
Bik Inah yang sebenarnya takut dan tidak berani karena jarang ada tamu yang datang di malam hari. Kebetulan malam ini Hans lembur dan Aris sudah pulang ke rumah Tia yang satunya.
Klek!
"Iya, Siapa?" tanya Bik Inah dengan ramah.
"Assalamu 'alaikum, Bi. Maaf mengganggu, bisa bertemu dengan nyonya Tia?" tanya lelaki yang berada di depan bik Inah.
"Wa'alaikum salam. Tuan siapa? Maaf, kalau boleh tahu, ada perlu apa dengan nyonya Tia?" tanya Bik Inah dengan tatapan penuh selidik. Sekarang ini bik Inah merasa dirinya yang bertanggung jawab pada keselamatan sang majikan.
"Saya Rio. Ingin memberikan coklat pesanan ini pada nyonya Tia. Saya yakin nyonya Tia sangat menyukai coklat ini, buktinya dia pesan lagi, " ucap lelaki yang mengaku bernama Rio.
"Tuan Rio? Maaf, Tuan. Berhubung sudah malam, lebih baiknya jika saya yang akan menyampaikan coklat ini untuk nyonya Tia. Apakah Anda berkenan, Tuan?" Bik Inah tidak ingin kedua majikannya bertengkar lagi karena salah paham.
"Oh, baiklah, Bik. Saya titip coklat ini untuk nyonya Tia. Jangan lupa bik untuk menyampaikannya pada nyonya Tia," pinta Rio dengan nada memohon. Dengan tangan kanannya Rio menyodorkan bungkusan plastik berisi coklat.
"Baiklah, akan saya sampaikan pada nyonya Tia," jawab Bik Inah seraya mengambil plastik itu dari tangan Rio.
"Terimakasih, Bi. Saya permisi dahulu. Assalamu 'alaikum," ucap Rio berpamitan pada bik Inah.
__ADS_1
"Wa'alaikum salam," jawab Bik Inah dengan senyum yang ramah.
Bik Inah kembali mengunci pintu masuk, dan bergegas memberikan plastik berisi coklat pada Tia.
"Nyonya ... Ada tamu yang mengirim coklat pesanan Anda." Bik Inah menghampiri sang majikan yang sedang asyik melihat Televisi di ruang keluarga.
"Coklat? Coklat apa ya, Bik?" tanya Tia menoleh ke arah bok Inah, sosok pembantu yang sudah menemaninya dari awal Tia hamil kedua anak kembarnya.
"Katanya mas yang anter, coklat ini adalah coklat favorit nyonya, dan katanya nyonya pesan pada pemuda itu," jawab bik Inah apa adanya.
Waktu itu Tia sedang berbelanja di mall untuk belanja kebutuhan dapur, tiba-tiba datang seorang laki-laki dan menabraknya. Tia terjatuh dan ditolong oleh lelaki itu.
Setelah menolong Tia, lelaki itu meminta maaf lalu menawarkan sebungkus coklat batangan dengan bertabur mede.
"Maaf, Nyonya. Maafkan saya yang tidak fokus saat berjalan sehingga menabrak nyonya. Dan sebagai permintaan maaf saya, terimalah coklat ini jika nyonya sudah memaafkan saya. Dan buang saja coklat itu jika nyonya marah dan tidak mau menerima permintaan maaf saya," ucap pemuda itu dengan tersenyum.
__ADS_1
Tia menatap mata pemuda itu, lelaki yang kemungkinan usianya sama dengan Aris. Karena merasa tidak enak, Tia menerima coklat itu lalu memakannya.
Tiba-tiba Tia merasakan sensasi dingin setiap menggigit batang coklat itu, hingga tanpa sadar Tia melahap semua coklat itu hanya dalam waktu yang singkat.
"Enak sekali coklat ini. Apa aku bisa membelinya saja?"
"Untuk anda semua gratis, Nyonya. Saya akan rutin mengantarnya ke rumah Anda, apa Anda tidak keberatan jika saya minta alamat rumah Anda?" tanya Lelaki dengan tubuh tinggi tidak kurus dan tidak gemuk. Kulitnya putih bersih.
"Yang benar? Apa kau akan memberinya gratis terus? Tentu saja itu akan sangat merugikan mu, anak muda," jawab Tia yang merasa tidak enak jika harus gratis.
"Tidak apa-apa, Nyonya. Saya senang jika bisa membuat Anda tersenyum," jawab pemuda itu menatap intens pada Tia.
"Baiklah, namaku Tia. Kau bisa mengirimnya ke alamat ini." Tia menyerahkan kartu namanya.
"Baiklah, Nyonya. Terimakasih, sampai bertemu kembali," ucap Pemuda itu berlalu dari hadapan Tia dengan senyum yang mengerikan di ujung bibirnya.
__ADS_1
Semenjak kejadian itu, Tia mulai berubah lagi walau sudah dirukyah. Hanya sehari saja Tia merasa dirinya lebih segar dan lebih bersemangat. Namun, setelah bertemu dengan pemuda itu, Tia menjadi berubah. Lebih senang berdandan dan tiba-tiba merasakan rindu pada mantan suaminya--Ridho.