
"Bercerai?"
"Anda ingin saya mengurus perceraian tuan dan nyonya Wulan?" tanya sang pengacara lagi.
"Benar, Pak Damar. Saya ingin bercerai dari istri saya, sudah tidak ada lagi kecocokan di antara kami. Selain itu tolong kau urus penjualan rumah yang kami tempati itu," jawab Hans.
Hans memutuskan untuk menjual rumah yang ia tempati bersama sang ibu dan Wulan agar tidak ada lagi kenangan yang tersisa. Hans sangat kecewa dengan wanita yang dulu dia pilih sebagai istri.
"Baiklah, Tuan. Saya akan segera mengurusnya sesuai de gan perintah Anda," jawab Damar --pengacara Hans.
"Baiklah, terima kasih, Pak Rudi. Kami tunggu secepatnya," ucap Hans lagi.
Hans mematikan panggilannya, dia menoleh ke arah sang ibu yang masih tertidur. Besok adalah operasi kaki ibunya, Hans menyesal mengapa dulu dia tidak mendengarkan nasehat ibunya mengenai Wulan.
Flashback Off.
Bu Ningsih menghentikan cerita bagaimana Hans memutuskan untuk bercerai dengan Wulan.
__ADS_1
"Begitulah, Tia. Awal bagaimana Hans memutuskan untuk bercerai dengan Wulan. Ternyata bukannya dia sadar, tapi malah merusak rumah tanggamu. Ibu dan Hans minta maaf untuk semua, apakah kau mau memaafkan kami?" tanya Bu Ningsih pada Tia.
Tia terdiam sejenak, dia tidak menyangka kakak perempuannya telah berdusta kepadanya. Dulu Wulan bercerita kalau suaminya telah berbuat kejam kepadanya. Namun ternyata semua itu hanyalah modus untuk bisa mendapatkan simpati dari Wulan.
"Bu, ini sudah menjadi takdirku. Tia bersyukur dengan peristiwa ini aku bisa tahu bagaimana watak asli kakak perempuan dan suamiku itu. Tia tidak marah pada kalian dan tentu saja Tia memaafkan ibu dan kak Hans," ucap Tia.
Bu Ningsih sangat bahagia, mendengar Tia sudah memaafkannya. Bu Ningsih mengagumi Tia, wanita sederhana yang baik budi dan akhlaknya.
"Terima kasih, Tia. Sungguh kamu adalah wanita yang baik hati. Beruntung lelaki yang meminang mu menjadi istrinya. Sayang, Ridho tidak tahu, dia telah membuang batu permata demi batu kerikil. Tia, sudi lah kau tinggal bersama kami, kami akan sangat senang jika kau mau tinggal bersama kami di sini." Bu Ningsih menggenggam tangan Tia.
Tia terkejut mendengar permintaan Bu Ningsih. Dia pun melihat ke arah Hans. Hans mengangguk tanda dia juga menyetujui dengan usulan ibunya.
Tia mengernyitkan dahinya, dia heran kenapa mantan kakak iparnya itu bisa tahu kalau dia punya usaha online.
"Maaf, aku tahu, kamu jualan on-line dari kakakmu," jawab Hans. Tia barulah mengerti mengapa Hans tahu kalau dia memiliki bisnis online.
"Bagaimana, Tia? Kamu mau 'kan tinggal bersama ibu?" tanya Bu Ningsih.
__ADS_1
Tia menatap Ningsih lekat-lekat, dicarinya kebohongan, tapi yang dia temukan hanya ketulusan. Tia mengangguk, dengan tersenyum.
"Baiklah, Bu. Jika ini adalah permintaanmu, Tia akan tinggal di sini," ucap Tia.
Ningsih sangat bahagia, dan Hans pun merasa lega. Setidaknya ada yang akan menemani sang ibu, jika Tia tinggal bersama mereka.
"Mbak Wulan, tunggu pembalasanku. Aku akan menunjukkan kalau aku bukan Tia yang bodoh dan lemah!" ucap Tia dalam hati, tangannya terkepal menahan amarah pada Wulan dan keluarganya. Tia berjanji akan membalaskan sakit hati yang ia rasakan.
"Tia, kakak akan bantu memindahkan semua barangmu ke sini, bagaimana?" ucap Hans malu-malu.
Tia melirik ke arah Hans, terbesit di dalam akal pikiran jika Hans akan bisa membantunya untuk balas dendam pada sang kakak dan keluarganya.
"Baiklah, Kak. Kita akan memindahkannya sekarang juga," jawab Tia dengan senyum manisnya. Sudut bibir tercetak seringai dengan sejuta makna.
Hans pun akhirnya membantu Tia memindahkan semua barang Tia dari kos-kosannya. Setelah selesai memindahkan semua barang Tia ke rumah Hans, Tia mulai menata hidupnya. Ningsih sangat bahagia hingga kini jauh terlihat semakin sehat karena ada Tia yang menemani dan merawatnya.
Hari demi hari, bulan demi bulan Tia lalui bersama Ningsih dan Hans. Tidak jarang Hans memuji kepandaian Tia memasak. Hans pun juga mulai terlihat semakin berisi tubuhnya. Masakan Tia sangat cocok di lidahnya.
__ADS_1
"Hans, tidakkah kau ingin menjadikan Tia sebagai istrimu?" Tanya Ningsih pada anaknya.