
Hans tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh dokter Genta dia belum merasa yakin sebelum melihat sendiri keadaan Wulan yang sebenarnya.
"Baiklah, Tuan Hans, kita akan menjenguk pasien bersama agar anda tahu sendiri bagaimana keadaan dari nyonya Wulan. Mari, saya antar ke ruang ICU."
Dokter Genta menawarkan pada Hans untuk menjenguk Wulan di ruang ICU.
"Baiklah, Dok. Saya akan mengikuti dokter ke ruang ICU," jawab Hans dengan yakin.
Kedua orang itu pun akhirnya bersama menuju ke ruang ICU untuk melihat keadaan Wulan.
"Silakan, Tuan. Bisa Anda lihat sendiri bagaimana keadaan Nyonya Wulan, wajahnya kami tutupi perban karena takut terkena infeksi dari luar. Sekarang kami ingin meminta persetujuan dari keluarga untuk melakukan operasi bedah plastik pada wajah pasien," ucap dokter Genta.
Tubuh Hans merinding setelah melihat keadaan Wulan yang masih koma dan wajahnya terbungkus oleh perban yang hampir menutupi seluruh wajahnya.
"Astaga ... Wulan! Kenapa tubuhmu menjadi seperti ini? Apakah ini karma untukmu?" gumam Hans dalam hati, Dia sangat terkejut dengan luka yang di derita oleh Wulan.
"Bagaimana, Tuan Hans? Apakah kita bisa melakukan operasi bedah plastik untuk mengembalikan wajah nyonya Wulan? Wajahnya rusak terkena pecahan kaca mobil," ucap dokter Genta.
Hans terdiam, dia merasa bingung karena bukan wewenang dirinya untuk memberi keputusan. Beruntung Hans tadi di perjalanan menuju ke ruangan dokter Genta sudah menghubungi Aris.
"Dokter, apakah saya boleh berunding dulu dengan keluarga yang lain?" tanya Hans. Dia memilih untuk bertanya pada ayah Wulan yang akan datang hari ini juga. Semua akomodasi sudah Hans kirim ke rekening Aris.
Dokter Genta mendesah pelan. Dia tidak bisa memaksakan kehendak pada buah kapasnya dia harus menghormati privasi dari pasien tersebut.
"Baiklah, Tuan Hans, secepatnya saja kami dikabari, karena kami tidak bisa menunggu lebih lama lagi," ucap dokter Genta. Dia memberitahukan bahwa pihak rumah sakit tidak bisa lagi menunggu lama.
"Siap, dokter. Segera kami akan mengabari pihak rumah sakit hari ini juga. Ayah dari pasien akan tiba dan beliau lebih memiliki hak untuk memutuskan sesuatu. Kalau begitu saya permisi dulu, nanti kami akan datang kembali setelah mengambil keputusan yang tepat untuk pasien," ucap Hans berpamitan pada sang dokter.
Setelah menjabat tangan dokter Genta, Hans berlalu meninggalkan ruang ICU. Sepanjang perjalanan menuju kembali ke ruangan Tia dirawat, Hans teringat wajah Wulan yang dibalut perban.
Tidak bisa ia bayangkan wajah yang dulu menemani hidupnya kini tertutup oleh perban, hingga tidak bisa lagi memamerkan kecantikannya. Sungguh Tuhan maha Adil, semua perbuatan pasti ada balasannya. Wajah yang dulu digunakan untuk menyakiti hati wanita lain, kini tidak bisa tampil lagi.
Sementara itu, Cahyo yang sudah mendapat kabar dari Aris, segera menuju ke bandara untuk terbang ke Lampung. Meri sang istri sudah meminta dirinya untuk segera menjenguk Wulan.
"Astaghfirullah ... Apa yang terjadi pada Wulan anakku, mengapa dia begitu nekat pergi ke luar kota!! Bersyukur Hans mau berbaik hati mengirimkan uang untuk membeli tiket pesawat, jika tidak entah bagaimana aku bisa datang menjenguk Wulan!"" gumam Cahyo yang mengkhawatirkan keadaan sang anak. Cahyo sangat menyesali dirinya selalu memanjakan Wulan.
__ADS_1
Cahyo melangkahkan kakinya memasuki bandara karena pesawat sebentar lagi akan take off. Selama di dalam pesawat, Cahyo berpikir bagaimana dia akan membiayai biaya pengobatan untuk Wulan. Tidak mungkin keluarganya akan merepotkan Hans lagi.
Cahyo masih malu dengan kelakuan Wulan. Wulan dahulu selalu menjelekkan Hans sehingga orang tuanya juga ikut membenci Hans. Cahyo mengusap kasar wajahnya dia sudah nampak frustasi walau bagaimanapun pulang adalah anak kandungnya.
Wajah tua Cahyo tidak menampakkan binar bahagia sebentar lagi akan bertemu dengan Wulan. Bayangan biaya pengobatan melintas dipikirannya hingga tidak sadar pesawat sudah sampai di Bandara Radin Inten II Lampung.
Suara pengumuman bahwa pesawat sebentar lagi akan landing melanjutkan cahaya dia pun segera berkemas dan bersiap pesawat sebentar lagi akan landing.
Semakin mendekati rumah sakit, pikiran Cahyo semakin kacau. Dia bingung harus bagaimana, keluarganya sudah tidak memiliki biaya lagi. Rasa frustasi sudah menghinggapi diri Cahyo, pasalnya untuk biaya hidup saja dia masih mengandalkan Aris dan bantuan dari Tia.
Cahyo turun dari Taksi yang membawa dirinya menuju ke rumah sakit di mana Wulan dirawat. Cahyo berdiri menatap gedung Rumah Sakit tersebut, ada perasaan ragu masuk ke dalam. Cahyo bimbang antara mau masuk atau kembali pulang dirinya belum sanggup untuk melihat biaya perawatan sang anak. Mengingat diri Cahyo dan Merry yang selalu dihina oleh Wulan.
"Ya Tuhan, Aku harus bagaimana aku belum siap untuk melihat deretan angka tagihan biaya pengobatan Wulan. Jujur saat ini saya tidak memiliki cukup uang untuk membayar pengobatan Wulan," gumam Cahyo di dalam hati.
Saat Cahyo melamun tiba-tiba dia dikejutkan oleh suara memanggil dirinya. Cahyo pun menoleh ke arah tersebut ternyata dia adalah Hans.
"Papa ...." panggil Hans pada Cahyo.
"Hans?!" teriak Cahyo pada sang menantu.
"Mari," jawab Cahyo datar. Di dalam hati dia masih belum bisa menerima jika harus mengeluarkan banyak uang untuk biaya operasi Wulan.
Dua orang lelaki itu beriringan masuk ke dalam rumah sakit. Setelah menyusuri beberapa lorong bangsal, akhirnya Hans dan Cahyo sampai di ruang ICU. Hans sengaja mengajak Cahyo ke ruang ICU agar tahu bagaimana keadaan Wulan.
"Pa, papa bisa masuk untuk melihat keadaan mbak Wulan, saat ini mbak Wulan masih koma. Sudah dua hari ini, mbak Wulan belum juga sadarkan diri. Mungkin dengan kedatangan papa, mbak Wulan akan sadar kembali," ucap Hans memberi support pada Cahyo.
Cahyo mengangguk, dia pun masuk ke dalam ruang ICU tersebut. Di sana hanya satu orang pengunjung saja dan itupun harus memakai baju steril.
Dengan dibimbing seorang suster, Cahyo mendekati tubuh Wulan. Cahyo menatap sendu sang buah hati. Gadis kecil yang dulu menyambut kedatangan sepulang dari kerja kini sudah dewasa dan terbaring tidak berdaya, penuh dengan berbagai alat medis.
"Wulan, mengapa kamu jadi begini? Dosa apa yang telah kau lakukan hingga wajahmu menjadi seperti itu?" ratap Cahyo sembari meneteskan air matanya. Sisi ke-ayahan dalam dirinya menyeruak ingin menggantikan posisi Wulan.
Cahyo tidak kuasa lagi untuk bertahan di samping Wulan. Dia pun milih untuk keluar dari ruang ICU tersebut.
"Nak Hans, apa yang terjadi dengan Wulan?" tanya Cahyo dengan tatapan sendu, dia tidak sanggup untuk berkata panjang lebar. Dadanya terada sesak hingga tidak mampu berkata-kata lagi.
__ADS_1
"Mbak Wulan mengalami kecelakaan mobil. Wajahnya terkena pecahan kaca mobil tersebut, Pa. Kini dokter membutuhkan ijin dari kita untuk melakukan tindakan pada Wulan. Para dokter ingin melakukan tindakan operasi bedah plastik pada wajah Wulan," jawab Hans dengan santun.
Gurat wajah keriput wajah Cahyo menatap sendu ke arah Hans. Seakan ingin menanyakan berapa biaya yang harus dikeluarkan, namun bibir Cahyo tidak mampu bergerak.
"Papa tidak apa-apa?" tanya Hans lagi. Namun, Cahyo lagi-lagi hanya terdiam sembari menatap lemah ke arah Hans.
"Papa tidak apa -apa, Nak. Papa hanya butuh istirahat saja, papa belum makan sedari pagi. Maaf, tadi terburu-buru jadi belum sempat mengisi perut," jawab Cahyo beralasan. Walaupun sebenarnya Cahyo memang belum sarapan tadi pagi.
"Papa tunggu di sini, biar Hans mencari makanan untuk papa," sahut Hans yang paham makna dari kata-kata sang ayah.
"Apa tidak merepotkan mu, Nak?" tanya Cahyo berpura-pura. Dia malu jika terlihat jelas meminta pada sang menantu.
Hans hanya membalas dengan senyuman tanpa kata-kata. Dia bergegas pergi ke kantin rumah sakit untuk membelikan sang ayah sarapan sekaligus makan siang.
Cahyo duduk di kursi tunggu khusus keluarga pasien yang dirawat di kamar ICU. Cahyo duduk dengan bertopang dagu, di dalam pikirannya berkelindan biaya rumah sakit yang sangat banyak. Kata orang yang pernah ia dengar dulu, biaya operasi bedah plastik wajah sangatlah mahal.
Mata Cahyo tertuju pada dua orang dokter yang akan masuk ke dalam ruang ICU. Cahyo tahu itu pasti dokter yang menangani Wulan anaknya.
"Dokter, tunggu!" ucap Cahyo berjalan menuju dia orng dokter tersebut. Dua orang dokter itu mau tidak mau menghentikan langkahnya karena merasa ada yang memanggil mereka.
"Ada apa, Pak? Bisa kami bantu?" tanya salah satu dokter yang usianya lebih muda. Dokter muda itu memiliki name tag : dokter Arfa.
"Maafkan saya, Dok. Ada yang ingin saya sampaikan terkait anak saya, pasien yang ada di ruang ICU. Namanya Wulan, katanya akan dilakukan operasi bedah plastik wajahnya. Apakah saya boleh tahu kira-kira berapa biayanya?" tanya Cahyo tanpa malu mempertanyakan biaya operasi sang anak pada seorang dokter yang bukan bagian dari pekerjaannya.
Dia orang itu saling menatap bingung. Salah seorang dari dokter itu tersenyum menyeringai lalu berkata, "Tuan, tenang saja. Masalah biaya bisa kita atasi jika Anda mau bekerja sama dengan kami. Kebetulan mahasiswa saya ini membutuhkan pasien yang akan dijadikan pasien prakteknya. Semua biaya gratis asal Anda bersedia tanda tangan saja. Bagaimana, apakah Anda bersedia?" tanya dokter yang lebih tua.
"Dok? Anda yakin?" bisik sang dokter muda.
"Tentu saja, kita akan meringankan bebannya dan kau akan mendapatkan pasien mu. Benar bukan?" tanya sang dokter yang lebih tua.
"Dokter Genta sudah mencarikan jalan untukku, aku harus menggunakan kesempatan dengan sebaiknya," batin dokter dengan name tag. dr. Arfa.
"Saya akan memikirkannya, Dok," jawab Cahyo yang membutuhkan waktu untuk berpikir.
"Baiklah, Pak. Ini kartu nama saya, hubungi saja nomer itu dan jangan sampai apa yang kami katakan sampai ke orang lain. Semua biaya biar kami yang menanggungnya," ucap dokter Arfa dengan tersenyum.
__ADS_1
Cahyo pun mengambil kartu nama tersebut, di dalam hatinya dia merasa mendapat angin segar.