Menikahi Mantan Suami Pelakor

Menikahi Mantan Suami Pelakor
MMSP2. Bab. 72


__ADS_3

Vera terkejut ternyata dalang dari semua adalah Merlyn.



"Sebaiknya, aku bersembunyi sembari menghubungi nyonya Tia," gumam Vera yang tidak akan mampu bergerak sendirian.


Sementara itu di rumah Tia.


Langit mulai menerang, matahari mulai merangkak menuju tengah hari. Jam berdentang sebanyak sepuluh kali, pertanda sekarang ini menunjukkan pukul sepuluh pagi.


Tia memasuki kamar Hasan. Mengecek suhu tubuh anak lelakinya, suhunya semakin tinggi dari kemarin. Tia mendekati Hasan, mengusap kepalanya lembut.


Hans sudah berangkat kerja, sekarang saatnya Tia fokus pada anak-anak. Terlebih Hasan sedang sakit.


"Suhu kakak semakin tinggi."


Hasan mendongak menatap sang Mama. "Tenggorokan Hasan rasanya sakit, Ma."


"Hasan, jangan mandi, cuci muka pakai air hangat aja. Takut demamnya semakin tinggi, kita ke rumah sakit buat periksa tenggorokan kakak." Tia membantu Hasan ke wastafel untuk mencuci muka dan memakainya sweater hangat.


"Hasan makan dulu ya, mbak Yuni udah siapin sarapan di depan."


Tia menyuruh Hasan memakan sarapannya terlebih dahulu sebelum ke rumah sakit.


"Hasan tidak nafsu makan, Ma. Sakit kalau makan." ucap Hasan lesu.


"Ayo, kita ke meja makan. Kakak harus makan setidaknya beberapa suap saja." tegas Tia pada Hasan jika tidak makan akan semakin membuatnya tambah sakit.


Sarapan sudah tersedia di meja makan, Hasan tidak nafsu makan ataupun sekedar minum.


Wedang jahe yang dibuat Tia hanya meredakan rasa sakit di tenggorokannya sebentar, setelah nya kembali sakit.


"Makan sedikit saja ya, ke rumah sakitnya setelah Papa berangkat kerja." ucap Tia sambil menyendokkan nasi dan sayur kedalam piring Hasan.


Disusul Hasna yang langsung duduk di kursi meja makan. Tia memandangi Hasna yang sudah rapih dengan, bisa dia duga, putrinya baru saja selesai mandi.


"Aku mau ikut ke rumah sakit." kata Hasna yang sedang menyendokkan lauk kedalam piring berisi nasi.


"Kakak sakit tenggorokan, Hasna jangan ikut ke rumah sakit. Disana banyak firus nanti kamu bisa kena." kata Tia pada Hasna yang tiba-tiba ingin ikut.


"Bener kata Mama, rumah sakit banyak virusnya. Bik Inah aja takut," sahut bik Inah yang baru saja menaruh semangkuk sayur sop ke atas meja makan.


"Baik, Ma." ucap Hasna mematuhi apa sang mama katakan.


"Ma, Hasan gak mau lanjut makannya. Tenggorokan Hasna makin sakit." Hasan mendorong piring berisikan nasi yang sudah banjir dengan sayur.


"Mbak Yuni buatkan bubur saja ya, Nyonya." tawar mbak Yuni tidak tega melihat anak majikan lesu seperti tidak ada tenaga.


"Boleh mbak, buatkan Hasan bubur saja. Terimakasih ya mbak." sahut Tia pada mbak Yuni.


"Tapi harus di habiskan ya." ucap Tia di angguki patuh oleh Hasan.


Sementara itu, Hasna sudah menuntaskan kegiatan makannya. Dia meminum susu putih hangat.


Tidak membutuhkan waktu lama, mbak Yuni datang membawa satu mangkuk bubur untuk Hasan. Setelahnya mbak Yuni dan bik Inah pamit kembali menyelesaikan pekerjaan nya di dapur.


"Sepertinya Hasan tidak enak makan, buburnya tidak ada rasa, Ma." Hasan menolak memakan bubur membuat Tia mulai bingung sendiri.


Tia menatap lekat Hasan, tangannya mengelus puncak kepala Hasan. "Kalau gitu tidak perlu habis, kakak makan setengah dari mangkuk itu aja."


"Iya, Ma." ucap Hasan memilih patuh pada perintah sang mamah.


Selagi Hasan menghabiskan sarapannya. Tia meminta supir menyiapkan mobil untuknya dan Hasan ke rumah sakit.


Cukup lama menungguku bubur di mangkok Hasan habis, setengah. Tia dan anak lelakinya bergegas ke rumah sakit.


Di dalam mobil, Tia tidak henti mengecek suhu tubuh Hasan. Menyenderkan kepalanya anak lelakinya dibahu.


"Kakak, kalau mau tidur gak apa-apa. Nanti mama bangunin kalau sudah sampai rumah sakit." ucap Tia ketika melihat tubuh lemas Hasan.


"Iya, Ma." sahut Hasan.


"Kalau dirasa badan kakak kurang enak, sebaiknya jangan berenang. Kan kalau sakit yang gak enak, Hasan juga." kata Tia dengan tegas namun penuh perhatian.


"Sudah sampai, Nyonya." kata Supir memberi tahu kalau tujuan mereka sudah tiba.

__ADS_1


"Iya pak, terimakasih. Saya periksa Hasan dulu ke dalam."


Tia membangunkan Hasan dengan menepuk pelan pipi anak lelakinya, menuntun Hasan kedalam rumah sakit agar segera di periksa dokter.


"Hasan tunggu disini sebentar, Mama mau ke tempat administrasi dulu." ucap Tia menyuruh Hasan duduk ditempat tunggu.


"Permisi. saya mau bertemu dokter anak spesialis tenggorokan, semalam sudah buat janji." ucap tia pada penjaga Administrasi di rumah sakit itu.


"Sebentar ya, Bu." sahut penjaga Administrasi tersenyum dengan sangat rama pada Tia.


"Baik, Ibu. Dokter sudah menunggu. Mari saya antar keruangan periksa." kata penjaga itu mengantar tia ke ruangan periksa. Sebelumnya Tia mengajak Hasan yang tadi menunggu di kursi tunggu rumah sakit.


"Baik, terimakasih." Tia mengajak Hasan masuk kedalam ruang periksa.


"Nak, Hasan. Apa keluhannya." tanya dokter wanita itu dengan ramah pada Hasan yang tengah berbaring di atas kasur brankar.


Hasan yang di tanya seperti itu, menoleh pada sang mama.


Tia yang melihat ekspresi Hasan, menjelaskan sesuatu pada dokter. "Anak saya sepertinya terkena radang tenggorokan, dok. Katanya kalau nelan makanan rasanya sakit. Dan demamnya juga tidak kunjung mereda."


Dokter itu tersenyum pada Hasan, mengambil alat medisnya. Lalu menyuruh Hasan membuka mulut.


"Dokter cek dulu, Hasan buka mulutnya, ya." ucap dokter itu melihat tenggorokan Hasan menggunakan penlight atau senter medis.


"Saya ronsen dulu ya." dokter itu mengajak Hasan keruang ronsen agar lebih mengetahui radang tenggorokan yang dirasakan Hasan.


Selagi Hasan diperiksa dokter, Tia pergi kekamar kecil. Ia ingin membereskan pekaian nya yang terlihat sedikit kusut.


"Dimana ya, toilet." tanya Tia pada dirinya sendiri. Mencari letak keberadaan toilet di rumah sakit ini yang lumayan besar ini.


Tia melihat ada seorang suster, dia menghampiri suster itu untuk menanyakan dimana toilet.


"Permisi sus, saya mau tanya. Toilet dimana ya?" Tanya tia pada suster yang mendorong kursi roda kosong.


"Oh, ibu dari sini luris terus, terus belok kanan. Di sana ada Mushola kecil dan di belakangnya ada toilet." kata suster itu memberi arah pada Tia.


Tia mengangguk paham, mengikuti arahan suster tadi ke toilet. Tidak lupa mengucapkan terimakasih pada suster itu.


"Mbak Yuni tolong jaga Hasan sebentar ya, saya mau ke toilet."


Tia pun berjalan meninggalkan mbak Yuni dan Hasan Sampai di persimpangan jalan, indera penglihatan Tia seperti menangkap sosok yang dia kenal.


"Cloe? Apa itu Cloe, Sedang apa di rumah sakit ini." tanya Tia tidak yakin pada dirinya.


Tia melihat Cloe masuk ke ruangan periksa, tapi dia tidak tahu itu ruang apa. Menaruh rasa curiga pada Cloe, Tia cukup lama memandangi pintu ruangan yang Cloe masuki.


Meski penasaran, Tia memutuskan untuk segera ke toilet dan segera kembali ke ruang periksa Hasan.


Hasan yang menunggu kembali kedatangan sang mama, di buat tidak nyaman oleh pertanyaan dokter yang sedang memeriksa. Meski pertanyaan yang dokter itu lontarkan adalah pertanyaan yang lumrah dan simpel untuk di jawab tapi rasanya Hasan tidak tahu mau menjawab apa.


"Maaf, Dok. Hasan sakit apa?" tanya Tia pada sang dokter.



"Sepertinya anak ibu terkena radang tenggorokan, ini saya beri resep dan bisa ditebus di bagian apotik," ucap sang dokter sembari memberikan resep.



"Alhamdulillah, Dok. Baiklah, terimakasih," ucap Tia pada sang dokter seraya menerima resep dokter tersebut.



Tia membawa resep tersebut mengantri di bagian apotek. Tia kembali bertemu dengan Cloe. Dia tidak melepas tatapannya pada wanita yang banyak membawa obat-obatan itu.



"Siapa yang sakit? Mengapa dia bawa obat sebegitu banyaknya?" batin Tia tanpa berkedip, melihat Cloe yang memasukkan obat yang baru saja diambil dari loket apotek ke dalam plastik.



Triing ... Triing ....


Ponsel Tia berdering, namun dering itu berhenti tatkala Tia mau mengangkatnya.


"Vera? Mengapa Vera memanggil lalu dimatikan? Rupanya ada pesan masuk," gumam Tia. Dia pun meluncur ke aplikasi hijaunya untuk melihat pesan dari Vera.

__ADS_1


Vera: 'Nyonya, Tolong Anda menyusul saya di hotel yang saya share lokasinya. Jangan bertanya kenapa, nanti saya beritahu jika nyonya sudah sampai di lobi hotel itu. Hubungi saya kembali setelah nyonya sampai. Darurat dan penting! Sekarang juga nyonya!'


Tia: 'Baik. Saya ke sana sekarang!'


Tia pun meminta mbak Yuni untuk pulang bersama Hasan.


"Mbak Yuni, tolong nanti kalau dipanggil obatnya. Dan mbak Yuni pulang sama Hasan diantar supir," pinta Tia pada mbak Yuni.



"Baik, Nyonya. Nyonya tenang saja, Hasan pasti baik-baik saja," ucap mbak Yuni memberikan ketenangan pada Tia.



"Oke, Bik. Saya pergi dulu, sepertinya taksi online sudah di depan lobi rumah sakit," ucap Tia berpamitan.



"Hati-hati, Nyonya."



Tia bergegas melangkahkan kakinya menuju ke lobi. Taksi yang dipesan pun sudah datang. Tia naik taksi itu segera.



"Sesuai alamat ya," ucap Tia pada sang supir.



"Siap, Nyonya," ucap supir taksi itu melajukan mobilnya menuju ke hotel yang diberikan alamatnya oleh Vera.



Perasaan Tia mulai tidak enak, dia berharap segera sampai ke tempat tujuan.



"Masih berapa menit lagi, Pak?" tanya Tia dengan nada cemas. Entah mengapa hatinya mendadak memikirkan sang suami.



"Lima menit lagi, Nyonya. Lihatlah gedungnya sudah terlihat," jawab Sang Supir.



Sementara itu di dalam hotel, Merlyn meminta anak buahnya membawa Hans masuk ke dalam kamar yang sudah ia pesan.



"Kalian cepat keluar, tutup pintunya. Jangan masuk jika aku tidak memanggil kalian!" titah Merlyn pada kedua anak buah Vian.



"Siap, Nyonya!" jawab kedua anak buah itu serempak. Sejurus kemudian keduanya keluar dari kamar Merlyn.


"Tuan Hans yang terhormat, sekarang aku akan membalaskan dendam ku! Salah siapa kau menolak aku, hmm ...!" Merlyn berjalan mendekat ke arah Hans dengan wajah yang penuh semangat. Merlyn membelai wajah Hans yang terpejam karena tidur pulas.


Tok!



Tok!



"Sialan! Siapa yang ganggu kesenangan ku!" geram Merlyn yang merasa terganggu kesenangannya.



Tok!



Tok!

__ADS_1


"Sebentar!" Merlyn turun dari ranjang dengan wajah yang menahan kesal.


__ADS_2