
Tia tersenyum melihat wanita yang akan menjadi baby sitter untuk anaknya.
"Boleh, Mas. Kita bisa menerima dia untuk menjadi baby sitter anak kita," ucap Tia dengan wajah bahagia.
"Oh ya, Mbak. Siapa nama mbak?" tanya Tia.
"Nama saya Yuni, Nyonya. Asli dari Pacitan." Jawab wanita dengan logat Jawa Timurnya. Pakaian yang sederhana dan penampilan apa adanya memberi kesan tersendiri dari Tia.
"Cukup satu atau dua baby sitter Tia?" tanya Hans sekali lagi meyakinkan istrinya untuk mengambil dua baby sitter atau cukup satu saja.
Tia terdiam, mendengar rekomendasi dari yayasan tempat wanita itu diambil, sepertinya Tia sudah cukup mempekerjakan satu baby sitter.
"Satu aja cukup, Mas. Tapi jika mas mau menambah agar bisa meringankan tugas ibu ini ya gak apa-apa, Mas." Tia menggendong Hasan, sedangkan Hasna masih tidur di dalam ayunan. Di antara kedua anaknya, Hasan lah yang sering minta digendong.
"Baiklah nanti kita cari lagi agar bisa meringankan tugas dari Mbak Yuni. Oh ya Tia, Mas kembali ke kantor lagi ya, karena mas tadi meninggalkan berkas yang harus mas tanda tangani," ujar Hans berpamitan dengan Tia.
"Hati-hati di jalan, Mas." Tia mengantar sang suami sampai di depan teras rumah.
Hans melambaikan tangannya dari dalam mobil dengan senyum yang mengembang di bibirnya.
Tia merasa senang dengan baby sitter pilihan Hans. Terlebih tadi saat baby sitter itu menunjukkan bagaimana mengurus Hasna dan Hasan di hadapan mereka. Benar-benar terampil dan lihai, bahkan sampai membuat dua bayi kembar itu juga tampak nyaman berada dekat dengan baby sitter.
Setelah yakin, Tia mengabari sang ayah bahwa mulai besok dia akan bekerja mengurus perusahaan. Tentunya semua itu tidak akan berjalan dengan lancar tanpa dukungan dari Hans. Berulang kali Tia mengucapkan terima kasih pada suaminya itu karena sudah memberi dukungan.
"Assalamu 'alaikum, Ayah," ucap Tia melalui sambungan teleponnya.
"Wa'alaikum salam, Sayang," jawab Gunawan di ruang kerjanya. Selama beberapa hari Gunawan sengaja tinggal di Jakarta. Sedangkan Sinta masih di Lampung.
"Ayah, mulai besok Tia sudah siap untuk bekerja di perusahaan baru, tapi ... Tia tetap mengambil waktu setengah hari kerja saja, karena Tia tidak ingin terlalu lama meninggalkan Hasan dan Hasna."
"Tidak apa-apa, Sayang. Ini adalah perusahaan mu, kamu bebas kapan pun berangkat dan pulang. Hal yang terpenting adalah perkembangan cucu-cucu ayah. Ayah sudah menyiapkan sekretaris handal untukmu. Jadi kamu bisa pulang dan berangkat kapanpun kamu mau."
"Terimakasih, Ayah. Kalau begitu Tia menjadi lega, dan beruntungnya Tua sudah mendapatkan seorang pengasuh yang baik untuk Hasan dan Hasna."
"Sama-sama, kau adalah putri kandung ayah, sudah sepantasnya kau menerima apa yang menjadi hak mu. Semua yang ayah lakukan adalah untuk mu, sebagai permintaan maaf ayah yang sudah menelantarkan mu."
__ADS_1
"Baiklah, Ayah. Sepertinya Hasan dan Hasna ingin minum susu. Tia pamit terlebih dahulu, sampai jumpa besok pagi."
"Baiklah, salam buat cucu -cucu ayah."
"Assalamu 'alaikum, Yah."
"Wa'alaikum salam."
Tia memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku baju dan setelah itu masuk ke kamar anak-anaknya.
Waktu pun berlalu, siang yang indah bagi Tia itu beranjak menuju malam.
"Apakah semuanya sudah kau siapkan?" tanya Hans sembari memeluk tubuh Tia dari belakang.
"Sudah," jawab Tia dengan kedua tangan yang penuh oleh beberapa pakaian.
Tia tampak semangat. Untung saja tubuhnya setelah melahirkan, tidak terlalu bertambah lebar sehingga pakaian untuk bekerja pun masih muat di tubuhnya. Pandangan Tia pun tertuju pada salah satu jas berwarna peach di dalam lemari.
"Apakah aku akan terlihat cantik bila menggunakan ini?" Tia meraih jas tersebut dan menunjukkannya pada Hans.
Hans tampak berpikir, membuat Tia merasa ragu untuk memakainya. "Sepertinya, tidak, ya?"
"Bagus," jawab Hans dengan cepat sembari meraih pergelangan tangan Tia yang hendak memasukkan kembali jas peach itu ke dalam lemari.
Tia merasa senang mendengarnya. Dia menepikan jas itu ke samping lemari bersama dengan celana dan sepatu yang akan digunakannya esok untuk bekerja.
"Sebaiknya kau beristirahat, biar besok bisa bangun dengan segar," ucap Hans memperingatkan Tia.
"Iya, Mas. Tapi sebelum Tia istirahat, Tia ingin menengok dua jagoan kita apakah mereka sudah tidur atau belum," balas Tia dengan menangkupkan kedua telapak tangannya di wajah Hans.
"Baiklah, ayo kita lihat mereka dengan pengasuh mereka yang baru," ajak Hans mendukung apa yang ingin Tia lakukan.
Tia dan Hans berjalan beriringan menuju ke kamar anak mereka. Dilihatnya kedua bayi cantik dan tampan itu sedang tidur dengan diayun oleh sang pengasuhnya.
"Selamat malam, Mbak. Apakah keduanya rewel?" tanya Tia pada Yuni.
"Selamat malam, Nyonya. Kedua bayi ini sangat cerdas dia tahu kapan harus minum susu dan kapan harus tidur dan bermain. Sungguh anak-anak yang manis, mereka tidak rewel sama sekali," jawab Yuni yang sedang melipat baju-baju milik kedua majikan kecilnya.
"Syukurlah kalau mereka tidak rewel. Mulai besok akan saya tinggal kerja, tapi hanya setengah hari saja. Nanti jika mbak Yuni ada masalah bisa minta bantuan pelayan yang lain," ucap Tia sembari mengusap rambut kedua anaknya.
"Siap, Nyonya. Jika nanti ada apa-apa saya akan meminta bantuan pelayan yang lain dan menghubungi nyonya atau tuan," jawab Yuni dengan patuhnya.
__ADS_1
Tia dan Hans pun bergantian mengecup sang buah hati dan mengucapkan selamat tidur juga doa untuk kedua anaknya.
Keesokan harinya, Tia bangun pagi sekali. Dia bersemangat untuk membuat sarapan. Jika biasanya hanya satu porsi untuk Hans saja, kini dia buat tiga porsi untuknya, baby sitter, dan Hans. Dengan pakaian yang lengkap seperti semalam sudah dia siapkan, tangannya lihai mengaduk wajan.
"Apa ini? Kau rajin sekali," puji Hans dengan nada mengejek. Membuat Tia terkekeh mendengarnya.
Tia kembali fokus mencampur nasi dan toping yang baru saja dimasukkannya. Aroma yang melezatkan pun menyeruak masuk ke dalam indra penciuman Hans. Pria itu sampai memejamkan mata dan menengadahkan kepala. Semua makanan yang dimasak oleh Tia memang tidak pernah gagal dan selalu lezat.
Setelah beberapa menit berkutat di dapur, nasi goreng dengan banyak toping buatan Tia pun siap dihidangkan. Tia menaruh dua piring di atas meja makan dan menuangkan nasi ke atas piring Hans, lalu melangkahkan kakinya menuju kamar anak-anak.
"Mbak, sarapan dulu. Aku akan menjaga anak-anak. Kita bergantian, agar aku bisa langsung berangkat kerja setelah sarapan," titah Tia pada baby sitter berusia 45 tahun itu.
"Saya belum lapar, Nyonya. Biasanya tidak sarapan sepagi ini," jawab baby sitter. Tia menganggukkan kepala, mengerti.
Senyum manis pun menghias wajah Tia. Dia mengecup kening kedua anaknya itu. "Kalian baik-baik di rumah, ya. Ibu tidak akan lama meninggalkan kalian."
Tia memeluk kedua anak kembarnya itu dengan penuh kasih sayang. Meskipun hatinya terasa berat untuk bekerja meninggalkan mereka, tetapi Tia juga tidak bisa melewatkan kesempatan berharga ini. Terlebih, sang ayah sudah mengizinkannya untuk bekerja setengah hari dan kembali ke rumah mengecek kedua anaknya.
Setelah puas bersama dengan anak kembarnya, Tia segera sarapan dan berangkat ke kantor diantar Hans. Semua karyawan di perusahaan itu sudah diberitahukan sebelumnya bahwa akan ada pemimpin baru yang mengurus perusahaan, selain Gunawan. Mereka berbisik satu sama lain ketika Tia masuk ke dalam lobby.
Gunawan melebarkan kedua tangannya dan memeluk Tia. "Selamat datang di perusahaan barumu, Tia."
"Ayah bisa saja," timpal Tia sembari melepaskan pelukan sang ayah.
Gunawan memerintahkan semua karyawan untuk berkumpul di lobby. Tia berdiri di sampingnya dengan anggun dan elegan. Semua mata tampak terpesona, tak terkecuali karyawan wanita yang juga kagum melihat penampilan Tia.
Gunawan menunjuk Tia di hadapan semua karyawan. "Perkenalkan, putriku, Tia. Mulai hari ini, dialah yang akan menjadi pemimpin baru perusahaan."
Tia menganggukkan kepalanya sebagai tanda hormat. "Mohon bantuannya."
Semua karyawan bertepuk tangan sebagai tanda peresmian Tia menjadu pemimpin perusahaan. Setelah itu, Gunawan mengajak Tia untuk berkeliling dan menjelaskan bagaimana tugasnya di perusahaan. Seorang karyawan wanita, akan menjadi asisten pribadi Tia dan membantu menangani pekerjaan yang Tia tidak bisa kerjakan ketika pulang ke rumah.
"Jadi, ada yang bisa saya kerjakan hari ini?" tanya Tia pada asisten pribadinya.
Wanita berpakaian rapi itu membuka map dokumen dan mengeluarkan beberapa berkas dari sana, lalu memberikannya pada Tia. "Ini dokumen yang harus ditandatangani. Dan beberapa lainnya, adalah proposal pengajuan desain baru dari bagian sample."
Tia mengangguk dan mengambil berkas itu menuju ke ruangan kerja pribadinya. Mulai menandatangani dan membaca proposal itu dibantu oleh sang asisten. Hingga tanpa terasa waktu pun sudah sampai di jam istirahat. Tia pamit untuk pulang ke rumah karena hanya bekerja separuh waktu.
Sesampainya di rumah, Tia segera mengganti pakaian dan menghampiri dua anak kembarnya yang sedang disuapi oleh baby sitter. "Berikan itu padaku. Aku akan menyuapi Hasna."
Tia menimang Hasna di dalam pelukannya sembari menyuapi sang putri. Dia menunjuk ke beberapa mainan yang ada di depan mereka agar Hasan dan Hasna semakin lahap. Tia merasa bahagia dan bersyukur dengan ini semua.
"Mbak, Bagaimana apakah anak-anak rewel saat saya tinggal?" tanya Tia pada sang pengasuh kedua anaknya.
"Tidak, Nyonya. Mereka tidak rewel dan bersyukur sekali mereka sangat mudah untuk diajak bekerjasama," jawab Yuni sang baby sitter.
__ADS_1
"Syukurlah, anak-anakku memang anak -anak yang hebat! Benarkan, sayang -sayang mama semua?" Tia mengajak kedua anaknya berbicara, seolah mereka juga tahu apa yang dikatakan oleh ibunya.