Devi sungguh pekerjaan yang tidak ada hasilnya karena mengurusi pendapatan orang.