
Bab. 136
Setelah mendengar perkataan Hans, Tia malah panik. Antara harus jujur atau berbohong masih menyelimuti hatinya.
"Tia, tidak perlu takut. Mas kan hanya menanyakan siapa nama orang yang telah memberikan hadiah sebanyak ini untuk bayi kita," tanya Hans dengan ekspresi santai. Namun dari caranya bicara, terdengar jelas dia menahan rasa curiga yang begitu besar.
Tia semakin tidak karuan. Dia melirik kesana-kemari, mencoba mencari alasan, atau pengalihan lain. Meski jelas sia-sia. Sebab Hans sedang memperhatikan dia dengan seksama.
"Benar mas tidak akan marah?"
"Kenapa aku harus marah? Apa jangan-jangan...," Hans sengaja tidak menyelesaikan ucapannya.
Bik Inah yang sejak tadi ada di ruangan itu pun ikut terdiam. Wanita paruh baya ini sadar karena dirinya lah suasana rumah kembali menjadi tegang.
"Bik, teman yang membelikan semua barang-barang ini lelaki, atau perempuan?" Kini Hans bertanya pada bi Inah. Ekspresi wajah Hans yang dingin membuat Bik Inah menunduk, ketakutan.
Bik Inah melirik Tia yang kini melotot marah, seakan menahannya bicara jujur. Namun wanita paruh baya itu pun tidak berdaya di bawah tekanan intimidasi Hans.
"Le- lelaki, Den," jawab bik Inah sampai tergagap. Wanita yang sudah lanjut usia ini menunduk semakin dalam. Mengharapkan keselamatannya selama bekerja di tempat ini. Dia tentu saja tidak ingin dipecat setelah masalah ini.
"Ahh, lelaki? Apa..., Jangan-jangan ini dari Ridho lagi, Tia?" Hans bertanya dengan suara lembut. Tetapi sorot matanya penuh dengan amarah.
Tia menghela nafas berat. Dia akhirnya berkata, "Iya, mas. Tapi sungguh ini di luar dugaanku! Kami tidak sengaja bertemu di mall. Dan aku sudah melarangnya membelikan semua ini. Tetapi dia terus memaksaku, Mas! tanyakan saja pada Bik Inah jika kamu tidak percaya padaku!"
Suara Tia bergetar, menahan tangis. Wanita yang sedang hamil ini hampir tidak berdaya jika harus dimarahi lagi oleh suaminya. Hatinya terluka sangat dalam jika lagi-lagi harus menghadapi kemarahan suaminya.
"Nyonya benar, Den! Pria itu memaksa nyonya menerima semua hadiah ini, meski nyonya sudah menolaknya dengan tegas," ujar Bik Inah. Pembantu rumah tangga itu akhirnya memberanikan diri buka suara, membela Tia.
Tia diam-diam sudah menangis terisak. Dia tidak tau lagi bagaimana cara berjuang kembali untuk mendapatkan kepercayaan Hans. Wanita yang sedang hamil besar itu hanya bisa duduk pasrah, bersiap menerima kemarahan suaminya.
"Apa sikap diamku kemarin belum jelas untukmu, Tia?" Hans beralih pada Tia. Dia mencoba tetap tenang meski hatinya berkecamuk penuh emosi. Janji untuk tidak marah terbakar cemburu.
"Jelas. se- semuanya jelas. tetapi bagaimana caraku menolak jika barang sebanyak ini sudah dibawa ke kasir, dan dibayar begitu saja?!" Tia mencoba berbicara meski suaranya bergetar, karena tangis.
Sosok lemahnya kini masih terduduk di karpet beludru yang ada di lantai. Dia bahkan tidak berani bergerak sedikitpun, hanya untuk memperbaiki posisi duduknya yang kurang nyaman. Rasa khawatirnya membuat dia takut melakukan apapun.
"Kalau begitu, kau bisa saja membuang semua ini begitu keluar dari mall, dan jangan membawanya ke depan wajahku! Apa kau ingin memperjelas perasaanmu pada pria itu?! Apa dengan ini kau ingin menunjukkan, bahwa kau masih mencintainya, Tia?!" Nada suara Hans naik.
Pikirannya yang sedang kalut membuat dia bicara tanpa berfikir panjang. Sehingga racun yang mematikan meluncur keluar dari bibirnya.
__ADS_1
Tia tertegun. Dia menatap mata Hans dengan penuh rasa kecewa. Wanita dewasa ini bahkan sampai menggulung telapak tangannya demi menahan amarah, dan kepedihan yang ingin membuncah.
"Apa yang baru saja kamu ucapkan itu, mas? Apa kau sadar dengan apa yang baru saja kamu ucapkan itu?!" suara Tia melemah. Tangis di dalam suaranya terdengar semakin jelas. Rasa kecewa tidak lagi dia tutupi dari manik lembutnya yang kini menatap sayu.
Hans terdiam. Dia tidak bisa menjawab pertanyaan Tia yang sarat akan rasa sakit. Pria dewasa itu akhirnya hanya membuang muka. Mencoba menghindari sorot mata terluka istrinya yang sedang hamil besar.
Sejujurnya Hans juga tidak tega bersikap seperti ini pada Tia. Tas cemburu dan posesifnya menyeruak. Akan tetapi sebagai seorang pemimpin rumah tangga, Hans merasa perlu memberikan peringatan pada istrinya untuk jaga jarak dengan mantan suaminya.
"Kenapa kamu diam, mas?! Kenapa kamu menghindari tatapan mataku?! Apa sekarang kamu sudah sadar bahwa aku tidak akan sanggup bersikap segila itu?! Apa kamu sudah sadar, mas?!" Nada suara Tia semakin meningkat.
Sesak di dadanya menuntut untuk dibebaskan. Dia tidak mau terus disalahkan untuk sesuatu yang tidak pernah dia lakukan.
Hans masih terdiam. Dia enggan meladeni tangisan Tia yang sanggup menggoyahkan pendiriannya. Akhirnya, Hans bangkit. Dia menuju ke kamar untuk membersihkan diri lebih dulu. Meninggalkan Tia yang masih duduk di posisi semula.
"Nyonya, ayo, bangun! Nanti kakimu semakin bengkak jika terus duduk dengan posisi seperti itu," bik Inah menginginkan dengan lembut. Wanita paruh baya itu membantu Tia berdiri dengan hati-hati. Setelah itu, bik Inah membantu Tia duduk di sofa.
Barulah setelah itu dia memijat kaki Tia yang kram karena duduk di lantai dengan posisi tidak nyaman.
Disaat seperti ini, hanya bik Inah yang masih ingat untuk memperhatikan Tia sampai hal-hal terkecil. Karena rasa lelah yang mendera hati, dan fisiknya, Tia bersandar pada penyangga sofa.
Sembari mencoba menenangkan saraf di kepala, Tia memijat lembut pangkal hidungnya yang terasa pening bukan kepalang.
Saat membuka mata, manik bening Tia menangkap benda kecil yang terpasang rapi di sudut atas ruangan. Seketika Tia terhenyak kaget melihat benda itu.
"Oh, iya! 'kan ada benda itu! bagaimana aku bisa lupa! Duh, bodohnya aku!" gumam Tia kembali bersemangat.
"Ada apa, nyonya?" bik Inah yang masih belum mengerti bertanya dengan wajah bingung pada Tia.
Senyum di wajah Tia merekah sempurna membayangkan sang suami yang akan kembali bersikap baik, dan meminta maaf kepada dirinya. Sekarang, dengan cepat Tia mengambil perangkat laptop di meja kamar. Tia tidak menemukan Hans di dalam kamar. Sepertinya pria itu sedang memiliki urusan di kamar mandi.
Tia bergegas mengambil laptop. Kemudian mengotak-atik perangkat canggih itu untuk menemukan setting pada CCTV. setelah beberapa saat, usaha Tia akhirnya membuahkan hasil. Wanita cantik ini pun tersenyum senang sebab dia bisa membuka file berisi pengaturan rekaman pada CCTV.
Tia segera mencari tanggal yang tepat, dan mulai memutar ulang rekaman CCTV yang menampilkan perbincangan dirinya, dan Ridho saat hari itu berkunjung ke rumah mereka. Wanita yang sedang hamil besar itu tersenyum senang sebab akhirnya bisa menemukan bukti yang menunjukkan bahwa dia tidak bersalah.
"Mas! Mas Hans! Kemarilah, mas!" Dengan penuh semangat Tia memanggil suaminya.
"Ada apa lagi?" Dengan malas-malasan Hans keluar dari kamar. Pria itu kini sudah mengenakan kaos lengan pendek, dengan celana pendek yang nyaman. Rambutnya yang panjang masih basah, menandakan dia baru saja keramas saat mandi tadi.
"Ini, mas! Kemarilah dulu dan lihat rekaman CCTV ini! Ayo, mas!!" minta Tia dengan sedikit memaksa. Wanita dewasa ini terlihat sangat bersemangat saat menunjuk layar laptop.
"Ada apa, sih, di laptop itu?" gumam Hans sembari melangkah mendekat.
"Ini, ada rekaman ini," kata Tia dengan penuh semangat memutarkan rekaman CCTV pada hari saat Ridho berkunjung.
Selama beberapa menit Hans menonton rekaman CCTV dengan serius. Pria dewasa itu memperhatikan dengan seksama kedua sejoli di layar laptop yang sedang berbincang dari jarak yang cukup jauh. Dari rekaman CCTV ini pun terdengar jelas tapi jangan mereka yang biasa-biasa saja.
Di sisinya, Tia duduk dengan senyum puas. Wanita yang sedang hamil tua ini senang melihat sang suami tidak berkutik melihat rekaman CCTV. Tia yakin setelah ini Hans pasti akan meminta maaf dengan penuh penyesalan.
"Kenapa kamu menunjukkan rekaman ini?" Hans bertanya dengan nada heran pada Tia. "Kamu fikir, ini saja cukup untuk menjadi bukti bahwa kamu tidak memiliki perasaan apapun lagi padanya?"
__ADS_1
Suara Hans semakin terdengar menyakitkan di telinga Tia. Dari ekspresi wajahnya yang dingin, Tia sadar bahwa semua ini masih belum cukup untuk membuktikan pada Hans bahwa dirinya tidak memiliki perasaan apapun lagi pada Ridho.
"Lalu bagaimana, mas? Bagaimana lagi caraku untuk menunjukkan padamu bahwa aku sama sekali tidak memiliki perasaan apapun pada mas Ridho?! Bagaimana lagi caranya, mas?! Katakan padaku!" Tia berdiri dengan wajah marah. Lagi-lagi air matanya luruh, membanjiri wajah.
Suaranya yang biasa terdengar lembut kini sarat akan emosi yang memuncak. Tia marah. Dia sedih, kecewa, dan sangat terluka dituduh demikian jahat oleh orang yang paling dicintainya. Tidak tanggung-tanggung, tangisnya pecah meski kondisi tubuhnya sangat lelah.
"Apa kamu ingin aku menyingkirkan semua benda-benda ini?! Oke. Akan aku singkirkan!" Tia yang sedang dikuasai amarah berlalu menuju dapur.
Tidak lama kemudian, Tia kembali membawa botol minyak tanah lengkap dengan korek api di tangan. Lalu dengan cepat Tia menuangkan minyak tanah pada tumpukan perlengkapan bayi yang masih berserakan di lantai.
"Tia!! Apa yang kamu lakukan?!" Hans terhenyak kaget. Dia bahkan langsung berdiri, dan menyingkir. Menjauh dari cipratan minyak tanah.
"Nyonya! Sadar, nyonya! Sabar! Sabar!" Bik Inah mencoba menenangkan Tia. Wanita paruh baya ini pun ikut banjir air mata. Dia tidak tahu lagi bagaimana harus membujuk Tia yang sedang dikuasai oleh amarah.
"Tia! Sadar, Tia!" Hans berteriak sembari menahan tubuh istrinya yang sedang mengamuk. Pria dewasa itu menarik tubuh Tia ke kamar. Kemudian menguncinya di dalam kamar setelah membuang jauh-jauh botol berisi minyak tanah, dan korek api. Dia lebih dulu menyingkirkan benda-benda berbahaya itu sebelum menciptakan masalah yang sangat tidak mereka inginkan.
Setelah pasangan suami istri itu masuk ke dalam kamar, Bik Inah segera membereskan kekacauan di ruang tamu. Dia khawatir benda-benda itu akan mengundang kesialan jika terus dibiarkan berada di dalam rumah.
Sementara itu di dalam kamar, Tia masih menangis sesenggukan. Hans sang suami menemani di salah satu sudut kamar.
Hans masih tidak habis fikir istrinya bisa melakukan hal nekad seperti itu. Pada saat itulah nasehat dari sekretarisnya kembali terngiang.
'Seorang wanita yang sedang hamil itu fikirannya mudah terganggu, dan setres. Jadi jangan terlalu membebani fikirannya. Atau menyinggung perasaannya,' begitu pesan rekannya.
Karena inilah Hans mengubur egonya, dia pun menghela nafas panjang, mencoba melupakan amarah yang tadi menguasainya demi keutuhan rumah tangga mereka. Kemudian dengan perlahan Hans mendekati istrinya. Dia menyentuh lembut bahu sang istri yang masih bergetar karena tangis.
"Maafkan aku, Tia. Aku salah," lirih Hans penuh penyesalan. "Aku benar-benar telah bersikap kekanakan karena tidak mempercayaimu. Maafkan aku," pintanya dengan suara penuh kepedihan.
Tangis Tia seketika berhenti, dia pun perlahan mengangkat kepalanya, demi mendapati raut penuh penyesalan sang suami. Manik sayu dan penuh kesedihan itu akhirnya berhenti menangis.
Melihat sang istri kembali tenang, Hans pun merasa lega. Dia kembali berkata, "Maafkan aku istriku. Aku benar-benar bodoh. Karena dibutakan oleh rasa cemburu, aku sampai melupakan kondisimu yang sedang hamil besar seperti ini. Aku sungguh-sungguh meminta maaf."
Suara Hans bergetar.
Hans terlihat sangat menyesali ucapan, serta sikapnya pada sang istri. Melihat ini, hati Tia yang tadi kalut seketika luluh. Wanita yang sedang hamil besar tersebut langsung mengusap air mata di wajahnya. Mencoba mengerti, dan menerima permintaan maaf sang suami.
"Iya, mas. Aku mengerti maksudmu. Aku memaafkan dirimu," lirih Tia sembari mengusap lembut wajah suaminya. Wanita dewasa ini mencoba memberikan kesempatan sekali lagi pada sang suami. Berharap tidak lagi dicurigai sampai separah ini.
"Terimakasih banyak, Sayangku," sahut Hans dengan penuh kelembutan. Dia mengecup penuh sayang telapak tangan Tia lalu mengusap wajahnya.
Hans membantu sang istri bangkit dari lantai, lalu membantunya duduk dengan nyaman di ranjang mereka. Hari itu, mereka berdua sama-sama belajar sesuatu yang berharga. Bahwa rasa percaya pada pasangan lebih penting dibandingkan dengan percikan api cobaan di luar sana.
Mulai hari itu mereka berjanji akan lebih menghargai perasaan pasangannya, dan lebih mempercayai pasangannya dibandingkan riak ombak yang mencoba menggoyahkan rumah tangga mereka.
"Mulai hari ini, aku berjanji tidak akan meragukan dirimu lagi. Jadi, tolong berhati-hati, ya, Sayang. Aku takut sesuatu terjadi pada bayi kita," pinta Hans dengan penuh perhatian.
Hans kembali bersikap hangat kepada istrinya. Dia mengusap perut sang istri yang kini sudah membesar. Membuatnya semakin khawatir sebab insiden tadi cukup berbahaya bagi bayi mereka.
Tia mengangguk pelan. Wanita dewasa ini sebenarnya juga tidak mau melakukan tindakan yang berbahaya seperti tadi. Namun dia terpaksa melakukan itu demi mengembalikan kepercayaan sang suami.
__ADS_1
Kedepannya, Tia berharap sang suami tidak menyinggung perasaannya sejauh itu lagi. Sehingga dia juga tidak perlu melakukan hal nekad seperti itu.
Malam itu mereka terlelap dalam pelukan hangat sang suami sekaligus ayah dari bayi yang dikandungnya.