
Sinta tampak bergelayut manja di lengan lelaki itu, namun semua kebahagiaan yang ia rasa bersama dengan Sherly anaknya tidak bertahan lama.
Dari arah pintu masuk, seorang wanita dengan pakaian glamor dan diikuti beberapa lelaki dengan jas dan berkaca mata hitam berjalan dengan angkuhnya.
Saat tiba di meja Sinta, tiba-tiba wanita itu menarik paksa Sinta dari tempat duduknya.
"Ja Lang! Bangun kau ...! Berani sekali kau menggoda suami orang hah! Apa semua ini ibumu yang mengajarkannya?!" teriak wanita itu dengan suara lantang. Semua orang terkejut termasuk Gunawan. Sedangkan lelaki yang menjadi teman Sinta berdiri dengan wajah yang penuh ketakutan.
"Apa-apaan ini?! Siapa Anda!!" balas Sinta dengan suara yang lantang juga.
"Asal kau tahu, aku adalah istri dari lelaki yang kau rayu ini!" balas wanita itu sembari menunjuk ke arah lelaki yang bernama Galih itu.
Wajah Galih sudah pucat pasi. Dia tidak menyangka jika istrinya bisa tahu kalau dirinya makan malam bersama Sinta di mall.
Sinta menelan kasar salivanya. Mendadak nyalinya menciut mendengar kalau wanita yang sedang berbicara itu adalah istri sah dari lelaki yang bersamanya saat ini.
"Ma ... Sudahlah, ayo kita pulang, malu dilihat orang!" ajak Galih pada sang istri dengan menarik tangannya.
"Lepaskan, Pa!! Aku belum selesai dengan perempuan ja lang itu! Aku tahu pasti dia hanya ingin uangmu saja. Benarkan begitu?!" Wanita yang mengaku istri Galih itu menunjuk muka Sinta dengan mata yang masih melotot sempurna.
__ADS_1
Galih mengangguk tanda bahwa dirinya adalah suami dari wanita itu. "Iya bener ... dia adalah istriku!" Jawab kali dengan wajah yang sudah memerah menahan malu.
Sinta semakin terdiam dan menunduk malu. Bagaimana tidak terdiam, semua karena posisinya saat ini adalah sebagai terdakwa orang yang telah mengganggu rumah tangga orang lain. Kali ini Sinta tidak dapat berkelit lagi, tidak mengira jika istri dari lelaki itu akan datang dan melabrak dirinya.
"Sekarang aku ingin kau minta maaf dan kau akui kalau kau adalah wanita perebut suami orang!" tegas wanita itu ingin mempermalukan Sinta.
Sinta membulatkan matanya karena terkejut dengan permintaan wanita dengan penampilan layaknya sosialita yang kaya raya itu.
Jantung Sinta berdebar, dia berusaha untuk mengumpulkan semua keberaniannya.
"Kalau aku tidak mau, apa yang akan kau lakukan?!"tanya Sinta dengan tatapan remeh.
"Ck! Kau hanya tukang pembual saja! Aku tidak takut denganmu!" sahut Sinta berusaha tegar dan mempertahankan kesombongannya.
"Baiklah, aku akan lihat bagaimana kau ditangkap polisi dengan tuduhan selingkuh dan zina. Aku sudah mengumpulkan semua bukti dan kamu tidak akan bisa berkutik lagi!" tegas istri galih dengan seringai di sudut bibirnya. Ternyata istri Galih sudah merencanakan semua ini dengan begitu rapi.
"Laras! Apa-apaan kau ini? Jika kau laporkan dia maka aku pun akan terseret masalah ini!" Galih mencegah istrinya untuk berbuat nekat.
"Sebelum kau berselingkuh apa kau sudah memikirkan bagaimana kalau perselingkuhan mu ini diketahui oleh ku?" tanya istri Galih yang bernama Laras itu. Saat ini sudah pasti hati wanita itu remuk namun berusaha untuk tegar dan kuat.
__ADS_1
Galih menggelengkan kepalanya. Dia merasa dirinya aman karena sang istri tidak memperhatikan apa yang dia lakukan selama ini dengan Sinta. Laras semakin kesal karena sang suami memanggil namanya dengan kasar hanya demi perselingkuhannya aman.
"Aku mohon, Laras! Kita bisa bicarakan baik- baik di rumah. Tidak di tempat umum seperti ini!"
"Ck! Jika kau ingin aman mengapa kau sendiri malah makan berdua dengan wanita selingkuhan mu di tempat umum, hah!" sentak Laras dengan emosi yang sudah lama terpendam di dada. Tangannya bersedekap di dada, memandang sinis suami yang sudah mengkhianati dirinya.
Galih terdiam, dia lupa jika mata-mata sang istri bisa saja melaporkan apa yang dirinya lakukan bersama Sinta. Kini Galih tidak bisa berkutik lagi, semua sudah ada di bawah kendali Laras.
Sherly- anak Sinta memeluk sang ibu karena merasa ketakutan. Anak sekecil itu sudah dihadapkan pada urusan orang dewasa.
"Maa ... Ayo kita pulang," rengek Sherly sambil menangis. Dia takut dengan suara Laras yang keras menggelegar.
Gunawan ingin rasanya berdiri dan menghajar Galih. Namun ia tahan dan tetap duduk di tempatnya sambil terus mengawasi Galih dan istrinya. Dalam hal ini Sinta lah yang ada dalam posisi salah. Sudah tahu punya istri tapi masih diganggu juga. Gunawan menghela napas panjang. Apa yang dia lakukan untuk Sinta yakni menerima dan membiayai semua kebutuhan Sinta ternyata sudah disalah artikan.
"Cepat ja Lang. Segera kau minta maaf di depan publik sebelum kau ku laporkan pada polisi!" ancam Laras dengan nada yang semakin tinggi karena sudah menahan marah dan kesal pada Sinta.
Sinta semakin panik, belum lagi anaknya yang merengek minta pulang terus. Akhirnya Sinta pun menyerah dan menyetujui semua permintaan Laras.
"Baiklah, aku akan mengikuti maumu!" Balas Sinta.
__ADS_1