
Tia wanita hamil tujuh bulan ini mengunakan mobil Hans
yang khusus untuk Tia bepergian. Tia diantar sang sopir sebab dia tidak mau mengganggu Hans yang sedang sibuk bekerja. Bersama sang pembantu Tia berangkat ke Mall.
Ridho yang melihat Tia keluar dari rumah pun tidak membuang banyak waktu lagi dia langsung mengikutinya. Pria dengan ambisi memiliki Tia ini, sangat bersemangat saat melihat Tia akhirnya keluar rumah lagi.
Sesampainya di mall, Tia langsung menuju toko yang menjual perlengkapan bayi. Wanita cantik ini terlihat sangat bahagia memilih keperluan untuk bayinya meski kini tidak ditemani sang suami.
Pada saat ini lagi-lagi Ridho terpukau oleh keindahan senyuman Tia. Dari kejauhan dia terus mengawasi Tia sedang belanja dengan penuh semangat.
"Melihatmu seperti ini saja membuatku bahagia. Andai saja aku yang berdiri di sana menemanimu memilih pakai-pakaian lucu itu untuk bayi kita," gumam Ridho sembari menatap lamat-lamat wajah bahagia Tia. Dia ingin menyimpan baik-baik ekspresi bahagia Tia di dalam hatinya.
Sementara itu di sisi lain, Hans sengaja menyibukkan diri dengan pekerjaan yang padat. Calon ayah satu ini ingin sekali segera menghilangkan pikiran negatif dari hatinya.
"Sialan! Aku masih saja kesal setiap kali teringat pria itu! Lagian, kenapa sih, dia berkunjung ke rumah segala?! Dia kan sudah tidak punya istri!" Racau Hans di sela kesibukannya. Meski kedua tangannya sibuk bekerja, tetap saja mulutnya sempat mengomeli masalah mereka.
"Bos! Ngomel Mulu kayak emak-emak! Ada apa, sih?" tanya Vera sekretaris perusahaannya.
"Biasalah, masalah rumah tangga," jawab Hans sekenanya. Lelaki dengan kacamata bertengger di hidungnya ini masih sempat menjawab, saat sedang fokus bekerja.
"Kalau ada masalah, jangan dihindari! Tapi dihadapi, dan diselesaikan dengan baik-baik," kata Vera sang sekretaris Hans dengan penuh kesabaran.
Ucapan Vera yang sudah dianggap seperti saudara sendiri itu sukses membuat Hans terdiam. Dia langsung menjatuhkan kepala di atas meja, mencoba menenangkan kepala yang terasa amat berat.
"Aku tahu itu. Tapi rasanya hatiku masih panas sekali. Untuk sementara, aku akan menenangkan diri dulu. Nanti aku akan berbicara padanya setelah fikiranku tenang. Dengan begini, aku harap istriku mengerti untuk tidak melakukan kesalahan yang sama lagi. Sebab Aku sangat membenci hal ini," jelas Hans. Pria ini mencoba bersikap tegar menghadapi cobaan besar dalam rumah tangganya.
"Iya. Itu juga salah satu cara yang baik. Tapi saranku, jangan terlalu lama mendiamkan istrimu. Kasihan, dia 'kan sedang hamil," tutur sang sekretaris dengan senyum hangatnya.
"Iya, aku ingat itu. Terimakasih banyak masukannya, Vera," lirih Hans. Lelaki yang merupakan suami Tia itu kini bisa tersenyum kembali dengan hati yang terasa lebih lega.
Hari ini, Hans harus kembali bersemangat mengerjakan seluruh pekerjaan kantornya. Setelah mendengar masukan dari rekan kerjanya Hans jadi ingin segera kembali ke rumah dan meluruskan masalahnya dengan sang istri. Hans sadar semua ini tidak boleh dibiarkan terlalu berlarut-larut, atau mereka sendiri yang akan rugi.
Sementara itu di tempat lain, tepatnya di dalam toko perlengkapan bayi, Tia masih fokus memilih perlengkapan bayinya. Di temani sang pembantu, ibu hamil ini begitu senang memilih dan berbelanja sampai tidak sadar sudah menghabiskan waktu berjam-jam.
"Duuhh, pilih sarung kaki warna biru, atau kuning, ya? Semuanya lucu!" gumam Tia di sela memilih sarung tangan, dan sarung kaki bayi.
"Bik, kira-kira bagus yang mana?" tanya Tia sembari menunjukkan kedua sarung kaki itu pada sang pembantu.
"Aku rasa warna kuning lebih baik," suara berat seorang pria menyahut dengan lembut. Seketika Tia menoleh, dan syok melihat sosoknya.
"Ridho?! Sedang apa kamu di sini?!" Tia sangat terkejut. Perasaan takut menyusup ke dalam hatinya. Dia khawatir Ridho membuntutinya ke mall itu. Sementara itu bik Inah menyingkir karena tidak patut baginya ikut pembicaraan Sanga majikan.
"Aku ada urusan pekerjaan di sini. Setelah selesai, aku berkeliling untuk melihat-lihat. Tidak aku sangka akan bertemu denganmu di sini," jelas Ridho dengan penuh ketenangan.
Melihat ekspresi Ridho yang begitu tenang, dan sikapnya yang ramah, membuat Tia berfikir bahwa ucapan yang keluar dari bibir pria itu adalah benar. Sehingga dia tidak menaruh kecurigaan sedikitpun kepada Ridho.
Tia mengangguk paham setelah mendengar penjelasan Ridho. Wanita dewasa ini kembali melihat dua set sarung tangan bayi yang masih ada di pangkuannya.
__ADS_1
Dengan ekspresi bingung Tia kembali menimbang akan memilih yang warna apa.
Ridho tersenyum kecil melihat ekspresi Tia yang kini terlihat sangat menggemaskan. Mati-matian pria dewasa ini menahan tangan agar tidak mencubit pipi Tia yang sangat mengundang.
"Masih bingung? Kenapa tidak sekalian diambil semua?" tanya Ridho dengan mudahnya.
"Tidak bisa begitu! Pengeluaran kami cukup banyak bulan ini. Jadi aku harus bisa menghemat dengan meminimalisir belanjaan untuk bayi kami," jawab Tia pelan. Wanita cantik ini bahkan tidak menoleh pada Ridho saat mengatakan hal itu. Membuat hati Ridho sedikit terluka diperlakukan seperti itu lagi oleh Tia.
Tanpa menunggu persetujuan Tia, pria dewasa itu mengambil keranjang belanjaan Tia. Dia juga memasukkan beberapa benda yang terlihat belum ada di dalam keranjang. Lalu dengan segera membawa keranjang belanja itu ke kasir.
Tia dan si pembantu yang mengikuti pergerakan Ridho dari belakang hanya bisa bergumam penuh kebingungan. Mereka berdua sama-sama kaget melihat sikap pria dewasa itu.
"Apa yang kamu lakukan ini, mas?!" Tia mencoba menahan pergerakan Ridho saat sampai di meja kasir.
"Membayar belanjaanmu," sahut Ridho dengan santainya. Dia menggunakan sisa hasil penjualan rumah mewahnya untuk membayari belanja Tia. Menunjukkan bahwa dirinya masih mampu menghidupi Tia.
"Enggak, mas. Aku tidak bisa menerima jika kamu yang membayar semua ini," ucap Tia. Dengan ekspresi tegas dia menahan Ridho yang hendak membayar belanjaannya.
"Tia, jangan difikirkan! Anggap saja ini hadiah untuk kelahiran bayi pertamamu. Karena aku ikut senang menyambut kehadiran bayi itu. Kamu terima, ya! Aku memaksa, nih! Kalau kamu tidak mau menerimanya, aku akan tetap membayarnya, dan membuangnya di jalan saja," kata Ridho terdengar serius.
Ekspresi Ridho sang mantan suami Tia terlihat kesal, dan marah. Tia yang sudah lama mengenalnya tidak mungkin bisa melewatkan hal yang sudah jelas ini. Dalam waktu singkat, wanita dewasa ini diharuskan mengambil keputusan sebelum Ridho membawa pergi seluruh keranjang belanjaannya.
"Mas, kenapa kamu melakukan semua ini?" lirih Tia saat mengikuti langkah kaki Ridho menuju parkiran.
"Karena aku menginginkanmu kembali ke pelukanku, Tia!" lirih batin Ridho. Tentunya hal ini tidak akan berani Ridho ucapkan langsung di depan wajah Tia. Karena dia tidak mau Tia langsung membenci dirinya setelah mendengar hal ini.
"Kan tadi aku sudah bilang, ini kado untuk bayimu. Aku juga ingin memberikan hadiah untuknya. Lagipula, ini semua tidak ada artinya dibandingkan dengan kebaikanmu selama ini, Tia," ucap Ridho dengan sepenuh hatinya.
"Baiklah. Aku akan terima. Tapi untuk kali ini saja. Lain kali jangan berikan apapun padaku lagi, mas!" ujar Tia dengan penuh penekanan.
"Baiklah. Aku mengerti. Jadi, di mana mobilmu?" tanya Ridho mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Itu yang di sebelah sana," jawab Tia sembari menunjuk mobil warna silver yang terparkir di sudut.
Ridho pun dengan cekatan memasukkan plastik belanjaan ke dalam bagasi mobil. Dengan penuh semangat lelaki mantan suami Tia inj membantu Tia merapikan belanjaannya.
"Nah, sudah semua. Kalau begitu, kami duluan, mas," ucap Tia begitu semua sudah beres. Dengan hati-hati ibu hamil cantik itu naik ke dalam mobil. Kemudian mereka pun pergi lebih dulu meninggalkan area mall.
Meninggalkan sosok Ridho yang masih tersenyum puas di tempatnya berdiri. Pria dengan kulit sawo matang ini terus memandang mobil yang membawa Tia hingga tidak terlihat ujungnya.
"Kita lihat, apakah suamimu masih bisa menahan diri setelah melihat semua itu?" gumam Ridho sembari mengulas senyum licik di sudut bibirnya.
Begitu sampai di rumah, Tia dibantu pembantu, dan sopir mobil membawa masuk barang belanjaannya. Ibu hamil satu ini tidak henti-hentinya tersenyum melihat tumpukan perlengkapan bayi yang begitu indah, dan lucu.
"Waahhh, banyak sekali yang dia beli, ya, non," lirih bik Inah saat membantu Tia membongkar belanjaan di ruang tengah.
"Iya, bik. Tia juga tidak menyangka akan jadi sebanyak ini," ucap Tia tersenyum senang. Dia sibuk memilah barang-barang imut di depannya sesuai dengan fungsinya.
__ADS_1
"Oh, iya, non! Sudah hampir sore! Ayo, makan dulu!" ucap sang wanita paruh baya saat teringat dirinya, dan sang nyonya sedang kelaparan.
"Oh iya! Pantas saja rasanya tubuhku berat sekali. Tolong bawakan kemari nasinya, bik," pinta Tia tanpa bergerak sedikitpun dari posisi duduknya di atas karpet.
"Siap, non!" Dengan segera si wanita paruh baya berlari ke dapur. Dia mengambilkan nasi lengkap dengan lauk pauknya, lalu membawanya kembali ke ruang tamu untuk diserahkan kepada Tia.
"Terimakasih banyak, bik," ucap Tia saat menerima piring berisi nasi. Dengan penuh perasaan bahagia, wanita cantik ini menikmati makan siangnya yang sedikit terlambat.
Bik Inah tersenyum senang melihat Tia makan dengan lahap. Selagi Tia makan, Bik Inah membantu Tia membereskan perlengkapan bayi yang masih berserakan di lantai.
"Assalamualaikum! Loh, kamu pergi belanja?" Hans kembali dari kantor.
Hans sang calon ayah itu terlihat sedikit kaget melihat banyak barang berserakan di lantai. Dia yakin pasti Tia habis belanja dan itu pun tanpa dirinya. Hans menghela napas mencoba untuk menyingkirkan pikiran negatifnya.
Suami Tia ini sengaja pulang cepat agar bisa segera menyelesaikan masalahnya dengan sang istri.
Tia gelagapan. Dia segera menyelesaikan menyuap nasi, agar bisa ngobrol baik-baik dengan sang suami. Tia tidak menyangka jika sang suami sudah pulang dan kini sedang berdiri di hadapannya dengan tatapan tajam.
"Iya, mas. Maaf aku pergi tanpa kamu. Soalnya aku suntuk di rumah. Jadi aku memutuskan untuk pergi berbelanja keperluan bayi kita," jelas Tia dengan cepat.
"Iya, tidak masalah asal uang makan kita masih aman," ucap Hans sembari duduk di sofa yang paling dekat dengan posisi Tia. Hans hanya ingin menguji Tia. Masalah uang belanja tidak lah begitu berarti baginya. Hal yang terpenting adalah kepercayaan, bagaimana Tia bisa mengelola uang belanja dengan baik.
"Aman-"
"Pasti aman kok, den! Soalnya semua barang ini adalah hadiah dari teman nyonya," bik Inah yang sejak tadi sibuk bekerja menyahut dengan lantang. Senyum wanita paruh baya itu mengembang begitu lebar. Tanpa mengetahui betapa sensitifnya topik ini.
"Hadiah? dari temanmu yang mana, Tia?" Hans beralih pada Tia.
Sang istri seketika panik. Dia melihat ke sekeliling, mencoba mencari inspirasi untuk berbohong. Tia sangat kesal pada bik Inah yang berniat membantu tapi malah membuka masalah baru.
"Itu..., Dari teman yang tidak sengaja bertemu di mall," ucapnya mencoba mengulur jawaban.
Sikap panik Tia justru membuat Hans semakin penasaran. Pria dewasa ini kenal betul pada istrinya. Tia bukanlah wanita yang pandai berbohong, dan mengarang cerita. Karena itulah dia dulu menjatuhkan pilihan pada Tia karena sikap jujurnya ini.
"Iya, tapi siapa namanya? Bukankah dia punya nama?" Hans semakin mendesak Tia untuk menjelaskan siapa sosok yang telah sangat berbaik hati memberikan semua hadiah itu.
"Ka- kamu tidak kenal, mas. Dia lama tinggal di luar kota, kok," Tia memberikan jawaban yang semakin aneh di telinga Hans. Apalagi terlihat jelas Tia semakin panik, dan nampak sedang mencari alasan untuk mengalihkan pembicaraan. Hal ini justru membuat Hans semakin berpikir negatif kepada Tia.
Hans menatap intens ke arah Tia. Hans merasa sang istri sedang berbohong. Insting seorang suami pastilah tajam, apalagi menyangkut hal yang sangat sensitif dan memengaruhi hubungan antara diri dan sang istri, juga demi kelangsungan rumah tangganya.
"Kamu tidak sedang berbohong kan Tia. Mas lebih senang kau jujur apa adanya daripada mas sendiri yang mengetahuinya dari orang lain," ucap Hans dengan nada yang menekan.
Tia menunduk dan tidak mampu untuk menatap mata Hans. Dengan menarik napas panjang Tia ingin menenangkan dirinya agar bisa berpikir dengan jernih. Tidak terbawa emosi yang akan bisa menghancurkan rumah tangga untuk kedua kalinya. Cukup pengalaman yang lalu hanya sekali terjadi. Apalagi sekarang ada anak yang membutuhkan kasih sayang kedua orang tuanya.
Tia mendongakkan kepalanya agar bulir air mata tidak terjatuh membasahi pipi. Semua ini harus ia hadapi agar rumah tangganya tidak kembali karam hanya karena kesalah pahaman.
"Mas, apakah kau mau berjanji satu hal padaku jika aku mengatakan hal yang sebenarnya?" tanya Tia pada sang suami yang masih duduk dengan mata yang menatap tajam ke arahnya.
__ADS_1
Hans menghela napas kasar, dia harus bersabar agar masalah tidak semakin meruncing. Hans akan memberi kesempatan pada Tia untuk menjelaskan semua. Tidak peduli itu akan sangat menyakitkan hatinya atau tidak. Hal yang terpenting masalah akan bisa terselesaikan jika jujur sebagai landasannya.
"Tentu, Tia. Mas berjanji tidak akan marah seburuk apapun itu, asal kau jujur, Tia."