Menikahi Mantan Suami Pelakor

Menikahi Mantan Suami Pelakor
MMSP2. Bab. 67


__ADS_3

Hans memutar tubuhnya lalu memanggil sang pelayan.


"Pelayan," panggil Hans sembari melambaikan tangannya.


"Iya, Tuan," jawab sang pelayan tersebut.


"Cepat buatkan pesanan saya ini," ucap Hans sembari memberikan secarik kertas bertuliskan pesanannya.


"Siap, Tuan. Segera kami buatkan," ucap sang pelayan menunduk patuh pada sang big bos.


Setelah pelayan itu pergi, Hans mulai berbicara dengan Tia.

__ADS_1


"Sayang, dengarkan mas. Semua itu tidak seperti apa yang kau pikirkan. Tadi Miss Merlyn datang dan memaksa mas untuk menerima kerjasama dengannya. Mas menolak dengan baik-baik. Akan tetapi dia tidak peduli dan terus memaksa mas untuk menerima kerja sama itu. Mas marah dan memintanya untuk keluar dari ruangan mas. Mas berjalan membuka pintu dan entah mengapa tiba-tiba kaki mas terjerembab dan jatuh menimpa tubuh Merlyn. Seperti itu kejadiannya. Kalau tidak percaya kamu bisa mas ajak ke ruang CCTV," ujar Hans menjelaskan kejadian yang sebenarnya.


Mendengar jika apa yang dilakukan oleh sang suami terekam lewat CCTV, Tia mulai melirik ke arah Hans. Hans tersenyum melihat sang istri sudah mulai terlihat luluh. Hans paham dan merasa senang jika Tia cemburu padanya. Bukankah cemburu itu adalah tanda cinta. Ya, Hans sangat senang jika sang istri merasa cemburu kepadanya.


"Kamu kalau cemburu terlihat sangat cantik, Sayang. Sejujurnya mas merasa senang jika kamu cemburu begitu. Mas merasa menjadi lelaki yang paling bahagia karena ada bidadari yang cemburu pada mas. Tapi ...." Hans menggantung ucapannya.


"Tapi apa, Mas?" tanya Tia penasaran.


"Tapi ... Mas berharap kamu bersabar, dan tetap yakin dan percaya pada mas, karena Merlyn bukanlah wanita yang mudah untuk disingkirkan. Dia memiliki kekuasaan untuk menghancurkan siapapun yang berani melawannya. Mas ingin kau berhati-hati, karena mungkin kamu yang akan menjadi sasarannya. Mas berharap kamu tidak pergi sendirian, mas akan mengawal kalian dengan pengawalan yang ketat," ucap Hans memegang kedua tangan Tia.


"Mas, aku bisa melawan Merlyn. Mas tahu kan aku bisa mengalahkan siapapun yang berniat merebut mas dari sisi Tia?" ucap Tia yang merasa jiwa untuk berjuang berkobar di dada. Tia tidak ingin siapapun merebut Hans dari sisinya.

__ADS_1


"Mas percaya, tapi saat ini kamu sedang hamil. Hamil anak kita yang lama kita nantikan setelah kelahiran si kembar. Mas tidak ingin kamu kenapa -kenapa. Kamu mau kan menuruti mas?" tanya Hans lagi.


"Baiklah, Mas. Mungkin Tia juga akan meminta bantuan ayah untuk menjaga anak-anak. Kita harus waspada jika Merlyn adalah wanita yang berbahaya dan seperti yang mas bilang, dia berkuasa," ujar Tia lagi. Dia ingin anak-anaknya terlindungi keselamatan mereka saat di sekolah.


"Bagus lah. Kita akan semakin punya tambahan kekuatan untuk melawan Merlyn. Dia kuat karena ada yang mendukungnya. Ayahnya seorang duta besar untuk negara ini," ucap Hans berusaha menyakinkan diri dan istrinya.


Tia tersenyum, keduanya saling menguatkan. Apapun ujian yang menghadang, mereka akan selalu bersama. Baik di dalam suka maupun duka, mereka akan bersatu dan akan terus berjuang.


"Permisi, Tuan. Ini pesanan Anda," ucap sang pelayan memutus tatapan kedua insan yang saling mencintai itu.


"Terimakasih."

__ADS_1


Hans menggeser minuman dan makanan yang baru saja diantar sang pelayan. Tia tersenyum karena merasa bahagia. Hans tidak melupakan makanan dan minuman yang menjadi favoritnya. Walaupun saat hamil begini, Tia tidak terlalu bersemangat dengan minuman yang jadi favoritnya. Tia lebih suka menu yang dulu ia tidak sukai. Memang ibu hamil itu kadang mengalami perubahan mood.


__ADS_2