
"Mama tenang dulu ya, Ma. Tia tidak akan menyakiti Mama. Mama tenang saja," ujar Hans masih menenangkan ibu mertuanya yang semakin histeris. Bahkan, rambutnya yang sedikit panjang menjadi berantakan karena ulahnya sendiri.
"Lebih baik kalian pulang saja, Nak. Biarkan mama kalian istirahat dan menenangkan diri terlebih dahulu. Papa yakin, mentalnya saat ini pasti terguncang," ujar Cahyo mencoba membuat istrinya kembali tenang dan menyuruh anak tirinya untuk pergi dari rumahnya terlebih dahulu.
"Baik, Papa. Saya akan membawa Tia pulang. Papa, bisakah kita bicara sebentar?" tanya Hans sedikit berbisik dan mendekati ayah mertuanya.
"Baiklah. Sebentar, ya. Papa akan membawa mama ke kamar dulu," ucap Cahyo, sejurus kemudian ia menggendong sang isteri, menaiki anak tangga, tempat kamar mereka berada.
"Iya, Pa."
Hans membawa Tia yang masih terisak ke dalam pelukannya. Mengusap air mata itu dan menatap sendu istrinya.
"Mas, kenapa Mama masih seperti ini ketika melihat Tia? Tia ingin mama pulih, Mas," Isak Tia, membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya.
"Yang sabar ya, Sayang. Jangan terlalu di pikirkan, dan dapat membuat kamu merasa terbebani. Aku yakin, mama pasti bisa sembuh. Kamu yakin sama Mas ya, Sayang?" Hans semakin mengeratkan pelukannya kepada istrinya yang kini mulai bergetar bahunya.
"Tapi, Mas …."
"Shuttt!" Hans meletakkan jari telunjuknya di bibir merah Tia.
"Jangan ragu, Sayang. Kita yakin, kita punya Tuhan. Jangan pernah meragukan Tuhan ya, Sayang. Allah pasti akan membantu kita dan mempermudahkan semua urusan kita," ujar Hans, masih mencoba menenangkan Tia yang masih larut dalam kesedihannya.
"Mas …."
"Yakin ya, Sayang!"
Tia mengangguk pasrah.
"Sebentar. Mas mau bicara dulu sama ayah kamu, ya." Hans melepaskan pelukannya dari sang istri saat melihat ayah mertuanya sudah keluar dari rumah dan mencarinya.
Tia kembali mengangguk dan membiarkan suaminya pergi menghampiri ayahnya. Sementara Tia, ia memilih masuk ke dalam mobil untuk menenangkan diri.
"Ada apa, Nak?" tanya Cahyo begitu Hans sudah ada di depannya.
"Papa, bagaimana kalau kita membawa mama ke psikiater? Saya sangat turut prihatin dengan apa yang dialami oleh mama, dan juga, saya sangat mengkhawatirkan kondisi istri saya." Hans mulai membuka pembicaraan, sedangkan Cahyo hanya menyimaknya.
"Huhhh! Sebelum kamu mengusulkan hal ini, papa sudah lebih dulu merencanakannya, Hans. Tapi apalah daya, Mama Tia selalu menolaknya. Dia selalu mengatakan jika itu hanya trauma masa lalu yang bisa hilang dengan sendirinya."
Cahyo menghela napas berat. Kepalanya mendongak untuk menatap awan yang menghiasi langit biru siang ini. Kini, keduanya sedang berada di luar rumah karena kekacauan yang telah dibuat oleh Mery begitu membuat semuanya menjadi kacau.
"Respon yang Mama berikan seperti itu, Papa? Hmm …. Sepertinya ini agak sulit untuk mengajaknya kembali ke sana. Setidaknya, kita tahu, apa saja penyebab trauma itu dirasakan kembali oleh mama. Tia tidak bersalah dalam hal ini, Papa."
"Papa tahu, Hans. Papa mengerti. Trauma Mery papa rasa begitu mendalam hingga membuat jiwanya terguncang hebat. Papa juga sudah tidak tahu, apa yang harus papa lakukan agar semuanya bisa berjalan normal," keluh Cahyo.
"Besok, saya akan ambil libur kerja lagi, Papa. Saya akan membantu papa membujuk mama untuk mengajaknya ke psikiater. Bagaimana, Pa? Apakah Papa setuju?" tanya Hans.
"Baiklah. Papa setuju, Hans. Jam berapa?"
"Jam 8 saja, bagaimana? Kebetulan, Hans memiliki kenalan seorang dokter. Dan Hans yakin, jika dia memiliki kenalan seorang psikiater yang ahli dan bisa kira percaya," ucap Hans membuat senyum di wajah Cahyo terlihat.
"Okey. Papa setuju. Besok, hubungi papa, ya."
Hans meresponnya dengan anggukan kecil kepalanya.
"Apakah Tia juga akan ikut, Hans?"
"Tidak, Papa. Tia tidak akan aku ajak. Jika aku mengajaknya, maka rencana kita pasti akan gagal total."
"Alasan pertama dan mendasar trauma Mama kembali adalah ketika melihat Tia. Maka dari itu, saya akan menghindari mama dari Tia untuk beberapa waktu. Setidaknya, sampai proses terapi ini selesai," tutur Hans, memperjelas rencanannya.
"Bijak. Papa suka dengan pemikiran kamu."
"Selain itu, Hans juga memerlukan restu dari mama untuk merestui hubungan Aris, adik Tia dan calonnya kepada mama. Bukankah kemarin mereka sudah datang ke sini, tapi ditolak oleh Mama?"
Cahyo mengangguk.
"Iya. Mama kalian menolaknya."
"Baiklah. Besok, ya."
Hans lalu berpamitan dan izin untuk pulang. Sepanjang perjalanan, Tia terus terdiam tanpa berbicara sepatah kata pun. Pandangan matanya terus menatap kosong luar jendela tanpa menyapa ataupun memulai pembicaraan dengan suaminya.
__ADS_1
Hans tersenyum kecil. Ia mencoba memaklumi kondisi istrinya saat ini.
"Sayang, kita makan siang dulu, yuk!" ajak Hans, melirik sekilas Tia yang sama sekali tidak menanggapi ucapannya.
"Sayang?" panggil Hans lagi, namun masih sama. Tak direspon oleh Tia.
Hans menepikan mobilnya. Ia membuka sabuk pengaman dan menatap Tia dari samping dalam-dalam.
"Sayang." Hans membalikkan badan Tia dengan paksa agar menatapnya.
"Wajah kamu pucat sekali, Sayang. Kita mampir ke restoran dulu, ya! Ini perintah, bukan ajakan!" tegas Hans. Ia sedikit terkejut saat wajah istrinya sangat terlihat pucat pasi.
"Nggak, Mas. Aku mau pulang aja."
"Kamu harus makan dulu, Sayang. Manusia itu membutuhkan makanan untuk bertahan hidup." Hans mencoba membalikkan wajah istrinya mengahadapnya.
"Tia mau makan bareng sama anak-anak aja, Mas. Kasian mereka sudah kita tinggal ber-jam-jam."
"Nggak papa. Ada bibi di rumah yang bisa mengurus mereka. Sekarang, kita makan dulu untuk menenangkan pikiran dengan cara mengenyangkan perut ya, Sayang." Hans mengusap puncak kepala Tia.
***
Keesokan harinya ....
Sesuai janjinya, Hans kini sudah berada di rumah kediaman mertuanya. Jaket kulit sudah melekat di tubuhnya. Hans hanya mengatakan kepada Tia jika dirinya akan melakukan pertemuan dengan teman lamanya, maka dari itu Hans memutuskan untuk ambil libur lagi.
"Assalamualaikum, papa, Mama," sapa Hans begitu sudah membuka pintu utama.
"Wa'alaikumsalam."
Hans tersenyum melihat Mery terlihat begitu segar pagi ini. Wajahnya tidak sepucat kemarin. Kini, bibir pucat itu dilapisi oleh lipstik yang sedikit tebal.
"Papa, Mama, bagaimana kabar kalian hari ini?" tanya Hans, kemudian langsung menyalami tangan mertuanya.
"Alhamdulillah baik, Hans."
"Kamu bersama siapa datang ke sini, Hans?" tanya Mery begitu tegas membuat Hans meneguk air liurnya dengan kasar.
"Sendiri, Ma. Kebetulan, tadi habis pamitan sama teman yang rumahnya juga di area komplek ini," jawab Hans.
Hans tersenyum simpul mendengar mertuanya menyebutkan nama sang istri dengan samaran.
"Ma, Pa. Mau ikut Hans ke rumah sakit, nggak?" tanya Hans dengan hati-hati agar tidak langsung melukai perasaan Mery.
"Siapa yang sakit, Hans?" tanya Mery dengan spontan langsung menatap Hans.
"Nggak ada, Ma. Hans cuma mau ditemani periksa saja. Maukah?" Hans menatap lekat-lekat mata Mery. Sedangkan Cahyo ha ya diam dengan terus merapalkan doa-doa agar istrinya menyetujui ajakan menantunya tanpa harus mereka memaksa Mery untuk pergi ke rumah sakit.
"Baiklah. Ayo. Kamu terlalu sering bekerja. Mama yakin, di umur kamu yang masih muda, ada banyak penyakit yang sudah mulai berkembang. Makanya, jadi suami jangan gila kerja, Hans!" ketus Mery. Suatu jawaban yang tidak pernah terpikirkan oleh Hans.
"Hehe. Iya, Ma." Hans menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Sebentar, Mama siap-siap dulu."
***
Hans melangkah lebih dulu diikuti oleh kedua mertuanya di belakangnya. Hans berkali-kali menghela napas. Tak henti ia merapalkan doa-doa agar Mery tidak curiga pada apa yang sudah ia rencanakan dengan matang.
"Hans, kamu mau periksa apa? Jantung? Kok, Mama lihat dari tadi ruangan dokter jantung terus?" tanya Mery dengan mata yang tak henti melihat setiap ruangan dokter yang mereka lewati.
"Iya, Ma. Kenalan Hans dokter jantung," jawab Hans tanpa membalikkan badannya.
"Kamu sakit jantung, Hasn?" tanya Mery dengan nada terkejut.
"Tidak, Ma. Ayo, masuk," ujar Hans, mempersilakan kedua mertuanya untuk masuk ke ruangan temannya yang sudah memiliki janji dengannya akan membawakan seorang psikiater.
"Selamat datang, Tuan dan Nyonya," sapa Doni–dokter Jantung kenalan Hans–tersenyum melihat kedatangan dua pasangan setengah baya.
"Ya," jawab Mery tanpa ekspresi.
"Perkenalkan, dia adalah Adinda, seorang psikiater yang akan membantu Nyonya untuk keluar dari masalah yang Nyonya Alami," ucap Doni, langsung memperkenalkan rekannya yang duduk di sampingnya.
__ADS_1
Sontak saja, mata Mery melotot mendengarnya.
"Apa?!!! Apa-apaan ini, Hans? Kamu membawa Mama pada dokter psikiater? Apakah kamu pikir, Mama sudah gila?!" bentak Mery dengan begitu emosi.
"Maaf, Ma."
Hanya kalimat itu yang dapat Hans katakan untuk saat ini.
Mery mulai mengamuk saat dokter itu mulai melakukan sesuatu kepadanya. Mery terus memberontak dan tidak merespon setiap pertanyaan yang dokter psikiater itu tanyakan kepadanya.
"Nyonya, Nyonya. Mohon tenang, Nyonya. Jawab pertanyaan saya dengan santai," ujar Adinda sambil menahan rasa sakit di tangannya yang berdarah akibat luka yang diberikan oleh Mery karena cakaran kukunya.
"Sepertinya sudah tidak ada cara lagi," lirih Adinda, namun masih bisa di dengar oleh Hans, dan Cahyo, serta Doni yang masih mendampingi sahabatnya di ruangannya.
"Apa maksudmu, Mbak?" tanya Hans, merasa khawatir jika ternyata dokter itu juga tidak bisa menyembuhkan ibu mertuanya.
"Maaf. Izinkan saya untuk menghipnotis orang tuanya ya, Tuan," ujar Adinda, meminta izin terlebih dahulu.
Baik Hans maupun Cahyo langsung saja mengangguk, memberikan persetujuan.
"TIDAK! APA YANG MAU KAMU LAKUKAN? JANGAN HARAP SETELAH KAMU BERHASIL MENGHIPNOTIS SAYA, SAYA AKAN MEMBERIKAN RESTU KEPADA ARIS UNTUK MENIKAHI WANITA PENIPU ITU!" teriak Mery, langsung memberontak lebih menyeramkan dari pada sebelumnya.
Hans sedikit melebarkan matanya mendengar hal itu.
"Penipu?" batin Hans.
Sang dokter psikiater langsung memulaikan tugasnya. Dalam hitungan detik, berontakan yang Mery lakukan perlahan melemah. Pandangan matanya yang awalnya menyala kini meredup dan duduk dengan lemas di sofa.
"Nyonya, bisa tolong katakan, apa yang sebenarnya telah membuat Nyonya seperti ini?" tanya Adinda mulai melakukan hipnotis.
"Saya tidak setuju dengan anak saya. Dia anak lelaki saya satu-satunya yang saya punya, setelah wanita itu. Aris akan menikahi wanita tidak baik, maka dari itu saya tidak setuju!" jawab Mery dengan tangan menunjuk pada Tia.
"Dia wanita jahat, tidak pantas bersanding dengan anak saya yang memiliki sifat baik seperti Aris. Dia wanita jahat yang tidak memiliki hati! Penampilannya yang anggun hanya menutupi semua kejahatannya!" ujar Mery lagi.
Semua orang hanya menyimak semua penjelasan Mery yang masih di dalam pengaruh hipnotis.
"Nyonya, bisakah Anda mengatakan apa alasan Anda membenci wanita yang akan bersanding dengan anak Anda? Kenapa Anda tidak menyukainya?" Adinda mulai mengulik semua informasi.
"Dia penipu! Dia wanita jahat! Dia sebenarnya tidak menyukai anak kecil! Dia sangat membenci setiap anak kecil! Walaupun dia seorang guru, dia tidak bisa mendidik anak muridnya dengan baik! Bahkan, dia juga pernah mencubit cucu lelaki saya ketika memecahkan vas bunga di kantor sekolah tanpa disengaja! Saya mengetahuinya, karena saat itu saya sedang mencari cucu saya yang tak kunjung datang saat saya ingin menjemput mereka!" jelas Mery membuat semua orang terkesiap.
"Tidak hanya itu saja, saat terapi saya bertemu wanita itu sedang menghajar anak laki-laki kecil dengan begitu kejamnya. Saya tidak ingin anak saya menjadi suami wanita itu! Aku tidak mau!!" histeris Mery dengan mata yang terpejam.
Hans mengepalkan tangannya. Kini, ia mengerti, kenapa anaknya, Hasan lebih terkesan dingin melihat kedatangan adik iparnya bersama dengan wanita yang diakui oleh anak perempuannya sebagai wali kelas Hasna.
"Jadi seperti itu apa yang terjadi, membuat mama begitu trauma. Jika memang Alya bukan gadis yang baik, maka aku harus bisa menjauhkan Hasna dari Alya!" gumam Hans di dalam hati.
Menurut Hans jika Hasna dekat dengan Alya maka keselamatan Hasna bisa terancam. Hans mengambil ponselnya, ingin memberitahu pada Tia.
Tuuut ....
Tuuut ....
"Hallo, Assalamualaikum, Mas."
"Wa'alaikum salam, ada yang ingin mas bicarakan. Sekarang kamu ada di mana?" tanya Hans pada sang istri.
"Aku sedang ada di rumah, kebetulan Alya ada di sini," ucap Tia tanpa curiga sedikitpun.
"Bisa kau temui, Mas? Kita bertemu di kafe biasa waktu kita sering bertemu," ucap Hans meminta Tia untuk pergi menemui dirinya.
"Baiklah, Mas. Aku akan bersiap terlebih dahulu," ucap Tia menyetujui permintaan Hans. Beruntung hari ini Tia pulang cepat karena kebetulan anak-anaknya sedang liburan sekolah.
"Oke, terima kasih, Sayang. Satu jam lagi mas akan sampai," ucap Hans. Mengakhiri pembicaraannya dengan sang istri.
Hans menutup teleponnya kemudian berjalan mendekati Cahyo.
"Papa, mari Hans antar pulang terlebih dahulu, karena sebentar lagi Hans memiliki temu janji dengan klien," ucap Hans pada Cahyo.
"Baiklah, Nak Hans. Papa ikut saja," jawab Cahyo pasrah pada sang menantu. Mereka bertiga pun meninggalkan rumah sakit.
Sementara itu Tia juga bersiap untuk menemui Hans. Dia berpamitan pada Alya.
__ADS_1
"Alya, mbak mau ada perlu sebentar dengan mas Hans. Mbak titip Hasan dan Hasna. Mbak tidak lama kok, kamu tidak apa-apa mabo titipin duo kembar ini?"
"Iya, Mbak. Gak apa-apa, santai aja tidak perlu sungkan minta tolong pada Alya," jawab Alya sembari tersenyum ke arah Tia.