Menikahi Mantan Suami Pelakor

Menikahi Mantan Suami Pelakor
Bab 120.


__ADS_3

"Papa?! Dari mana saja? Bukannya menunggui anaknya malah tidak ada. Papa dari mana sih?!" tanya Clara sang istri yang entah sejak kapan sampai di kamar sang anak.


"Ma ... Mama?! Sejak kapan mama sampai di sini?!" tanya Gunawan gugup. Seperti seorang pencuri yang ketahuan sedang mencuri.



Clara yang duduk di kursi samping bed Sinta pun beranjak mendekati sang suami.



"Papa ini ditanya bukannya menjawab malah balik bertanya! Mama selesai menghadiri pemakaman Amar ganti baju langsung ke sini. Siapa yang tidak marah, diminta menunggui anak malah tidak ada! Kalau terjadi sesuatu pada Sinta bagaimana, Pa? Ingat Sinta sekarang sudah sendiri! Kita harus menghibur dan menguatkan dirinya agar tidak depresi dan terkena syndrom baby blues!!" geram Clara pada Gunawan.



"Maaf, Ma. Papa tadi ke kantin sebentar untuk beli makanan, papa lupa kalau tadi belum makan. Oh ya, bagaimana prosesi pemakaman Amar? Sudah terungkap motif dari kecelakaan ini murni karena kesalahan sendiri atau ada pihak yang bertanggung jawab?" tanya Gunawan mengalihkan pembicaraan.



Gunawan belum siap jika harus jujur pada Clara untuk saat ini. Gunawan takut jika Clara akan mencelakai Tia. Clara adalah sosok yang nekat, jika ada yang tidak ia suka maka ia akan menyingkirkan orang itu.



"Belum ada kabar, baru tahap penyelidikan. Amar pergi dengan Wulan istri Ridho keponakanmu, Pa. Papa tahu Ridho kan? Nah, istri Ridho itu selingkuh dengan suami anak kita. Si Steve berani main belakang dengan wanita itu. Kabar yang mama terima, Wulan si wanita itu masih koma belum sadarkan diri. Wajahnya rusak kena pecahan kaca mobil," ujar Clara dengan wajah yang diselimuti mendung.



Keponakan tersayang Clara yang selalu membantu Clara dalam setiap aksinya, yaitu Amar. Kini sudah tidak bernyawa lagi. Entah pada siapa kelak Clara akan meminta bantuan jika menyangkut tentang hukum.



"Ridho? Anaknya Husni?"



"Benar sekali. Anaknya Husni adik tersayang mu itu. Lihatlah, saudara yang kau bantu itu memiliki menantu yang menghancurkan rumah tangga Sinta.



"Kurang ajar! Ternyata istri Ridho! Keponakan yang dulu aku bantu agar bisa punya perusahaan sendiri, kini malah menghancurkan rumah tangga anak kita!" Gunawan mengepalkan tangan menahan marah. Dia tidak tahu jika sampai sekarang ini pun Ridho belum tahu kelakuan istrinya.



"Lihat keponakan yang selalu kau manja itu! Sekarang perusahaan yang kau bantu saja sedang dalam masalah!" ungkap Clara ingin agar Gunawan tahu kelakuan keponakan tersayangnya.



"Apa?! Perusahaan Ridho dalam masalah? Apa mungkin Ridho sibuk mengurusi perusahaannya hingga ia tidak tahu jika istrinya telah berselingkuh dengan Steve? Kau kan juga tahu Ridho dulu tidak datang di pesta pernikahan Sinta. Jadi tidak tahu jika Steve itu adalah suami Sinta."


__ADS_1


"Papa masih bela juga si Ridho? Pa, mikir ... Ini anak kita lho yang disakiti. Pokoknya papa harus tarik semua modal yang sudah papa berikan pada Ridho. Toh itu modal juga dari hasil perusahaan kita, yang pada dasarnya masih milikku!" Clara sangat marah melihat suaminya masih saja membela sang keponakan.



Gunawan terkejut saat Clara mulai mengungkit tentang harta. Dia tidak menyangka jika Clara ternyata menghitung apa yang telah ayah Clara berikan pada Gunawan. Perusahaan yang dipegang Burhan dulu tidaklah sesukses saat dipegang Gunawan.



"Baiklah, semua akan aku urus dan akan aku kembalikan pada mu," ucap Gunawan dengan nada kecewa.



Clara hanya melengos, hatinya masih tidak terima jika Gunawan membela Ridho yang sudah jelas menghancurkan rumah tangga Sinta. Siapapun yang sudah mengusik kehidupan Clara dan keluarganya pasti akan mendapat balasan dari Clara. Untuk itu, tidak ada yang berani dengan Clara.



Gunawan menatap Sinta yang masih tidur. Badan Sinta belum sepenuhnya pulih pasca melahirkan. "Sinta, Maafkan papa. Gara-gara keluarga papa, kau harus menderita," ucap Gunawan sembari mengusap surai rambut hitam Sinta. Gunawan merasa bersalah pada sang putri kesayangan. Gara-gara salah satu anggota keluarganya, terpaksa Sinta harus menderita.


Clara melihat pemandangan yang sangat menyentuh hati bagi orang lain, namun bagi Clara semua yang dilihatnya hanya biasa saja. Apa yang dilakukan Gunawan bagi Clara hanyalah sebatas barter saja. Gunawan mendapatkan harta, sedangkan Sinta mendapatkan kasih sayang seorang ayah.


"Ma, besok papa akan ke Jakarta untuk bertemu dengan Ridho. Apa kamu tidak apa-apa sendirian bersama Sinta?" tanya Gunawan. Secepatnya dia ingin segera menyelesaikan masalah yang terjadi.



"Tidak masalah, mama dan Sinta sendirian di sini, toh banyak suster yang membantu kami. Hal yang paling penting, papa harus memberi pelajaran kepada Ridho! Beritahu semua kelakuan istrinya itu, aku sudah tidak ingin berurusan lagi dengan keluargamu itu!" sinis Clara. Dia memang selalu memandang rendah pada keluarga Gunawan.




"Baiklah, besok papa akan ke Jakarta," ucap Gunawan sembari menghidupkan ponselnya.



"Dodi, pesankan tiket pesawat ke Jakarta untuk besok pagi. Saya akan melakukan perjalanan bisnis ke sana. Sekalian kamu siapkan penginapan untuk saya." Suara Gunawan memberi perintah pada sang asisten, membuat Clara tersenyum.



Clara senang jika kemauannya dituruti oleh Gunawan. Semua apa yang Clara inginkan, Gunawan akan berusaha untuk memenuhinya. Baik itu Gunawan suka atau tidak, Gunawan tetap berusaha memenuhi keinginan Clara.



"Pa, jangan lupa. Katakan pada Ridho tentang kelakuan istrinya. Dan sekaligus suruh Ridho untuk mengurusi istrinya yang cacat itu!" ucap Clara menoreh luka kembali di hati Gunawan. Gunawan merasa harga dirinya diinjak-injak oleh Clara. Namun, dia hanya diam saja. Tidak membantah ataupun melawan Clara. Gunawan masih bertahan demi Sinta sang anak.



"Baiklah, aku akan mengatakan apa yang kau inginkan," ucap Gunawan tanpa membantah sedikitpun. Gunawan tidak ingin Clara memisahkan dirinya dari Sinta.


__ADS_1


"Papa lebih baik pulang saja, biar mama yang jaga Sinta. Biar papa bisa berkemas untuk keberangkatan besok pagi," titah Clara lagi. Gunawan seperti boneka bagi Clara.



Gunawan kembali pasrah dengan perintah sang istri, di dalam hati ada rasa ingin lari, namun bayang Sinta selalu mengikutinya. Sinta adalah dunia Gunawan. Sedari kecil, Sinta lah yang selalu menghibur di kala Gunawan sedang banyak masalah.



"Baiklah, aku akan pulang. Sebentar aku pamitan dulu pada Sinta. Katakan padanya jika papa ke Jakarta. Jika dia sudah bangun tolong katakan untuk menelpon papa. Papa akan membelikan oleh-oleh untuknya seperti dulu," ucap Gunawan sambil beranjak dari tempat duduknya. Gunawan mengecup kening sang putri sebagai tanda perpisahan.



"Papa pergi dulu ya, Ma. Mama hati-hati dan salam buat Sinta," ucap Gunawan pamitan pada Clara.



"Baik, Pa. Papa juga hati-hati ya, hubungi mama jika sudah sampai di sana," balas Clara mengantar sang suami sampai di pintu.



Gunawan mengangguk, dia pun melangkahkan kaki keluar dari pintu, sedangkan Clara masih berdiri di depan pintu sampai Gunawan tidak terlihat lagi.



Gunawan menoleh ke belakang, melihat apakah Clara masih di depan pintu. Setelah merasa yakin Clara sudah tidak ada lagi di depan pintu. Gunawan berbalik lalu pergi ke kamar Tia.



Tok!



Tok!



Klek!



"Paman? Paman ada di sini? Ayo silakan masuk, Paman," ajak Hans yang membukakan pintu untuk Gunawan. Hans terkejut saat melihat Gunawan berdiri di depan pintu.



"Maaf, paman hanya ingin melihat keadaan Tia. Hati paman belum tenang sebelum menjenguk Tia. Bagaimana keadaan Tia, Nak Hans?" tanya Gunawan sembari melangkah masuk mengikuti Hans.



"Paman, lihatlah. Tia sudah bisa duduk. Tia lihatlah siapa yang datang, dia adalah paman Gunawan pemilik pabrik yang kita datangi kemarin," ucap Hans memperkenalkan Gunawan pada putri kandungnya.

__ADS_1



Tia menghentikan suapan buah di mulutnya. Dia sangat terkejut melihat sosok lelaki yang dia cari hingga harus rela terbang dari Jakarta menuju ke Lampung. Tia terdiam mematung. Mulutnya terkunci, netra nya menatap sendu pada Gunawan.


__ADS_2