
Tidak berapa lama Hans kembali dari kantor. Senyum Tia langsung merekah melihat kedatangan suami tercintanya. Melihat raut wajah Hans yang begitu kelelahan, Tia jadi urung menceritakan soal kedatangan Ridho. Dia khawatir Hans akan emosi jika dia menceritakan hal itu saat Hans sedang kelelahan seperti saat ini. Akhirnya Tia memutuskan akan menceritakannya setelah Hans sudah tenang.
"Wahh, opornya wangi sekali," komentar Hans setelah membersihkan diri. Dia menuju dapur untuk makan malam. Kebetulan opor sisa tadi siang sedang dihangatkan oleh Tia.
"Iya, mas. Ini opor dari restoran langgananku. Istimewa banget, loh! Ayo, makan bersama!" ajak Tia dengan penuh semangat.
Pasangan suami istri ini pun makan malam bersama dengan suasana yang begitu menyenangkan. Melihat hal ini dia kembali terfikirkan untuk bercerita perihal itu pada suaminya.
"Emmm, mas, enak gak?" tanya Tia perlahan.
"Iya, sayang. Ini enak sekali! Kamu pinter memilih menu favorit!" Puji Hans disela mengunyah makanan. Senyum senang mengembang di wajah pria dewasa itu. Melihat sikap sang suami yang sedang senang, Tia semakin berani melanjutkan ucapannya.
"Hehe, sebenarnya, ini oleh-oleh, mas. Seorang teman datang berkunjung hari ini. Dia membawakan opor favoritku ini," lirih Tia dengan nada ragu.
"Benarkah? Siapa temanmu yang berkunjung itu, sayang?" tanya Hans jadi semakin penasaran. Biasanya dia juga selalu bercerita tentang siapapun yang datang ke rumah. Tetapi biasanya Tia tidak merasa ragu atau canggung saat bercerita. Hans jadi sedikit curiga akan sikap Tia.
"Eemmm, aku akan kasih tau. Tapi Tia mohon, mas Hans jangan marah, ya," pinta Tia dengan ekspresi khawatir. Wanita dewasa ini menunduk, memilin ujung baju demi menghindari sorot mata tajam, penuh selidik dari suaminya.
"Kenapa aku harus marah? insya Allah, mas gak akan marah, kok. Memangnya siapa sih, temanmu itu?" desak Hans. Dia tidak suka rasa penasaran, dan khawatir seperti ini.
"Dia ..., Mas Ridho. Dia yang hari ini berkunjung membawakan opor ini," lirih Tia. Wanita dewasa ini menunduk semakin dalam. Dia tidak berani menatap wajah suaminya sama sekali.
Sementara itu Hans langsung membatu. Seketika nafsu makannya sirna. Pria dewasa itu langsung meletakkan alat makan, dan meninggalkan meja makan begitu saja. Rasa kesal menyesakkan dada Hans. Meski dia lega Tia mau bersikap jujur padanya, tetap saja hatinya terluka mendengar Tia menerima kunjungan dari mantan suaminya itu. Biar bagaimanapun minder jika dibandingkan dengan Ridho si CEO kaya raya. Karena itulah dirinya sama sekali belum siap mendengar kenyataan bahwa Ridho masih menghubungi istrinya.
__ADS_1
"Mas! Mas Hans! Mas bilang tidak akan marah!" Tia menyusul dengan langkah hati-hati. Wanita dewasa ini mengikuti suaminya masuk ke dalam kamar untuk menjelaskan segalanya.
"Mas, dia datang hanya untuk mencari nasehat. Dia sedang ada masalah, dan tidak tau harus pergi kemana. Kami sungguh tidak melakukan hal lain, mas. Tanyakan pada bik Inah, pembantu kita. jika kamu tidak percaya," jelas Tia begitu dia duduk di sisi Hans.
Sang suami tidak mengatakan apapun. Dia langsung berbalik, berbaring di sisi lain tempat tidur. Dia ingin menenangkan hatinya sebelum mendengar penjelasan tentang masalah ini. Jujur saja Hans tidak mau meluapkan kemarahannya pada sang istri yang sedang hamil. Jadi, dia akan menenangkan diri dulu sampai fikirannya cukup dingin untuk mendengarkan semua penjelasan dari Tia.
Malam pun berlalu dengan rasa sepi dan sunyi di hati Tia. Berharap esok pagi kemarahan Hans akan mereda.
***
Sementara itu, di malam yang sama penghuni baru telah menempati rumah kosong yang ada di samping rumah Tia dan Hans. Lelaki itu tersenyum karena dia dekat dengan sang wanita pujaan.
Ridho bermonolog sembari duduk di teras rumahnya untuk melihat rumah Tia.
Hari itu seperti biasa, sejak pagi Ridho duduk di dekat jendela lantai dua rumah sewaannya. Bertemankan segelas kopi, pria dewasa ini mengamati setiap pergerakan dari rumah Tia.
Pagi itu Ridho senang sekali melihat pemandangan dari rumah Tia. Sebab hari itu dia melihat Hans tidak mau mengecup kening Tia seperti biasanya saat akan berangkat ke kantor. Dari sini Ridho sudah bisa memprediksi, bahwa Hans pasti marah pada Tia karena kunjungannya tempo hari.
__ADS_1
"Langkah kedua sudah mulai berlangsung," gumam Ridho saat melihat mobil Hans pergi meninggalkan rumah.
"Ternyata mudah sekali membuat dia salah paham," tambahnya tersenyum puas. Pria ini pun menyesap kopinya dengan penuh rasa bahagia. Perlahan langkah-langkahnya untuk memisahkan Tia dan sang suami kini semakin jelas terlihat.
Hari itu Ridho tidak berkunjung ke rumah Tia. Tetapi dia menelpon Tia setelah berhasil mendapatkan nomornya dari seseorang.
"Halo, Tia. Apakah kamu di rumah sekarang?" Tanya Ridho begitu panggilannya diangkat.
"Tidak! aku sedang sibuk di luar! Untuk sementara waktu, jangan ke rumahku dulu, mas!" ucap Tia dengan suara kesal.
"Kenapa, Tia? Kamu bilang kemarin aku boleh datang berkunjung?" suara Ridho sarat akan rasa sedih. Lagi-lagi dia bersikap begitu untuk mempermainkan perasaan Tia yang terlalu mudah bersimpati pada siapapun.
"Mas Hans salah paham. Jadi untuk sementara kamu jangan berkunjung dulu. Nanti kalau dia sudah tidak marah, aku pertemukan kalian, agar kalian bisa saling mengenal satu sama lain," jelas Tia. Terdengar jelas wanita dewasa ini mencoba bersikap tenang menghadapi kedua pria yang membuatnya kebingungan.
"Hahh. Baiklah kalau begitu. Aku mengerti, Tia. Terimakasih sudah memperingatkan aku dengan sabar. Kalau begitu, aku tutup dulu telfonnya," lirih Ridho terdengar semakin sedih.
Panggilan telepon pun ditutup. Setelah mendengar penjelasan Tia tentang suaminya, bukannya Ridho merasa bersalah, dia justru tertawa kegirangan. Di lantai 2 rumah mewah itu, Ridho tertawa puas setelah melakukan panggilan telepon dengan Tia.
"Aku berhasil. Tidak aku sangka akan semudah ini membuat pria itu salah paham dengan Tia. Sekarang, perlahan dia akan semakin kesal pada Tia, dan meninggalkannya. Pada saat itu, akulah yang akan berada di sisi Tia untuk menggantikan posisinya," gumam Ridho dengan penuh keyakinan.
Setelah menutup telepon dari Ridho perasaan Tia semakin tidak nyaman. Akhirnya wanita dewasa ini memutuskan untuk pergi ke mall membeli perlengkapan bayinya tanpa ditemani sang suami. Setelah bersiap dengan pakaian yang nyaman, Tia pun berangkat ke mall ditemani sang pembantu setianya.
__ADS_1