
Hans mengangguk sambil tersenyum. Hari ini juga mereka sekeluarga akan ke hotel untuk persiapan.
"Iya, Sayang. Mas antar nanti sekalian ke hotel untuk persiapan pesta. Kalau sudah selesai nanti hubungi mas ya, biar mas jemput. Maaf, mas tidak bisa menunggui di salon. Tidak apa-apa kan kalau mas tinggal?" Hans menghentikan suapannya.
"Tidak apa-apa, Mas. Perawatan hari ini sepertinya agak lama. Kata owner sih begitu, jadi mas tinggal aja," jawab Tia dengan tersenyum. Hari ini dia merasa ingin memanjakan diri agar benar-benar rileks.
"Okey. Bu, nanti berangkat sama Hans atau sama mbak Marni dan pak Toni?" tanya Hans pada sang ibu. Marni dan Toni juga dijadikan dalam bagian anggota keluarga.
"Biar ibu nanti bareng sama si Marni dan Toni saja. Takutnya mereka merasa minder dan tidak tahu harus bagaimana," jawab Ningsih memahami jika sang supir dan istrinya bukanlah orang sering ke hotel.
Hans mengangguk lalu berkata, "Baik, Bu. Nanti biar Hans bawa mobil Hans sendiri. Ibu dan mbak Marni pakai mobil besar saja."
Ningsih mengangguk, sarapan berakhir dengan Tia memasak kembali omlet untuk sang ibu dan dirinya. Sedangkan Hans memakan omlet yang setengah gosong tadi.
Setelah semua selesai sarapan, semua berangkat ke hotel. Mobil Hans melaju menuju salon yang akan melakukan perawatan pada Tia.
***
Sementara itu di sebuah bank ada sosok wanita yang membuat kegaduhan. Satpam bank itu sampai turun tangan karena wanita tersebut tidak terima dengan saldo tabungan yang berkurang.
Setengah jam yang lalu.
"Selamat siang, bisa kami bantu?" tanya petugas bank bagian kasir.
__ADS_1
"Selamat siang, Kak. Saya ingin memeriksa saldo rekening saya. Ini buku rekening saya. Masalahnya saya menggunakan kartu debit saya kena tolak. Saldo rekening saya tidak mencukupi. Padahal saya tidak melakukan transaksi pengambilan tunai. Tolong Anda periksa saldo saya, barang kali mesin ATM salah atau bagaimana itu, yang penting saya ingin saldo saya kembali," tegas Wulan.
"Sebentar, Nyonya. Kami cek dulu. Bisa lihat buku rekeningnya?" sang pegawai bank meminta buku rekening pada Wulan. Wulan pun memberikan buku tersebut pada sang pegawai bank.
Wulan mengetuk-ngetuk jemarinya di meja di mana dia menunggu. Ada perasaan cemas andai saja uangnya tidak bisa kembali. Bila kesalahan sistem dari pihak bank maka dia akan bisa mendapatkan uangnya kembali. Akan tetapi jika itu berasal dari pihak nasabah maka Wulan tidak akan mendapat ganti rugi.
"Maaf, Nyonya. Sudah kami cek berulang saldo rekening Anda, tidak ada yang salah. Semua sama dengan jumlah yang ada di mesin ATM. Adapun transaksi bisa Anda lihat, banyak transaksi penarikan dari kartu ATM Anda. Jadi pada intinya, jumlah saldo Anda sesuai dengan jumlah saldo di ATM," tegas sang pegawai bank.
Deg ... Deg ...!
Hati Wulan berdebar saat mendengar apa yang disampaikan oleh sang pegawai bank. Dia tidak pernah mengambil uang lewat mesin ATM, namun mengapa saldo uangnya berkurang banyak sekali. Tertulis juga semua transaksi hingga saldo hanya tinggal sedikit.
Wulan menganga tidak percaya, uangnya hilang tanpa sepengetahuannya. Siapa yang telah mengambil uangnya itu, masih menjadi pertanyaan dalam hatinya.
Satpam dan semua yang ada di dalam bank itupun dibuat terkejut oleh Wulan. Gegas sang satpam segera mengamankan Wulan. Ia menarik Wulan dari tempatnya berdiri menuju ke pintu keluar.
"Satpam, kurang ajar! Jangan sentuh aku!" Wulan kembali berteriak. Dia sangat marah saat sang satpam menariknya keluar.
"Maaf, Nyonya. Anda sudah membuat kegaduhan di dalam dan membuat para nasabah lain tidak nyaman. Saya mohon kerjasamanya, Nyonya! Semua bukti sudah ada, uang Nyonya memang sudah diambil oleh nyonya sendiri!" ucap sang satpam yang didampingi oleh pegawai bank lainnya.
Wulan meronta dan akhirnya sang satpam pun melepaskannya dan meninggalkan Wulan di halaman depan kantor bank.
__ADS_1
"Dasar kalian pencuri! Kembalikan uangku!!" Wulan melempar sepatu high heels nya ke arah para satpam yang masih berdiri menjaga Wulan agar tidak masuk lagi ke dalam kantor bank.
Wulan sudah seperti orang yang tidak waras, penampilannya berantakan dan acak-acakan.
"Pasti ini adalah ulah mas Ridho, aku yakin itu! Mas Ridho, awas kamu ya!!" geram Wulan pada sang suami. Dengan langkah cepat, Wulan memunguti sepatunya dan kembali menaiki mobilnya untuk pulang kembali ke rumah. Kali ini Ridho pasti akan kena amarah besar dari Wulan.
Broom ....
Wulan melajukan mobilnya dengan kencang, banyak pemakai jalan lain yang mengucapkan sumpah serapahnya pada Wulan. Namun, Wulan sama sekali tidak peduli dengan serangkaian kata yang buruk untuknya. Toh, Wulan juga tidak kenal orang- orang itu.
Ciittt ....
Rem mobil diinjak Wulan dengan tekanan yang maksimal, saat Wulan sudah sampai di halam rumahnya.
"Wulan? Apa yang terjadi?" tanya sang ayah yang terkejut melihat penampilan yang jauh berbeda dengan saat ia pergi ke luar rumah.
Wulan sama sekali tidak menggubris sang ayah. Wulan melengos tanpa memerdulikan wajah sang ayah yang terbengong menatap Wulan. Cahyo pun memilih bungkam, tidak lagi bertanya pada Wulan.
Meri yang duduk di kursi roda ingin pergi dan menampar sang anak. Namun dia berusaha keras untuk tidak menunjukkan ekspresi yang menyedihkan.
"Maaam ...."
__ADS_1
Teriak Aris yang tiba-tiba datang pulang dari kampusnya.