
"Assalamualaikum," ucap seseorang yang menarik atensi Clara dan Meri.
Clara pun berinisiatif membuka pintu lalu kembali ke tempat duduknya semula seraya menyeringai licik.
"Ma–mas Gunawan? Ngapain Mas, ke sini?" Spontan Meri yang terpegun pun bertanya begitu.
"Istri saya yang nyuruh ke sini tadi. Dia minta jemput. Mau pulang sekarang?" Gunawan menengok pada Clara.
"Iya, Mas. Tapi bentar, aku harus ke kamar mandi dulu." Clara pun melesat memasuki rumah lebih dalam tanpa bertanya kamar mandinya di sebelah mana. Namun dia tak perlu tahu kamar tersebut, sebab inilah rencananya. Clara sengaja meninggalkan Gunawan dan Meri berduaan dia sana. Kemudian menguping di balik sekat dinding.
"Gimana keadaanmu, Meri?" tanya Gunawan membuka percakapan saat istrinya sudah menghilang dari pandangan. Dia tak tahan rasa untuk tidak bertanya.
"Ba–baik, Mas." Meri merasa tidak aman ditinggal berdua saja dengan Gunawan. Dia merasa terancam dan tertekan, sebab kelebatan kenangan masa silam mulai berhamburan memenuhi kepalanya. Membikin Meri tidak fokus dan gelisah. Dia tidak boleh berada dalam situasi tersebut terlalu lama. Rasanya sangat menyakitkan pun sebak menghimpit dada. Sakit sekali bertemu secara langsung begini dengan orang yang pernah memberikan luka, Meri tidak kerasan.
Gunawan memandangi Meri dari atas ke bawah lalu kembali lagi. "Kasihan banget kamu, Meri. Sekarang harus memakai kursi roda begini. Padahal dulu kamu begitu cantik saat masih bisa menggunakan kedua kakimu. Tinggi semampai," tuturnya merasa prihatin dengan keadaan Meri.
Terlihat Meri meremas jemari dengan gugup. Telempapnya sudah basah. Cabar hati membuat Meri kian kelesah. Dia tak tahu harus berbuat apa untuk menghindari obrolan dengan Gunawan.
__ADS_1
Meri tak bisa berlama-lama dengannya. Sekarang saja kepalanya sudah didera pusing dengan pandangan kebiruan tak keruan. Meri benar-benar ketakutan. Andai Cahyo ada di rumah, dia pasti memiliki pendampingan saat ini. Takkan menghadapi Gunawan sendirian.
Tiba-tiba Gunawan meraih tangan Meri. "Meri …."
"Lepaskan tangan saya!" seru Meri reflek seraya menepis genggaman tangan Gunawan. "Ma–maaf." Dia gugup dan menyesal telah bersikap seperti itu. Meri khawatir Clara akan mendengar atau melihatnya.
"Ayolah, Meri. Jangan seperti ini. Kita terhubung oleh Tia. Ingat? Jadi kita harus akur." Perkataan Gunawan membuat Meri bergidik jijik. "Aku menyayangi Tia, Meri. Begitu juga denganmu. Meski Tia ada karena kesalahanku padamu yang kesulitan mengendalikan nafsu, tetapi dia buah cinta kita, Meri."
"Stop, Mas! Kamu pikir aku perempuan seperti apa?! Tia ada karena kamu meruda paksaku, Mas! Bukan keinginanku! Kamu pikir aku menerimanya begitu saja selama ini, Mas? Nggak! Sangat sulit menerima Tia! Bahkan berpuluh tahun lamanya anak itu menerima kebencianku! Aku tidak pernah menginginkan keberadaannya!" sungut Meri dengan iris membelalang menggenang. Sakit rasanya bila mengingat semua itu. Meri tak pernah melihat Tia sebagai anak. Dia tak lebih dari noda menjijikkan untuk hidup Meri. Wanita perih baya itu benar-benar membenci Tia juga Gunawan.
"Jangan seperti itu, Meri. Maafkan aku. Aku tahu telah salah melakukan semua itu padamu. Tapi jangan pernah membenci Tia. Kasihan dia. Dia tidak tahu apa-apa," jelas Gunawan. Hatinya pilu mendengar betapa Meri membenci Tia–buah hatinya dari Meri–anak yang selalu dia sayangi.
Sementara di balik dinding Clara terjelengar mendapati kenyataan ini. Tia adalah anak haram Meri hasil dari rudapaksa Gunawan. Clara benar-benar tak habis pikir.
Di tengah pembicaraan yang intens dan emosional itu tiba-tiba saja Clara muncul, membuat Meri dan Gunawan terkesiap. Membungkam mulut keduanya, seperti tidak pernah mempunyai sangkut paut apapun, bak orang asing.
"Sudah, Ma?" tanya Gunawan gugup. Dia cemas istrinya tak sengaja mendengarkan obrolan dengan Meri.
"Apa ada yang aku lewatkan? Mas? Kenapa kalian menjadi gugup begitu?" Clara pura-pura menanyakan mengapa Meri dan Gunawan tiba-tiba menjadi gugup seperti itu.
__ADS_1
"Ti ... Tidak ada apa-apa, Ma. Kami hanya mengobrol biasa layaknya tuan rumah dengan tamunya," jawab Gunawan sembari menyugar rambutnya untuk menghilangkan kegugupannya.
"Kalian kelihatan dekat sekali. Meri apa benar kalian hanya sebatas tuan rumah dan tamunya saja?"
Clara duduk di tempat semula lalu tersenyum bersahaja kepada Meri dan Gunawan. Kini dia sudah mengetahui semuanya dan tahu apa yang harus dilakukan. Clara sudah bersumpah tidak akan membiarkan siapapun menyentuh keluarganya. Dia akan menjaga keadaan tetap seperti sebelumnya.
Meri terkekeh tawar, menutupi kecemasannya. "Benar, Bu. Sebatas tuan rumah dan tamunya saja.Selain itu kami juga hanya sebatas kenalan lama, Bu. Suamiku pernah menjadi karyawan Pak Gunawan dulu. Tapi baru kali ini saya berhadapan langsung dengan beliau. Karena sebelumnya hanya mendengar cerita-cerita pendek dari Mas Cahyo saja." Dia meremas ujung baju dengan gelisah.
"Benarkah? Memang Mas Cahyo cerita apa saja tentang suamiku?" Clara langsung menanggapi ucapan Meri.
Meri tertegun mendengar pertanyaan cepat dari Clara, tetapi segera menyadarkan diri. "A–ah, i–itu … Mas Cahyo bilang kalau Pak Gunawan atasan yang baik." Meri gelagapan.
Meri tak tahu harus menjawab bagaimana pertanyaan spontan Clara. Kalau tidak langsung dijawab atau menolak menjawab, sudah pasti itu akan membuat situasi menjadi mencurigakan. Karena kentara terlihat Clara mempunyai prasangka pada Meri. Terbukti dari kedatangannya yang tiba-tiba serta menanyakan tentang hubungan Tia dan Gunawan.
"Hanya itu? Apa tidak ada lagi?" Clara mengamati Meri intens. Dia mendesak Meri untuk bercerita lebih dari yang sudah dia katakan barusan. Rasa penasaran masih menghinggapi hati wanita dengan penampilan elegan dan mewah itu.
"Ti–tidak, Bu. Hanya itu." Meri meneguk salivanya gelisah. Degup jantungnya sudah sangat kacau, menggedor-gedor sangkar rusuk seolah minta dibebaskan.
Keberadaan Clara seorang sudah membuat Meri terkencar-kencar dan kini ditambah dengan kehadiran Gunawan, makin parahlah panik yang dia rasakan. Di dalam hati Meri terus berdoa, meminta Tuhan membikin sepasang suami-istri ini segera pergi dari rumahnya. Sungguh dia sudah tidak tahan menghadapi keduanya. Mereka berdua sama-sama tak berperasaan dan egois.
__ADS_1
"Tuhan, tolong hamba. Hamba sudah tidak kuat lagi. Mengapa mas Cahyo tidak segera datang, kemana dia?!" gumam Meri di dalam hati. Dia menoleh ke arah pintu berharap Cahyo segera datang.