Menikahi Mantan Suami Pelakor

Menikahi Mantan Suami Pelakor
MMSP2. Bab. 45


__ADS_3

Devi berjalan menuju ke tempat bayangan itu menghilang. Pagi hari kisaran pukul setengah enam masih terlihat gelap lantaran pohon tinggi yang ada di sekitar komplek rumah Aris.


"Siapa itu?! Cepat keluar! Jangan dikira bisa menakuti seorang wanita! Jangan salah, aku tidak takut pada siapapun!!" seru Devi menantang orang yang bersembunyi.


Tidak lama kemudian mobil Tia datang memasuki halaman parkir rumah Aris.


"Assalamu 'alaikum," ucap Tia sembari mengetuk pintu rumah sang adik.


"Mbak Tia?"


"Astaghfirullah ...! Devi! Kamu mengagetkan mbak saja!" Tia terkejut saat Devi memanggilnya dari arah belakang.


"Maaf, Mbak. Tadi ada yang mencurigakan di depan, jadi Devi berusaha lihat siapa orang itu. Dan setelah Devi lihat ternyata tidak ada siapa -siapa," jawab Devi sambil menoleh lagi ke arah hilangnya bayangan tersebut.


"Benarkah? Lebih baik kalian bayar satpam untuk jaga di gerbang." Tia ikut melihat ke arah di mana Devi menunjuk. Namun, Tia juga tidak mendapati apa-apa.


"Iya, Mbak. Tadi Devi lihat terus Devi berusaha mengejarnya tapi tidak ada siapa -siapa," ucap Devi dengan mengangkat kedua bahunya.


"Mungkin kau salah lihat, tapi untuk lebih amannya kamu bilang pada Aris agar bayar Satpam untuk jaga pintu gerbang. Tengok mbak masuk aja tadi gerbang tidak ditutup. Nanti kalau ada satpam dia yang buka dan tutupin pintu gerbang," ucap Tia memberi saran pada sang adik ipar.


"Devi bisa jaga diri kok, Mbak. Devi tidak takut jika harus melawan penjahat sekalipun. Selain itu juga bisa irit tidak bayar gaji penjaga," ucap Devi pamer, dia merasa sayang jika harus mengeluarkan uang untuk bayar penjaga keamanan.


Tia menggelengkan kepalanya, ada sedikit rasa kesal pada adik iparnya yang menurutnya agak perhitungan soal duit.


"Devi bukan begitu maksud, Mbak. Jika kau ditinggal Aris, kau akan merasa aman jika ada satpam nya. Walaupun kau pandai dalam bela diri, jika dibanding dengan kekuatan seorang lelaki, seorang wanita masih kalah. Masalah gaji, biar nanti mbak yang urus. Biar kantor yang bayarin gaji satpam itu," ucap Tia yang tidak menyangka jika sang adik ipar terlalu perhitungan dalam hal keuangan.


"Kalau begitu baiklah, Mbak. Saya setuju, nanti saya bilang pada mas Aris saja," ujar Devi dengan senyum sumringah. Membayangkan dirinya tidak mengeluarkan apa-apa tapi dapat satpam yang akan menjaga keamanan rumahnya.


Tia menghela napas panjang. Memaklumi bahwa tidak ada yang sempurna. Satu sisi cantik dan ramah juga pandai menjaga diri. Akan tetapi di satu sisi lain, perhitungan dalam hal keuangan. Itulah watak manusia tidak ada yang sempurna.


"Baiklah, nanti mbak juga akan bilang pada mas Hans untuk menyetujui permintaan Aris," ujar Tia sambil tersenyum.

__ADS_1


"Terimakasih, Mbak. Oh ya, mari silakan masuk," ucap Devi sambil tersenyum karena lupa mengajak Tia masuk ke dalam rumahnya.


Tia dan Devi pun masuk ke dalam rumah. "Apakah anak-anak sudah bangun?" tanya Tia pada Devi.


"Sepertinya belum, coba saya lihat," ucap Devi masuk ke dalam kamar tempat Hasan dan Hasna tidur.


Tia mengikuti Devi dari belakang dan melihat Tia. "Wah, anak mama belum bangun semua?" Tia mendekat ke arah tempat tidur anaknya.


"Mmm ... Mama sudah di sini? Apa mau jemput Hasna?" tanya Hasna dengan mata yang masih terpejam.


"Tidak ... Hanya mama terlalu kangen sama Hasna dan kak Hasan," jawab Tia sambil mengecup pipi Hasna.


"Tapi kan Hasna masih mau di sini sama Tante Devi," ucap Hasna merajuk.


"Tidak, Sayang. Mama tidak jemput kalian, mama hanya mau menjenguk apakah kalian di sini merepotkan Tante Devi dan om Aris tidak?" Tia beralasan.


"Tidak kok, Mbak. Mereka semua mandiri dan pandai mengurus diri juga," ucap Devi mengatakan yang sesungguhnya.


"Belanja, Mbak? Waaah ... Asyik tuh. Hasan dan Hasna ayo bangun, mama mengajak kalian untuk belanja," ucap Devi dengan bersemangat.


Tia hanya menghela napas panjang, dia sudah bisa menebak pastilah Devi suka jika diajak belanja. Tidak masalah bagi Tia, toh Devi sudah mau mengurus anaknya dengan baik.


"Yeei ... Belanja, kak Hasan ... Ayo bangun!" Hasna mengguncang tubuh Hasan yang masih tertidur. Memang jikalau hari libur, Hasan paling sulit untuk dibangunkan.


"Hmmm ... Aku di rumah aja! Malas belanja, capek ...." Hasan menolak keinginan sang adek.


"Yaaa ... Kak Hasan kok gitu sih! Kan asyik kalau belanja sama mama, semua yang kita inginkan pasti dibelikan," ucap Hasna yang merasa kecewa dengan Hasan yang tidak mau ikut belanja di mall biasa sang mama mengajak mereka belanja.


Raut wajah Devi dan Hasna terlihat kecewa. Tia pun mendekat ke arah Hasan.


"Kak ... Beneran kamu tidak mau ikut, Kak? Banyak loh yang kecewa jika kakak tidak ikut. Nanti tidak ada yang jaga kakak di sini. Kalau ada penjahat, kak Hasan tidak ada yang melindungi," Tia mengusap rambutnya Hasan.

__ADS_1


Hasan yang semula terpejam tiba-tiba membuka matanya. Rupa-rupanya perkataan sang ibu ia dengarkan dengan baik.


"Baiklah, Ma. Hasan iku," ucap Hasan dengan patuh. Hasan adalah sosok anak yang tidak ingin membuat kecewa sang ibu. Wanita yang telah melahirkannya.


"Bagus, Nak. Kau memang anak yang berbakti pada kedua orang tuamu," ucap Tia sembari mengecup kening sang putra kesayangan.


"Yeei ... Akhirnya kakak mau juga. Sekarang Hasna mau mandi dan bersiap, " ucap Hasna sembari bangun dari tempat tidurnya. Dia paling bersemangat karena jika sang ibu yang mengajaknya belanja maka apa yang ia inginkan pasti akan dibelikan.


"Mbak ... Devi ijin untuk mandi dan bersiap," ujar Devi sambil berlalu dan kembali ke kamarnya untuk membersihkan diri.


Tia tersenyum kecut, sepertinya kali ini rekeningnya agak terkuras. Namun tidak masalah jika semua ini demi kebahagiaan adiknya.


"Ma ... Mama kok diam saja? Apa mama tidak bersemangat belanja kali ini? Kalau tidak mending kita batalkan saja, Ma," ujar Hasan yang peka dengan sang mama.


Tia tersenyum lalu mengacak rambut sang putra. "Siapa yang tidak bersemangat? Mama sih bersemangat aja, tapi kalau ada salah satu anak yang tidak bersemangat tentu saja mama jadi tidak bersemangat belanja," ucap Tia beralasan. Dia tidak mungkin jujur pada sang putra tentang apa yang dia rasakan saat ini.


"Ooh ... Jadi mama begitu karena Hasan ya? Baiklah kalau begitu Hasan akan segera bangun dan bersiap untuk pergi belanja," ujar Hasan dengan senyum yang penuh makna. Anak sekecil itu bisa memahami perasaan wanita dengan jilbab pashmina berwarna pink soft dan dipadukan dengan gamis yang senada.


"Baiklah, mama dengan senang hati menunggu kalian," ucap Tia tersenyum dengan sang anak yang begitu peduli kepadanya. Sangat benar apa yang dikatakan orang zaman dahulu, bahwa tiada harta yang lebih berharga dibanding dengan anak yang Sholih dan Sholihah, juga peduli dengan orang tua.


Tia menatap punggung sang anak yang keluar dari kamar untuk mandi di kamar mandi dekat dengan dapur. Hasan selalu mengalah pada Hasna yang terkadang lama jika sudah di kamar mandi.


"Ma ... Lapar," rengek Hasna yang perutnya terasa lapar karena belum juga disuruh sarapan oleh Devi.


"Baiklah, sekarang kita sarapan dulu semua. Jangan sampai ada yang terlambat makan lagi, kita bisa berangkat nanti setelah semua sudah sarapan dan minum jus," ucap Tia sambil membuka tudung saji.


"Devi apakah kau yang masak semua ini?" tanya Tia yang melongo melihat apa yang tersedia di meja dan bawah tudung saji.


"Bukan sih, Mbak. Semua itu masakan mas Aris, Mbak," jawab Devi dengan senyum yang mengembang.


"Oh, Aris yang masak semua ini!" tanya Tia, dan hanya mendapatkan anggukan kepala dari sang adik ipar.

__ADS_1


"Maaf, Mbak. Tadi mas Aris yang nyiapin semua, Devi lupa jika Devi harus menyiapkan sarapan untuk mas Aris. Bukannya mas Aris yang malah melayani sarapan Devi," ujar Devi membela diri. Memang untuk kali ini semua yang mengurusi adalah Aris.


__ADS_2