Menikahi Mantan Suami Pelakor

Menikahi Mantan Suami Pelakor
Bab. 102


__ADS_3

Steve tidak bisa mengejar sang ibu mertua lantaran dirinya yang belum mengenakan baju atasan. Karena frustasi Steve pun mengusap wajahnya kasar.


"Dasar sial! Hancur sudah semua yang sudah aku perjuangkan! Dan semua ini gara-gara kamu, Wulan!" umpat Steve pada Wulan.


Wulan membulatkan matanya saat melihat Steve marah-marah pada dirinya.


"Apa?! Kau salahkan aku!! Ingat ini semua karena keinginan kita berdua. Tidak hanya aku saja, kau yang bilang dari awal ingin membayari semua adalah kau, Mas!!" sahut Wulan dengan wajah yang memerah karena menahan marah. Bukan hanya uang yang tidak jadi dia dapatkan, akan tetapi juga rasa malu.


"Siaal! Kau memang wanita pembawa sial!!" Steve bergegas memakai pakaiannya lalu segera meninggalkan kamar yang ia sewa begitu saja. Beruntung sistem hotel ini membayar di muka, jika tidak pastilah Wulan yang kena akibatnya.


Wulan menangis di sudut ranjang. Dia tidak menyangka jika semua akan berakhir menyedihkan, kesenangan sesaat yang dianggap Wulan sebagai jalan untuk bisa mendapatkan ATM berjalan, ternyata gagal semua. Lelaki yang dipilihnya itu hanya lah lelaki kere yang mengandalkan harta keluarga istrinya.


"Dasar lelaki miskin! Dasar ... sial!! Ternyata hanyalah lelaki miskin yang sok kaya! Astaga, mengapa aku bodoh sekali. Bagaimana nanti jika aku hamil? Tadi tidak pakai pelindung!!" Wulan menggeram marah, merutuki kebodohannya sendiri.


Sementara itu, Steve melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, dia ingin segera kembali ke rumah sang istri untuk menjelaskan semua. Steve benar-benar takut kehilangan semua kedudukannya dan juga kemewahan hidup.


Tujuan Steve kembali ke rumah adalah berusaha untuk merayu sang istri yang baru hamil tua untuk tidak membiarkan sang ibu mertua memisahkan mereka. Dengan adanya anak sebagai alasan Steve untuk tidak ingin mereka berpisah.


Sementara itu Wulan menggunakan aplikasi taksi online pulang ke rumah. Dia lebih baik memilih berpura-pura seolah tidak terjadi apa-apa.


"Semoga mas Ridho saat ini sedang tidur karena mabuk. Aku yakin saat ini dia sedang tidur dengan pulas setelah mabuk," gumam Wulan di dalam mobil.


"Ini ongkosnya, Pak!" Wulan memberikan uang sebagai ongkos bayaran pada sang supir.


"Terima kasih, Mbak." Sang supir mengucapkan terima kasih lalu meninggalkan rumah Wulan begitu saja.

__ADS_1


Dengan langkah mengendap-endap, Wulan masuk ke dalam rumah. Suasana yang sepi karena semua sedang beristirahat membuatnya merasa lega dan bebas untuk masuk ke rumah.


"Tepat sesuai dugaanku, mereka semua sedang istirahat. Beruntung sekali di jam segini mereka sudah tidur semua," gumam Wulan di dalam hati sembari melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul delapan malam.


Dengan santai Wulan masuk ke dalam kamarnya, dilihatnya sang suami memang benar-benar sedang tidur.


"Syukurlah, mas Ridho sedang tidur. Beruntung tadi dia mabuk hingga aku bisa selamat! Permainan Steve memang aku akui sangat hebat. Tapi gara - gara nenek lampir gil4 itu aku harus kehilangan tambang emas ku! Awas saja akan aku balas perbuatan kalian!" gumam Wulan duduk di depan cermin rias menghapus riasan wajahnya.


Setelah selesai membersihkan wajahnya, Wulan pun membersihkan tubuhnya yang belum sempat ia bersihkan di hotel. Wulan mengeluarkan barang yang ada di dalam tasnya untuk mengambil sabun muka yang selalu ia bawa.


"Hahaha ... Steve, kau tidak akan bisa lepas dariku. Aku telah menyelamatkan ponsel mahal mu ini!" ujar Wulan sembari mengeluarkan ponsel Steve yang sempat ia ambil di tempat tidur hotel. Karena terburu-buru keluar karena panik, Steve lupa mengambil ponselnya yang dia taruh di atas ranjang.


Derrt ....


Dert ....


Wulan tersenyum sinis, dia tidak berniat untuk mengangkat panggilan tersebut. Sengaja Wulan diamkan agar istri Steve merasa kesal. Wulan ingin membuat drama seolah -olah Steve tidak peduli dengan istrinya.


Bip ... Bip!


Notifikasi pesan masuk ke ponsel Steve. Profil seorang wanita bergandengan tangan dengan Steve muncul di layar ponsel Steve.


"Hmm ... Rupanya sang istri menulis pesan pada Steve," gumam Wulan membuka pesan di aplikasi hijau milik Steve. Beruntung ponsel itu tidak dikunci, mungkin Steve ingin sang istri tidak mencurigai dirinya yang memiliki wanita lain.


Lagi-lagi Wulan mengerjai istri Steve, Wulan dengan senang, tertawa di atas penderitaan seorang istri. Sungguh rasa belas kasihan sudah tidak ada lagi di hati Wulan.

__ADS_1


'Mas Aku mau melahirkan, kamu dimana?!'


Wulan menyeringai, dibaca lalu dibiarkan saj pesan itu. Dia sengaja agar istri Steve kesal dan suasana hatinya buruk lalu akan mengalami masalah saat melahirkan. Wulan merebahkan dirinya di samping sang suami yang masih tertidur pulas. Dia membuka galeri foto di ponsel Steve. Rumah, mobil, perusahaan yang dimiliki Steve semua ada disini foto itu.


"Ternyata enak sekali hidup Steve. Sungguh lelaki yang serakah, istrinya cantik bahkan lebih muda dariku. Rumahnya mewah, mobilnya pun ada lima. Wah ... wah ... beruntung sekali nasib Steve. Tapi bagaimana ya nasibnya setelah kejadian malam ini? paling sebentar lagi akan jadi gelandangan, ha ... ha ... ha ...." Wulan tertawa senang melihat lelaki yang sudah memperdaya dirinya akan menderita.


Sementara itu, Steve terus melakukan mobilnya, perjalanan jauh yang akan dilaluinya hampir tujuh jam tidak ia pedulikan. Hal yang saat ini penting baginya adalah bertemu dengan sang istri.


"Semoga Sinta mau menerima permintaan maaf ku, jangan sampai ibu mertua cerita lebih dahulu pada Sinta. Aku yakin ibu mertua belum mengatakan apapun, karena memikirkan Sinta yang sedang hamil tua. Aku harus segera tiba di sana. Empat jam lagi aku akan sampai!" gumam Steve tersenyum. Dia tahu ibu mertuanya tidak akan mengadukan perbuatannya karena sang istri sedang hamil tua.


***


Malam terus merangkak naik menjemput fajar. Sebagian orang masih lelap tertidur dan sebagian lagi sudah memulai aktivitasnya. Tia dan Hans pun tengah menjalankan sholat Sunnah berjamaah, mereka memohon pada sang Pencipta agar semua yang menjadi doa mereka terkabulkan.


"Mas, Tia harap kita segera bisa mendapatkan informasi dari Aris. Tia sangat ingin bertemu dengan ayah kandung Tia. Mas apa menurutmu Tia adalah anak h4ram? karena lahir dari hasil ruda paksa?"


Hans terkejut mendapatkan pertanyaan dari sang istri. Dengan lembut Hans mengusap pucuk kepala sang istri.


"Tia, tidak ada yang namanya anak h4ram. Semua anak adalah suci saat dilahirkan. Hanya orang tua mereka yang akan menanggung dosa. Namun dalam hal ini, mama mu tidak bersalah, hanya ayah kandungmu yang akan dimintai pertanggungjawabannya kelak. Kamu tidak perlu merasa rendah diri. Tidak ada yang namanya anak h4ram. Jadi kamu tidak perlu minder, okey?" Hans tersenyum ke arah sang istri.


"Terima kasih, pencerahannya ya, Mas?" Tia tersenyum ke arah sang suami.


Triing ....


Triing ....

__ADS_1


Ponsel Tia berdering, nama Aris terpampang di sana.


__ADS_2