
Matahari telah merangkak naik, suasana dan hawa rumah Hans jauh berbeda dengan sebelumnya. Tia juga kembali seperti biasa, bangun dengan tubuh yang lebih bugar.
"Hoam ...." Tia bangun menggeliat lalu menguap. Tubuhnya merasa lebih enakan dari sebelumnya. Gegas Tia mengambil air wudhu untuk sholat subuh.
"Assalamualaikum, Sayang. Bagaimana tidurmu? Nyenyak kah?" tanya Hans yang sudah tiba kembali ke kamarnya.
"Wa'alaikum salam. Mas Hans? Dari mana?" tanya Tia yang heran melihat Hans masih memakai jaket.
"Dari mengantar ustadz Imran. Kami sudah berhasil menemukan buhul teluh yang mengganggu mu," jawab Hans sembari membuka jaketnya.
"Benarkah? Alhamdulillaah ... Siapa yang mengirim teluh padaku, Mas?" tanya Tia penasaran siapa yang telah berbuat jahat kepadanya. Perasaan dia tidak pernah berbuat jahat pada siapapun.
"Mmm ... yang mengirim teluh itu adalah teman mas di masa lalu. Dia menyimpan dendam pada diri mas dan akan membalasnya melalui dirimu. Orang itu ingin kita berpisah dan pada akhirnya dia akan memiliki dirimu demi ambisinya," jawab Hans dengan menundukkan wajah.
"Apa? Semua itu perbuatan teman mas sendiri? Bagaimana bisa? Bukankah Tia sendiri tidak pernah mas kenalkan dengan teman mas itu? Bagaimana dia bisa dekat dan ingin memiliki Tia?" tanya Tia pada pada Hans.
"Kau tahu Tia, dia adalah orang yang kemarin membicarakan bisnis di ruang kantormu saat mas mengajakmu makan siang kemarin itu."
"Tuan Nigam? Benar itu, Mas? Dia adalah teman mas?" cecar Tia yang penasaran dengan apa ya g dikatakan oleh Hans.
"Benar. Dia adalah Nigam. Sekarang dengarkan semua cerita masa laluku. Setelah itu kau boleh menilai mas seperti apa. Apa yang mas lakukan itu benar atau salah." Hans menatap penuh arti pada sang istri sembari menggenggam erat kedua tangan istrinya. Takut jika Tia menilai buruk padanya.
Hans pun menceritakan dari awal dia berkenalan dengan Nigam hingga sampai bertemu dengan Anggun lalu bagaimana Anggun bisa begitu terobsesi dengan dirinya kemudian barulah bagaimana Nigam bisa memiliki dendam dengan dirinya.
"Jadi keluarga Nigam itu adalah penganut ilmu hitam? Sungguh berbahaya sekali. Tia takut, Mas. Jika suatu saat Nigam berbuat jahat pada Hasna dan Hasan," ucap Tia dengan nada penuh kekhawatiran.
__ADS_1
"Itulah yang mas khawatirkan. Kita harus menjaga ketat kedua buah hati kita. Ma juga mengharap kau mau memutuskan kontrak kerjasama dengan perusahaan Nigam. Aku yakin jika coklat itu pasti dibubuhi sihir. Membuat orang yang memakannya akan terus ketagihan untuk membeli!"
Hans mengingat bagaimana Nigam menawarkan coklat batangan untuk Tia.
"Benar, Mas. Tia mengira juga begitu. Orang yang sudah merasakannya akan terus ketagihan. Orang itu akan terus membeli dan membeli seperti orang ketagihan. Apa coklat itu mengandung bahan yang berbahaya?" Tia menarik kesimpulan dari sudut pandang bahan makanan.
"Benar juga katamu, Sayang. Mas akan bekerjasama dengan tim penyidik kepolisian untuk meneliti apakah coklat itu mengandung bahan makanan atau obat yang berbahaya. Apa kamu masih punya sampel coklat itu?" tanya Hans. Dia sangat penasaran dengan coklat yang dibuat oleh perusahaan coklat milik Nigam.
"Masih, Mas. Sebentar, Tia akan mengambilnya. Coklat itu berada di tas Tia." Tia bangkit dari ranjangnya untuk mengambil coklat yang kemarin diberikan Nigam untuk dirinya.
Tia membuka tasnya dan mencari coklat yang belum Tia makan. Beruntunglah coklat itu belum mencair.
"Ini, Mas. Alhamdulillaah coklat ini belum mencair jadi masih bisa diteliti. Jadi kita akan menyerahkan coklat inu pada pihak kepolisian dan meminta agar pihak kepolisian mau meneliti coklat ini," ucap Seina dengan mata yang berbinar.
"Tapi kita tidak boleh merasa senang terlebih dahulu karena bisa jadi setelah Nigam tahu kalau ilmunya sudah tidak lagi mempan padamu, maka dia akan mencari jalan yang lain. Nigam pasti tahu kalau kita sudah memiliki dua anak kembar. Ini yang harus kita pikirkan," ujar Hans memikirkan keselamatan anak-anaknya.
"Benar sekali, Mas. Kita tidak boleh lengah, kita harus menjaga ketat si kembar. Aku akan minta bantuan ayah untuk mengirim orang terbaiknya mengawal Hasan dan Hasna." Tia merencanakan untuk minta bantuan Gunawan untuk ikut dalam mengawasi keamanan cucunya.
"Bagus juga idemu. Mas juga akan minta anak buah mas untuk memperketat penjagaan rumah ini. Dia sudah berhasil menanam buhul di halaman rumah kita, maka tidak menutup kemungkinan jika Nigam juga tahu seluk beluk rumah kita."
"Lantas apa perlu kita menjual rumah ini?" tanya Tia lagi. Sebagai seorang ibu dia khawatir dengan keselamatan kedua buah hatinya.
"Tidak perlu, jika dia tahu kita jual maka dia juga akan bisa mengejar kita. Nigam tidak akan tahu jika kau tidak berubah jika berada di dekatnya." Hans memijat pelipisnya yang dirasa mulai berdenyut karena kurang tidur.
"Maksud mas, mas ingin Tia pura-pura tidak tahu jika Nigam itu berbahaya dan Tia harus bersikap sama seperti sebelum buhul itu ditemukan? Begitulah, Mas?" Tia mencoba mengartikan semua yang dikatakan sang suami.
__ADS_1
Hans menoleh ke arah Tia sambil mengangguk. Menurut Hans, jika Nigam tidak curiga dengan perubahan sikap Tia maka anak-anaknya akan selamat. Minim sampai terbuktinya ada bahan campuran di dalam coklat yang diproduksi oleh Nigam.
"Jika kamu sanggup dan rela berkorban demi keselamatan anak-anak sampai Nigam tertangkap, mungkin itu jalan yang terbaik. Kamu harus bersikap dan mengikuti kemauan Nigam, sampai dia terbukti bersalah," usul Hans.
Tia terdiam, dia sedang memikirkan apa yang dikatakan oleh Hans. Dirinya harus bersandiwara di depan Nigam sampai semua kejahatan Nigam terbukti.
"Bagaimana, Sayang? Apakah kamu setuju?" tanya Hans yang memikirkan keselamatan anaknya.
Tapi mengambil napas dalam-dalam, sekarang dia harus berpikir sebagai ibu yang rela berkorban demi keselamatan anaknya. Tia tidak ingin kedua anak yang disayanginya ada dalam bahaya.
"Baiklah, Mas. Tia akan berusaha untuk bersikap sama seperti sebelumnya. Demi Hasna dan Hasan, aku rela berkorban," ucap Tia dengan senyum yang dipaksakan. Sesungguhnya semua itu adalah keputusan yang sulit untuk Tia.
"Baiklah, Sayang. Mari kita berdoa dan niatkan hanya demi untuk keselamatan Hasan dan Hasna," ucap Hans yang merasa lega karena sang istri bisa diajak kerjasama. Apa yang ia rencanakan sebelumnya sudah dibicarakan bersama ustadz Imran dan Aris.
Hans dan Tia berdoa bersama agar apa yang mereka rencanakan akan membuahkan hasil sesuai dengan yang diharapkan.
"Baiklah, Mas. Tia akan ke dapur untuk menyiapkan sarapan dan membangunkan Hasan dan Hasna karena mereka harus sekolah." Tia beranjak dari tempat tidur dan berjalan meninggalkan Hans yang masih duduk di tepi ranjang Tia. Sebenarnya ada perasaan yang tidak bisa ia ungkapkan tentang Nigam dan Anggun.
"Apa mereka tidak marah kepadaku?" tanya Hans di dalam hati. Dia tidak pandai dalam menyembunyikan perasaannya. Hans mengira dulu masalahnya bisa diatasi, akan tetapi malah berbuntut panjang.
Hans pun akhirnya bangkit dari duduknya, sudah waktunya dia bersiap untuk berangkat kerja.
"Semoga hari ini semua berjalan dengan lancar," ucap Hans sembari memasang jam tangannya yang sempat ia lepas saat wudhu tadi.
Setelah selesai bersiap, Hans menuju ke meja makan. Bergabung dengan istri dan anaknya yang sudah menunggu lama.
__ADS_1