
Hari terus berlalu, tanpa terasa sudah tiga bulan Tia menjadi pemimpin perusahaan. Dia juga sudah mulai turun tangan dalam rapat bulanan untuk statistik perusahaan. Menjadi bagian perusahaan yang paling penting, membuatnya semakin bersemangat dalam bekerja.
Tia melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul setengah dua belas, tepat ketika rapat selesai. Tia berpamitan pada asisten pribadinya untuk pulang ke rumah seperti biasa. Di rumah, dia beralih peran menjadi seorang ibu yang baik untuk Hasan dan Hasna.
Di saat Tia sedang menidurkan anak perempuannya--Hasna, tiba-tiba Yuni datang dengan wajah yang sedih.
"Nyonya, maaf, ada yang ingin aku bicarakan," ucap baby sitter ketika Tia menidurkan Hasna di atas keranjang tidur bayi setelah lelah bermain.
Tia menganggukan kepala dan keluar dari kamar anak-anak. Mereka ke ruang tamu agar suara mereka tidak terdengar sampai ke ruangan tidur bayi. Wanita paruh baya yang sudah tiga bulan ini membantunya merawat anak-anak, tampak terlihat kebingungan.
"Ada apa?" tanya Tia dengan nada suara khawatir.
"Ibu saya di kampung, saat ini sedang sakit keras. Mereka menyuruh saya untuk pulang. Apakah Nyonya akan mengizinkan? Dan mungkin, nanti jika suasana sudah membaik, insyaallah saya akan kembali melanjutkan pekerjaan di sini," tutur sang baby sitter dengan nada suara penuh penyesalan.
"Baiklah, Mbak. Aku tidak bisa menahan mbak Yuni untuk tidak pulang. Jika mbak Yuni ingin kembali ke sini maka pintu ini selalu terbuka untuk mbak Yuni," ucap Tia dengan senyum manisnya walau hati Tia ikut sedih.
Tia mengerti keadaan baby sitter, tentu saja ini sulit untuknya juga. Namun, Tia terpaksa mengizinkan baby sitter itu untuk pulang kampung. Tia bermurah hati membayar seluruh upah untuk bulan ini, meskipun belum waktunya gajian. Tia juga memberikan uang tambahan untuk ongkos pulang baby sitter, juga sebagai ucapan terima kasih atas kebaikannya merawat Hasan dan Hasna selama ini.
"Terima kasih banyak, Nyonya. Saya sangat beruntung memiliki majikan seperti tuan dan nyonya. Sampaikan salam saya pada tuan Hans. Saya terpaksa berangkat sekarang karena sudah ditunggu oleh keluarga saya," ucap Yuni.
"Iya, Mbak. Nanti saya akan menyampaikan salam untuk mas Hans. Hati-hati di jalan ya, Mbak," ucap Tia memeluk Yuni sebagai tanda perpisahan.
Yuni pun mengangkat kopernya menuju ke taksi online yang sudah dia pesan. Sungguh kabar sakitnya sang ibu yang mendadak itu membuat Yuni terpaksa harus pulang kampung.
Setelah Yuni meninggalkan rumah Tia, Tia pun memberitahukan kepulangan baby sister kepada Hans.
Tiga hari berlalu, Hans kembali menghubungi yayasan untuk mendatangkan baby sitter yang baru. Tia selama 3 hari ini juga tidak bisa bekerja karena mengurus kedua anaknya.
Tia baru selesai menidurkan Hasan dan Hasna dan mendengar suara bel pintu ditekan. Tia meminta sang pelayan untuk segera membuka pintu.
"Maaf, Nyonya. Ada tamu," ucap sang pelayan mengajak masuk wanita dengan rambut blonde itu.
Tampak berdiri dihadapannya seorang wanita yang berusia setahun lebih tua dari Tia. "Oh, apakah kau baby sitter baru?"
"Benar, Nyonya. Saya diminta yayasan untuk datang ke alamat ini. Di sini tertera alamat tuan Hans dan Nyonya Tia dengan anak kembar yang harus saya jaga. Apakah benar, Nyonya?" tanya wanita itu dengan percaya diri.
__ADS_1
Tia memindai wanita itu dari ujung kaki hingga ujung rambut. Walau ada yang tidak sreg di hati, tapi Tia menerima wanita itu. Tia percaya Hans tidak akan salah dalam memilih seperti baby sitter yang sebelumnya. Selain itu Tia juga butuh karena dia harus bekerja.
"Sebelum aku terima coba praktekkan bagaimana kamu menggendong bayi ini," ucap Tia menunjuk kedua anaknya yang sedang tertidur.
"Baik, Nyonya. Tapi sebelumnya ijinkan saya untuk cuci tangan. Saya takut jika tangan saya yang kotor akan membawa kuman dan bisa membuat debay sakit," jawab wanita itu dengan menggosokkan kedua tangannya.
Tia tertegun, dia tidak menyangka jika wanita itu sangat menjaga kebersihannya. Satu nilai plus dari Tia yaitu sang pengasuh itu menjaga kebersihannya.
"Pelayan, antar nona ini ke toilet," titah Tia pada pelayan yang masih membersamai Tia.
"Siap, Nyonya," jawab sang pelayan.
"Mari silakan ikut saya, Nona," ajak sang pelayan pada baby sitter. Kedua wanita itu pun pergi meninggalkan Tia yang termenung menatap tas koper yang ditinggal oleh sang calon baby sitter itu.
"Sepertinya wanita itu tahu akan arti kebersihan dan paham akan tumbuh kembang bayi. Lebih baik aku terima, kasihan juga dia sudah jauh-jauh datang dari desa ke kota untuk mencari pekerjaan." Tia menimang Hasan yang terbangun.
"Oh, silakan ...." Tia memberikan Hasan yang sudah tertidur kembali pada wanita dengan baju seragam ala baby sitter itu.
Hasan yang semula mau tidur tiba-tiba terbangun dan menangis.
"Oeek .... Oeeek!!"
Bayi berusia tiga bulan lebih itu menangis selama di gendongan wanita itu.
"Maaf, Nyonya. Sepertinya bayi ini lapar. Apa nyonya sudah memberikan ASI?" tanya wanita dengan buatan itu. Bagian bawah alis juga seperti habis di sulam. Wajah cantik tapi seperti habis tambal sulam.
"Mungkin bener, dia sangat lapar. Aku belum membuatkan susu untuknya, baru aku kasih ASI belum susu formula," balas Tia sembari mengambil sang anak dari tangan si calon baby sitter itu.
__ADS_1
Tia mulai menyusui Hasan dengan air susunya. Setelah beberapa saat, Hasan pun terdiam dalam pelukan sang ibu.
"Jadi bagaimana, Nyonya. Apa saya diterima kerja di sini?" tanya wanita tersebut dengan tatapan penuh pengharapan.
"Oh, ya. Namamu siapa?" tanya Tia pada sang calon baby sitter anaknya.
"Nama saya Luna, Nyonya. Sesuai dengan berkas yang saya berikan pada Nyonya," jawab wanita dengan nama Luna itu.
"Baiklah, Luna. Kau bisa kerja di sini mulai hari ini juga. Pelayan ... antar Luna ke kamarnya." Tia memerintahkan sang pelayan untuk mengantar Luna ke kamarnya.
"Aku harus memberi kabar pada mas Hans kalau baby sitter yang baru dari yayasan sudah sampai," gumam Tia meletakkan Hasan ke dalam box bayinya. Hasan, bayi yang menangis tadi tertidur pulas setelah digendong oleh sang ibu. Hasan adalah sosok bayi yang peka, dia akan menangis jika bersama dengan sosok yang memiliki niat jahat sekalipun.
Tia mengambil ponselnya lalu menghubungi Hans.
Tuut ....
Tuut ...
Suara dering panggilan ke nomor Hans terdengar.
"Hallo, Assalamualaikum, Sayang," Suara bariton terdengar dari seberang.
"Wa'alaikum salam, Mas. Tia hanya memberitahu kalau baby sitter sudah datang."
"Oh syukurlah. Mas kira akan datang nanti sore atau besok. Tapi syukur deh jika sudah datang terlebih dahulu," ucap Hans yang kesal pada pihak penyedia yang salah memberi informasi.
Pihak yayasan penyedia tenaga kerja, mengatakan pada Hans jika pesanannya akan diproses sore atau keesokan harinya.
__ADS_1