
Braak!!
Wulan yang baru datang dari perawatan wajah di salon, melempar tasnya di depan Hans setelah menghitung uang yang diberikan Hans. Kamar yang ia huni bersama sang suami terlihat berantakan karena Wulan tidak pernah beberes rumah. Semua yang mengerjakan adalah Ningsih.
"Mas! Apa-apaan ini?! Mengapa jatah bulananku jadi berkurang? Dan hanya tinggal dua juta saja,hah! Dimana yang delapan belas juta?!" teriak Wulan tidak terima dengan pemberian Hans.
"Maaf, Wulan. Mas sudah bilang kalau perusahaan mas sedang mengalami kebangkrutan. Beberapa proyek gagal karena aku sakit kemarin!" Hans menatap lesu pada sang istri.
Hans merasa apa yang dikatakan oleh ibunya semua benar. Wulan bukanlah wanita yang bisa menerima berapapun penghasilan sang suami.
"Tapi mas?! Itu semua kesalahanmu sendiri! Aku tidak mau tahu, kau berikan sesuai kebutuhanku atau ceraikan aku! Aku tidak mau hidup susah! Masih banyak lelaki kaya yang mau denganku!!" Wulan menantang Hans. Dia tahu Hans sangatlah mencintainya, jadi tidak mungkin akan menceraikannya.
__ADS_1
Mata Hans terbelalak sempurna mendengar ancaman sang istri. Hans sama sekali tidak percaya jika demi bisa hidup senang, Wulan merelakan rumah tangganya.
"Tapi Wulan ... Mas benar-benar tidak sanggup jika harus memberikan jatah bulanan yang sama. Perusahaan mas sedang bangkrut. Nanti jika perusahaan mas sudah stabil pasti mas akan memberikan jatah sama dengan sebelumnya. Mas hanya mohon kali ini saja kau terima dulu jatah untuk bulan ini," ucap Hans mencoba membujuk Wulan.
Wulan menepis tangan Hans yang mencoba membujuknya. Di alam pikiran Wulan, dia malu dengan teman sosialitanya jika tidak bisa bergaya hidup mewah lagi.
"Tidak, Mas! Lebih baik kita bercerai. Aku malu mas jika harus hidup susah! Apa kata teman-teman sosialitaku, Mas?" Wulan berkacak pinggang, dia tidak mau tahu. Baginya hinaan dari teman sosialitanya jelas lebih penting daripada suaminya.
Dulu saat pertama kali menikah dengan Wulan, Wulan tidak seperti ini. Namun, semenjak berkumpul dengan teman sosialitanya Wulan jadi berubah.
"Mas! Aku hanya malu jika dihina teman sosialitaku! Apa itu salah?! Toh kamu bisa cari pinjaman atau jua aset yang lain untuk perbaiki perusahaanku itu tanpa memotong gajiku!" Wulan semakin mengeraskan suaranya.
__ADS_1
Ningsih yang mendengar anak dan menantunya bertengkar hanya bisa beristigfar. Dia tidak ingin ikut campur tangan, karena bukan ranahnya untuk ikut mencampuri urusan rumah tangga anaknya.
"Pinjam bank maksudmu?! Kau ingin kita terjerat riba, begitu? Tidak Wulan, aku tidak mau. Kalau kau memaksa seperti itu, baiklah kita bercerai saja. Silakan cari lelaki yang bisa selalu memenuhi kebutuhanmu!" tegas Hans. Dia sudah menyerah untuk mempertahankan pernikahannya.
"Cerai?! Oh, kau menantangku, Mas. Baiklah. Saat ini juga, detik ini juga kita bercerai! Aku akan pergi dari rumah ini. Ingat! Urus surat cerainya dan kita bagi harta gono-gini! Aku tidak akan tanda tangan jika tidak mendapat pembagian harta yang adil! Ingat itu, Mas!" teriak Wulan.
"Baiklah! Aku akan urus semua surat perceraian kita! Dan harta yang aku punya hanya rumah ini, kita akan jual dan bagi dua rumah ini!" Hans menyetujui permintaan Wulan.
"Bagus! Dan aku akan menunggu surat itu tiba!" Wulan membalikkan badan, hendak mengemasi semua barangnya.
"Minggir!" Wulan dengan kasar meminta Ningsih ibu mertuanya minggir dari jalan yang ia lewati.
__ADS_1
"Astagfirullah, Wulan!!"