
Steve berjalan dengan Wulan di sampingnya dia tidak tahu jika ada sepasang mata yang terus mengawasi gerak-geriknya. Orang dengan pakaian layaknya petugas keamanan, terus mengawasi Steve.
"Nyonya, menantu Anda bersama seorang wanita masuk ke dalam kamar yang biasa dia pesan." Lelaki itu menelpon seseorang.
"Wanita?! Kurang a_jar! Steve main gi_la lagi?! Masih dengan wanita yang sama? Ingat jangan berbohong! Kau adalah mata-mata yang aku sewa!" umpat wanita yang ada di seberang sana.
"Sepertinya tidak, Nyonya. Ini wanita lebih tua dari sebelumnya. Mungkin partner kerjanya, karena mereka sepertinya belum mengenal akrab. Saya tidak berbohong, Nyonya Clara!" jawab sang mata-mata.
"Apa kau punya bukti fotonya?!" tanya sang majikan dengan nada geram.
"Ada, Nyonya. Sebentar akan saya kirimkan ke nomer Anda," jawab sang mata-mata.
"Bagus! Cepat kirim!!"
Lelaki itu pun terlihat sibuk menekan papan keyboard ponselnya. Dia mengirim foto melalui aplikasi WA.
Ting ...
Sang mata-mata beralih menulis pesan.
Sang mata-mata: Sudah, Nyonya.
Clara : Astagaa! Ini wanita yang bersama Steve?!
__ADS_1
Sang mata-mata: Benar, Nyonya.
Clara : Berani sekali dia! Wanita ini adalah istri dari keponakan suamiku. Aku yakin suaminya tidak tahu.
Sang mata-mata : Apa yang harus saya lakukan, Nyonya?
Clara: Awasi mereka lalu rekam semua, akan aku laporkan pada mertua wanita itu!
Sang mata -mata : Baik, Nyonya.
Sang mata-mata itu pun memasukkan kembali ponselnya lalu bergegas melaksanakan tugasnya.
Sementara itu, Hans dan Tia tengah asyik menghabiskan istirahat siangnya. Setelah lelah seharian menyambut para tamu. Banyak kado yang mereka berdua dapatkan. Salah satu yang menarik perhatian Tia adalah, satu buah kotak kado yang terbungkus kertas kado berwarna pink polos dengan pita berwarna merah.
Tulisan di atas pita merah itu pasti berasal dari Aris. Tia membuka kado tersebut, sepasang gelang titanium. Aris mengumpulkan uang untuk membeli sebuah kado bagi kakak perempuannya.
Tia menitikkan air matanya, ternyata Aris dan ibunya tidak hadir di pesta pernikahannya.
"Kenapa kamu menangis, Sayang?" tanya Hans pada Tia.
"Ini, Mas. Mama ternyata tidak mau hadir di pesta pernikahan kita. Aris mengirimkan kado dan surat permintaan maaf," ucap Tia sembari memberikan kertas surat itu pada Hans.
Hans membaca surat dari Aris, dia pun menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Mas tidak tahu lagi bagaimana jalan pikir mama mu, kita sudah berusaha baik namun masih juga tidak bisa menerima mu sebagai anaknya. Sudahlah, Tia. Mungkin lebih baik kita beri waktu kedua orang tua mu untuk menyadari perasaannya padamu. Sudahlah lebih baik kau tenang dahulu," ucap Hans menenangkan Tia.
"Tapi, Mas. Aku seperti tidak memiliki restu dari ibuku sendiri. Sebenarnya apa salahku, dan siapa sebenarnya ayah kandungku," rintih Tia masih sesenggukan. Dia tidak bisa lagi menahan emosinya yang meledak.
Hans mereng_kuh tubuh Tia untuk memberinya kekuatan. Tangis Tia semakin menjadi, rasa sesak di dalam hati dia tumpahkan di da_da Hans.
"Menangis lah jika menangis membuatmu bisa lebih lega. mas akan siap membantumu untuk mencari ayah kandungmu," ucap Hans seraya mengusap punggung sang istri.
"Benarkah? Mas mau bantu Tua untuk menemukan siapa ayah kandung Tia?" Tia menatap bola mata Hans untuk mencari titik kebohongan di sana. Namun, hanya kejujuran yang Tia dapati.
"Benar, Tia. Mas akan membantumu mencari siapa sebenarnya ayah kandungmu. Tapi, apa yang kau lakukan jika kita dapat menemukannya?"
Tia terdiam, dia sendiri pun tidak tahu apa tangan akan ia lakukan jika bertemu dengan sang ayah kandung.
"Tia ... Tia hanya ingin tahu alasan dia berbuat kejam pada mama hingga membuat mama tidak mau mengakui Tia sebagai anaknya." Lirih Tia sembari terisak di dada Hans.
Hans menge_cup pucuk kepala Tia dengan lembut, memberikan ketenangan dan kekuatan di hati Tia.
"Tenanglah, kita akan mencarinya bersama. Semoga masih ada waktu kita untuk bertemu dengan ayah kandung mu. Serahkan semua pada Sang Maha Pencipta, semoga kita segera menemukannya. Nanti biar mas perintahkan anak buah mas untuk mencari informasi di mana awal mama mu mengalami kejadian yang mengerikan itu."
Tia menarik napas lega, dirinya merasa lebih tenang. "Terima kasih, Mas. Aku sangat lega mas Hans mau membantuku menemukan siapa ayah kandungku. Aku akan minta Aris untuk menanyakan di mana pabrik papa bekerja dulu," ujar Tia. Dia ingin meminta bantuan dari Aris.
"Bagus, dengan begitu kita akan lebih mudah untuk melacak dimana keberadaan ayah kandungmu," timpal Hans.
__ADS_1
Gegas Tia mengambil ponselnya lantas menghubungi Aris. Dikirimnya pesan agar pembicaraan mereka tidak diketahui oleh Mery dan Cahyo.