Menikahi Mantan Suami Pelakor

Menikahi Mantan Suami Pelakor
MSSP 2. Bab 23


__ADS_3

Aris meluncur ke rumah Aliya, berharap kalau Aliya ada di sana. Mobil Aris perlahan memasuki halaman rumah Aliya. Sosok wanita yang akan menjadi calon istrinya.


Aris turun dari mobil, setelah memarkirkan mobilnya dengan rapi. Dengan mengatur napas agar redam semua emosi di dada, Aris mengetuk pintu rumah Aliya.


Tok!


Tok!


"Assalamu 'alaikum ...," Aris mengetuk pintu sembari uluk salam. Berharap ada yang segera membukakan pintu untuknya. Sudah dua kali Aris mengetuk pintu dan uluk salam akan tetapi belum ada jawaban juga dari dalam.


"Apa mereka sedang tidak ada di rumah? Sepertinya begitu karena rumah ini sepi sekali. Akan tetapi ada lampu yang menyala. Apa mungkin mereka pergi keluar rumah sebentar karena ada perlu? Berarti apa yang dikatakan Alya benar, kalau dirinya mendadak pulang karena ada keperluan," gumam Aris manggut-manggut. Kecurigaannya tidak terbukti.


Menurut Aris apa yang dikatakan sang bibik kalau Alya pulang mendadak karena ada keperluan itu benar adanya. Kini amarah Aris mulai reda. Aris pun membalikkan badannya ingin segera pulang.


Saat hendak melangkah, tiba-tiba Aris mendengar suara anak kecil menangis. Dia pun mengurungkan langkahnya. Namun suara itu sudah tidak terdengar lagi.


"Hmm ... Mungkin itu hanya perasaanku saja. Toh, tidak terdengar lagi tangis anak itu," gumam Aris dalam hati. Dia pun pergi meninggalkan rumah Aliya.


"Huft! Untung bocil berhenti menangis setelah aku bekap mulutnya!! Dasar menyebalkan!" Setelah Aris pergi, Alya yang ternyata ada di rumah bernapas lega. Untung anaknya bisa diajak kerja sama.


"Untung dia tertidur hingga tidak terdengar lagi suaranya. Kalau tidak bisa repot aku! Bagaimana mau menjawab pertanyaan mas Aris tentang siapa Aditya ini! Mana ayah dan ibu sedang pulang ke kampung!" gumam Alya dengan napas yang lega.


Alya menatap ke arah bocah balita itu dengan pandangan yang lega. Dia senang karena sang anak tertidur dengan pulasnya. Alya bangkit dari sofa kamar. Dia hendak keluar untuk memastikan apakah keadaan sudah aman, dalam artian Aris sudah tidak ada lagi di rumah itu.


Alya mengintip keadaan di luar dari kaca jendela yang tertutup oleh gorden. Alya merasa tenang saat dirinya mendapati Aris sudah tidak ada lagi di teras rumahnya.


"Syukurlah, Mas Aris sudah pulang. Aku sekarang bebas bisa mengundang mas Nigam datang kemari. Sesuai janjinya bahwa hari ini dia akan datang untuk menjenguk Aditya. Baiklah aku akan telpon dia!" Alya bermonolog dengan dirinya sendiri sembari mengeluarkan ponsel berlogo apel digigit itu.


Tuut ....


Tuut ....


"Hallo?" suara bariton terdengar dari balik telepon. Ternyata Nigam mengangkat panggilan telepon dari Alya.


"Hallo, Mas! Ini aku Alya, mas jadi datang ke sini kan? Aditya sudah rindu dengan ayahnya," ucap Alya bilang kalau sang anak mencari ayahnya. Padahal dia sendiri yang merasa rindu dengan sentuhan manja Nigam. Alya tidak sadar jika selama ini dia hanya dijadikan pemuas hasrat Nigam.


Jikalau Alya itu pandai, pastilah bisa berpikir jika Nigam benar -benar mencintai dirinya, pastilah Alya sudah menjadi istrinya. Namun tidaklah begitu, Nigam selalu menunda dengan alasan dirinya belum cukup kaya untuk bisa menghidupi istri dan anaknya.


"Tentu saja nanti aku datang ke rumah. Dandan yang cantik dan menarik, okey?!"


"Okey, Mas. Aku akan bersolek hanya untuk dirimu saja," jawab Alya lagi.


"Kau memang yang terbaik," ucap Nigam memuji wanita yang menjadi budaknya itu.


Alya menutup teleponnya dan bergegas mandi lalu berhias guna menyambut kedatangan Nigam. Setelah mandi Alya memilih baju yang akan membuat Nigam tergoda. Dengan sesekali melirik ke arah sang putra yang masih tidur. Alya tersenyum senang.

__ADS_1


Setelah semua selesai, aroma minyak wangi sudah memenuhi seluruh ruangan kamar Alya. Suara ketukan pun terdengar.


Tok!


Tok!


Alya mendengar ketukan dari luar, Alya yakin jika itu adalah Nigam. Setelah merapikan penampilannya di depan cermin hias, Alya bergegas keluar dari kamar untuk membukakan pintu.


Klek!


"Mas Nigam, mari masuk," ucap Alya mengajak Nigam untuk masuk ke dalam rumahnya.


"Kau sangat cantik sekali, Alya. Harum tubuhmu menggodaku," ucap Nigam, lelaki dengan tubuh sawo matang dan kekar itu memeluk sang kekasih dengan erat.


Alya tersenyum mendengar pujian Nigam. Setelah menutup pintu, Alya pun membalas pelukan Nigam.


"Aku sangat rindu padamu. Mengapa baru sekarang kau datang menemui ku?" Alya merajuk di depan Nigam.


"Maafkan aku, Sayang. Aku terlalu sibuk bekerja demi mewujudkan semua impian kita." Nigam beralasan hanya agar Aliya memaklumi dirinya.


"Mau sampai kapan, Mas? Aku harus menunggu seperti ini?" tanya Aliya dengan tatapan sendunya. Dia sudah tidak sabar ingin pergi dan membangun rumah tangga dengan Nigam.


"Sabar, Sayang. Sebentar lagi. Setelah nanti Hans pemilik perusahaan Permana Corps bisa aku jatuhkan! Di situlah aku bisa menguasai dunia bisnis dan tentunya aku akan menjadi raja dunia bisnis dan kau akan menjadi ratunya," seru Nigam mencoba meyakinkan Alya.


"Baiklah, Mas. Aku akan sabar menunggu. Semua ini aku lakukan hanya untukmu, Mas! Ingat jangan pernah melanggar janjimu!" Alya mencoba menggertak Nigam.


"Dia ada di kamar, sudah tidur dari tadi. Tumben anak itu begitu nurut, mau tidur lama. Biasanya sedikit - sedikit menangis minta susu, tapi sejak sore tadi dia tidur."


Nigam yang pada dasarnya tidak peduli dengan sang anak, hanya diam saja tidak menggubris jawaban Alya. Syukurlah, minim tidak ada suara tangisan yang membuatnya tidak betah dekat dengan Alya.


"Di mana ayah dan ibu?" tanya Nigam lagi.


"Mereka tadi siang pulang ke kampung, katanya pagi buta sudah pulang, makanya Alya berani mengajak mas Nigam ke rumah," jawab Alya dengan senyum yang menggoda.


Nigam yang sudah terpancing akhirnya meluapkan semua hasratnya. Bagai kucing yang disiapin ikan, maka akan langsung melahapnya dengan rakus.


Malam ini adalah malam yang panjang bagi kedua insan yang belum halal. Hanya demi memuaskan hasrat masing-masing, mereka sanggup untuk melupakan hukum agama yang berlaku.


Keesokan harinya.


Alya panik karena dia terlambat bangun, sedangkan hari ini dia ada rapat dengan pimpinan yayasan di mana dia mengajar.


"Mas Nigam bangun?! Cepatlah aku takut, ayah dan ibu keburu datang!" teriak Alya membangunkan Nigam yang masih tertidur pulas setelah semalam menggempur Alya.


Dengan muka bantalnya Nigam bangun dan bergegas cuci muka. Dia tidak ingin rencananya berantakan. Orang tua Alya hanya tahu jika Alya merupakan calon istri dari Aris.

__ADS_1


Dengan gerak cepat Alya membereskan kamarnya setelah selesai mandi. Dia tidak memerdulikan sang anak yang masih tidur di box bayi yang memiliki ukuran khusus untuk anak balita.


"Aditya belum bangun juga, nyenyak sekali tidurnya. Biarkan saja, mumpung dia masih tidur dan mama pasti sebentar lagi nyampai," gumam Alya sembari memakai high heels nya. Dia harus tampil cantik di depan para pimpinan yayasan.


"Aku pergi," ucap Nigam meninggalkan Alya begitu saja.


"Ya, Mas. Hati-hati," jawab Alya sambil merapikan kembali penampilannya di depan cermin.


Nigam keluar dari rumah Alya dan bergegas pergi, takut kedua orang tua Alya memergokinya.


Alya mengecup anaknya yang masih tidur, berniat untuk pamitan. Akan tetapi Alya sedikit terkejut karena sang anak tubuhnya dingin.


Triiing ....


Triiing ....


Bunyi telepon genggam Alya membuyarkan pikirannya hingga ia lupa akan keadaan anaknya.


"Hallo ... Oh iya, baik, Pak! Saya akan segera datang ke sana. Maaf, saya ada sedikit kendala," ucap Alya sembari memasukkan dompet dan mengambil kunci motornya. Tanpa menghiraukan kembali anaknya, Aliya pergi begitu saja.


Tidak berapa lama kemudian orang tua Alya datang. Mereka tahu pastilah anak mereka Alya dan meninggalkan anaknya sendirian di rumah.


"Sepertinya Alya sudah berangkat, Pak. Kita harus cepat ke kamar untuk menjaga Aditya," ucap wanita berusia hampir 55 tahun itu pada suaminya. Kedua orang tua itu sudah rela membantu sang anak menyembunyikan identitas aslinya yang merupakan seorang ibu beranak satu. Orang tua Aliya mengaku pada semua tetangga bahwa Aditya, anak lelaki berusia lima tahun itu adalah keponakan Alya yang ditinggal mati oleh kedua orang tuanya karena kecelakaan.


Kedua orang yang sudah hampir lanjut usia itu bergegas masuk rumah dan menuju ke kamar Aliya untuk melihat sang cucu. Senyum lega tercetak di wajah keduanya saat mendapati cucu mereka masih tidur. Perlahan wanita tua itu mendekat ke arah box bayi untuk melihat apakah cucunya tidur dalam posisi nyaman atau tidak.


"Pak, kok Aditya cucuku kita badannya semua dingin ya, Pak? Apa tangan ibu yang salah merasakannya?" tanya sang nenek Aditya pada suaminya.


"Apa iya, Bu? Coba bapak periksa," ucap lelaki tua dengan kulit yang sudah mengeriput.


"Bu ... Benar apa yang kau katakan, cucu kita badannya sudah dingin dan kaku, tidak bergerak lagi. Napasnya sudah berhenti, jantungnya juga tidak bergerak. Jangan-jangan Aditya sudah meninggal dunia, Bu!"


Jeddeeer ....


Bagai disambar petir di pagi hari, wanita tua itu diam membisu karena syok.


"Bu ... Bagaimana ini? cucu kita sudah meninggal dunia! Apa yang harus kita lakukan!!!" teriak lelaki tua itu terkejut memeriksa keadaan sang cucu.


"Pak, kita bawa saja ke rumah sakit. Ibu takut jika kita yang akan disalahkan oleh Alya. Ibu akan pesan taksi dulu," ujar sang istri mengambil ponselnya dan memesan taksi online.


"Baik, Bu. Cepatlah!!" teriak sang kakek dengan wajah yang masih panik. Sesekali memeriksa keadaan sang cucu yang sudah terbujur kaku. Tidak berapa lama kemudian taksi online itu pun datang, segera kedua orang tua yang sudah lanjut usia itu membawa sang cucu ke rumah sakit. Ada perasaan takut yang menyelinap di hati karena Alya akan memarahi mereka.


"Pak bagaimana ini apa yang harus kita katakan padanya, ibu takut jika Alys salah paham dengan kita, dia pasti akan menuduh kita yang telah lalai dalam menjaga anaknya." Saat ini sang nenek pun cemas saat ini yang bisa mereka lakukan hanya keselamatan bagi sang cucu.


"Kita katakan yang sejujurnya pada Alya, jika kita datang anaknya sudah dalam keadaan dingin dan kaku. Jelas ini bukan kesalahan kita mengapa kita harus takut? kamu harus tenang hingga nanti sampai di rumah sakit dokter pasti akan tahu penyebab anak ini meninggal dunia karena apa," kata sang kakek menenangkan keadaan hati sang istri.

__ADS_1


"Semoga saja ya, Pak. Alya mau menerima kematian sang anak, Andai saja waktu bisa diputar. Aku akan menunda keberangkatan kita. Kemarin kita seharusnya lebih peduli lagi pada anak itu. Kita akan mengundang para tetangga yang ada untuk melakukan doa bersama. Selama ini, Alya juga tidak memerhatikan Aditya," ujar sang nenek yang merasa kecewa seharusnya kemarin siang dia tidak ke kampung.


"Sudahlah, Bu. Apa yang terjadi memang sudah merupakan takdir. Jangan disesali, kasihan cucu kita yang sudah bahagia di sana. Semua sudah merupakan takdir yang harus kita jalani dengan senyuman," hibur sang kakek. Walau saat ini pastilah hati sang kakek juga terpukul. Cucu satu-satunya yang dia miliki sudah diambil Sang Pencipta.


__ADS_2