Menikahi Mantan Suami Pelakor

Menikahi Mantan Suami Pelakor
Bab. 184.


__ADS_3

Keesokan harinya.


Sudah dari kemarin Sinta sampai lagi di Jakarta. Pagi ini Sinta sedang berada di rumah hari ini dirinya tidak pergi ke kantor dikarenakan badannya terasa tidak enak. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 10.00 siang dan dirinya sudah lebih dari 10 kali bolak-balik dari toilet. Sekarang ini rasanya perutnya seperti diaduk-aduk, ia begitu mual dan belum makan dari tadi. Sebab rasanya tidak enak memasukkan sesuatu ke dalam mulutnya.


"Ada apa sebenarnya? Perutku sangat sakit dan aku begitu mual, apa aku kemarin salah makan atau Aku alergi sesuatu?" batin Sinta bertanya-tanya.


Ia terduduk lemas di bawah wastafel, mengapa dirinya lemah sekali hari ini. Perasaan ia tak makan apapun yang mengakibatkan ia mual, ia juga selalu menjaga pola makannya dan istirahat secara teratur. Entah apa yang akan terjadi jika ia tak ke kantor, pasti pekerjaannya akan menumpuk banyak.


Saat di rasa ia sudah tak ingin muntah, ia bangkit dan berpegangan kepada ujung wastafel sebagai tumpuan. Setelah itu ia beranjak menuju ke luar kamar, mungkin jika dirinya berjalan-jalan rasa mual itu akan hilang. Tidak ada salahnya mencoba, sesampainya di dapur ia melihat bibi yang sedang bersih-bersih.


"Nyonya Sinta, apakah nyonya mau sarapan sekarang?" Sapa pelayan rumah tangga itu ketika melihat Sinta yang menuju ke meja makan.


Sinta mendorong kursi, lalu ia duduk di sana. "Enggak deh, Bi, saya lagi mual. Nanti kalau saya makan makin mual," jawab Sinta.


"Nyonya sakit? Sebentar, saya akan buatkan teh hangat untuk nyonya supaya badan nyonya lebih enakan."


"Terimakasih, Bi."


Sinta memijat pelipisnya yang juga ikut sakit, entah apa yang harus dirinya lakukan supaya rasa pusing ini menghilang. Sinta ingin melakukan aktivitas yang biasa ia lakukan tanpa sakit seperti ini. Mual ini benar-benar menyiksa dirinya. Belum lagi badannya juga ikut sakit semua.


Itu menambah penderitanya, bahkan sampai sekarang ini ia masih bingung apa yang ia makan kemarin, hingga sampai seperti ini. Kemarin dirinya makan di restoran bintang 5 dan pasti kebersihan di sana juga terjaga, dirinya semakin pusing memikirkan hal itu.


"Ini nona tehnya, diminum ya."


"Bi, kira-kira saya sakit apa ya? Dari bangun tidur tadi badan saya lemes banget dan mual-mual."


"Nona ada makan sesuatu semalam? Biasanya karena makanan sih, makanan nggak sehat dan nggak higenis juga bisa buat nyonya seperti ini."


"Kalau saya nggak makan apa-apa, masak makan salad sayur bisa bikin saya kaya gini. Bukannya itu makanan sehat ya, Saya juga tidak habis pikir dengan tubuh saya titik bisa-bisanya saya terserang penyakit sampai nggak bisa ngapa-ngapain."


"Jadi, ini waktunya nona untuk beristirahat, setelah itu saya yakin nyonya akan pilih. Nona juga tidak boleh banyak pikiran supaya tidak menghambat kesembuhan nyonya."

__ADS_1


"Iya deh, Bu. Setelah ini saya langsung istirahat aja. Nanti masakin bubur atau makanan yang lembek-lembek ya, soalnya tenggorokan saya agak sakit dibuat telan makanan."


"Siap, Nyonya. Nanti saya masakan bubur ayam buat nyonya."


Setelah itu Sinta kembali ke kamar untuk istirahat, rasa mualnya memang sedikit hilang tapi tetap saja masih ada. Mungkin saja jika dirinya tidur bisa sedikit lega. Badannya benar-benar tidak enak sekarang, seperti ada sesuatu yang mengganjal tapi tidak tahu apa.


Sore harinya Sinta belum juga baikan Sinta merasa seperti orang masuk angin. Bakat dari tadi dirinya bolak-balik ke kamar mandi untuk mengeluarkan semua makanan yang tadi sempat dirinya makan. Sinta sempat makan bubur buatan bibi, ia pikir setelah itu keadaan semakin membaik.


Tapi nyatanya dirinya semakin mual dan bahkan seluruh badannya juga ikut sakit, tengkuknya sedang dipijat oleh pembantunya. Istrinya benar-benar lepas karena seluruh tenaganya ia gunakan untuk muntah-mentah. Bibi bingung harus melakukan apa, Sinta mengatakan dia sudah minum obat dan juga dia sudah istirahat dari pagi tadi.


Tapi bukannya mendingan malah semakin parah dan hanya cairan bening saja yang keluar lewat mulut. Tadi saja bibi harus menyiapkan tempat sampah, supaya Sinta tidak perlu ke kamar mandi jika ingin muntah. Jadi dia bisa muntah di tempat tidur saja, prihatin melihat keadaan majikannya itu.


"Nona masih merasa mual?" tanya bibi sembari menuntun Sinta kembali ke tempat tidur.


"Iya bi, saya masih mual. Padahal sedari tadi saya sudah istirahat tapi tidak menunjukkan perkembangan apapun," sahut Sinta. Ia benar-benar lemas karena terlalu sering muntah.


"Bagaimana kalau nyonya periksa saja ke dokter, saat aku terjadi sesuatu yang tidak mengenakkan kepada nyonya."


"Ya udah deh, nona istirahat saja ya."


Pelayan itu tampak lelah membujuk supaya Sinta mau pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan diri. Sementara Sinta sendiri merasa bahwa ia juga bisa sembuh dengan sendirinya dan bisa beraktivitas lagi jadi Sinta merasa dia tidak perlu ke rumah sakit.



"Lagian saat ini aku juga tidak kuat jika harus keluar dari kamar dan berjalan menuju ke rumah sakit terdekat dari sini. Semoga saja setelah tidur sebentar aku tidak lagi merasakan mual dan pusing yang berlebihan," gumam Sinta bermonolog dengan dirinya sendiri. Selain itu tadi sang pembantu yang ada di sini membuatkan dirinya teh hangat dan itu sangat membantu Sinta dalam mengurangi rasa mual yang ia rasakan.



Sinta terbangun, perutnya merasa lapar, namun sejak tadi beberapa kali diri Sinta mencium bau sesuatu saat berada di sembarang tempat atau berada di dapur Sinta langsung muntah. Sinta berjalan dengan hati-hati. Sinta merasa dirinya kini sangat aneh.


__ADS_1


Sinta sambil menutup hidung berjalan ke dapur, di sana ada bibi yang sedang mengupas bahan makanan sambil asyik bercengkrama dengan supir yang ada di rumah ini. Seketika kedua orang itu menoleh ke arah Sinta.


"Nona Sinta sakit ya?" tanya si supir setengah berbisik pada sang pembantu setelah melihat Sinta.


"Iya Pak, udah dari tadi nona muntah-muntah terus. Saya jadi nggak tega lihatnya," sahut bibi sembari mengupas bawang dengan suara setengah berbisik pula.


"Waduh, kira-kira apa ya yang membuatmu nyonya sakit seperti ini. Biasanya 'kan nyonya Sinta itu jarang sakit, tapi sekalinya sakit malah buat semua orang khawatir."


"Iya, saya juga sampai khawatir karena melihat langsung gimana Nyonya muntah-muntah di wastafel. Gara-gara muntah saja nyonya sampai nggak memiliki tenaga. Karena setelah itu Nyonya lemes banget, berdiri saja harus saya pegang ini supaya nggak limbung ke samping."


"Terus gimana? Apa nggak mau periksa ke dokter aja atau mau dokter yang datang ke sini?"


"Kalau periksa ke dokter sih nyonya nggak mau, katanya sih mau istirahat aja di rumah. Palingan besok juga sembuh katanya begitu, tapi tadi saya udah bujuk nyonya kok buat periksa ke rumah sakit. Tapi ya itu, nyonya nolak."


Sebenarnya bibi juga sampai lelah membujuk agar Sinta mau ke rumah sakit untuk memeriksakan diri. Tuan Gunawan yang tadi ada di sini pun mengatakan bahwa dia akan sembuh. Tuan Gunawan sendiri juga tidak bisa memaksa nona Sinta untuk mengikuti kemauannya. Yang jelas ia sudah memberikan saran yang terbaik untuk nona Sinta.


Sang pembantu itu memang sedari tadi ia tidak melihat tanda-tanda kesembuhan dari Sinta. Malah Sinta semakin sering bolak-balik ke toilet. Jika dirinya ingin membawakan sesuatu seperti makanan ke kamarnya, perempuan itu akan bertanya dirinya membawa apa.


Sinta tidak tahan jika mencium aroma sesuatu yang berasal dari masakan sang bibi. Ia berpikir itu memang wajar terjadi, apalagi kondisinya dia yang sedang sakit dan mungkin hidungnya sedikit tidak enak jika harus mencium sesuatu yang memabukkan.


"Tuan Gunawan udah tahu kalau nyonya Sinta mual dan muntah?"


Bibi menggeleng. "Kalau itu sih tuan belum mengetahuinya, saya sudah tanya sama nona dan mengatakan untuk tidak memberitahu Tuan Gunawan dulu. Jadi tuan Gunawan tahunya Nyonya itu sakit biasa saja, atau istilahnya nggak enak badan."


"Waduh, seharusnya tuan sih dikasih tahu. Supaya cepat pulang dan bujuk nona buat periksa ke rumah sakit. Saya khawatir banget sama nona Sinta, yang membuat takut itu kalau sebenarnya hanya memiliki masalah dan tidak mau cerita sama orang terus di pendam sendiri. Siapa tahu kalau Tuan Gunawan pulang nona bisa baikkan atau mau cerita masalahnya."


"Enggak tahu deh nanti kayak apa, kita doakan saja semoga nona sinta segera sembuh dan dijauhkan dari segala penyakit dan selalu mendapatkan kesembuhan dari Tuhan Yang Maha Esa."


"Aamiin." Lalu mereka mengakhiri percakapan ini dan kembali melanjutkan kegiatan masing-masing. Yang jelas mereka tetap berdoa untuk kesembuhan Sinta. Mereka sangat penting melihat majikan mereka yang lemah tidak berdaya dikarenakan sakit.


Sinta hanya terdiam, pura-pura tidak tahu apa yang dibicarakan oleh kedua orang itu. Dia hanya bisa menghela napas dalam-dalam. Sebenarnya dia sakit apa, itu yang membuat Sinta termenung dan berpikir bagaimana solusinya.

__ADS_1


__ADS_2