
"Baiklah, aku lepaskan dirimu dari ikatan suami istri. Mulai hari ini haram bagiku untuk menyentuh mu! Kita akan bertemu di pengadilan agama!" ucap Aris dengan suara yang bergetar.
Bagai disambar petir, Devi mengira Aris tidak akan mau menceraikan dirinya. Tubuh Devi membeku, dia hanya menatap punggung Aris yang masuk ke dalam mobil.
"Maaas ... Tunggu, Mas! Jangan tinggalkan Devi!" teriak Devi mengejar mobil Aris. Dia berteriak memanggil Aris sambil berlari di belakang mobil Aris.
Bruuum ....
Mobil Aris hanya meninggalkan asap knalpot. Devi pun pada akhirnya menghentikan larinya, napasnya naik turun, penampilannya sudah tidak karuan.
"Sialan kamu, Mas! Awas ... Tunggu pembalasanku!" teriak Devi mengumpat tidak jelas ke arah menghilangnya mobil Aris.
Aris terus melajukan mobilnya dengan kencang. Saat ini dia ingin menyendiri, tidak ingin diganggu siapapun.
Ciiit ... Braaak!
Tiiin ... Tiiin ....
Mobil Aris menabrak pohon, dia bermaksud menghindari kontainer dari arah berlawanan. Namun sayang, saat banting stir mobil, sebuah motor melintas dari sisi kiri. Alhasil Aris memilih untuk menghindari sepeda motor itu dan pada akhirnya menabrak pembatas jalan dan pohon yang ada di situ.
"Tolooong ... Tolooong ...."
__ADS_1
Teriak seorang gadis yang melihat kecelakaan itu. Semua pemakai jalan menghampiri mobil Aris dan membantu mengeluarkan tubuh Aris dari mobilnya. Mereka takut jika sampai mobil itu meledak.
Tidak berapa lama, polisi lalu lintas datang dan melakukan olah TKP. Mobil Aris pun pada akhirnya meledak juga. Bersyukur Aris sudah dikeluarkan oleh orang yang berada di sekitar lokasi kecelakaan.
Ambulance tiba di lokasi, mereka membawa tubuh Aris menuju ke rumah sakit.
Kriiing ... Kriiing ....
"Hallo, Assalamualaikum. Dengan siapa ya?"
"Wa'alaikum salam, Nyonya. Dengan keluarga tuan Aris Permana?" Suara seorang laki-laki terdengar di telinga Tia.
"Benar, Saya kakak perempuannya. Ada apa dengan Aris?" Wajah Tia sudah terlihat panik karena bukan suara Aris ya g dia dengar padahal jelas itu nomor ponsel Aris.
"Maaf, Nyonya. Tuan Aris saat ini dirawat di Rumah sakit Bhakti Mulia di jalan RM. Said."
"Tuan Aris kecelakaan, Nyonya. Kami tunggu di RS Bhakti Mulia untuk informasi selanjutnya."
"Innalillahi ... Baik, Pak. Terimakasih."
Klik.
__ADS_1
"Mas! Bagaimana ini? Aris, Mas! Aris kecelakaan!" ucap Tia menangis, dia tidak kuasa menahan air mata yang sedari tadi ia tahan.
"Sabar, Sayang. Lebih baik kita ke rumah sakit sekarang juga," ajak Hans mengurai pelukan Tia.
"Baiklah, Mas. Ayo kita pergi sekarang juga," jawab Tia mengusap air matanya.
"Tunggu, cuci muka dan gantilah baju dahulu. Jangan seperti ini, kita harus tetap kuat untuk memberi semangat pada Aris," sergah Hans menghentikan langkah Tia.
Tia pun berhenti lalu mengangguk dan bergegas ke kamar untuk ganti baju dan mencuci mukanya terlebih dahulu.
Tidak butuh waktu lama bagi Hans dan Tia pergi ke ruang sakit karena rumah sakit itu tidak jauh dari kompleks perumahan mereka.
Deru mobil Hans dan ramainya jalan, tidak mampu membuat Tia terkecoh dari lamunannya tentang adik kesayangannya.
"Ariiis ... Dimana adik saya, Dok?" teriak Tia ketika sampai di depan pintu IGD.
"Mbak Tia?"
Tia menoleh ke arah sumber suara, ternyata itu adalah Devi yang juga baru saja mendapat kabar kalau suaminya mengalami kecelakaan.
"Kamu?! Kamu pasti yang sudah membunuh Aris! Kamu yang sudah membuat Aris ku kecelakaan!" teriak Tia mencengkeram kedua lengan Devi dan mengguncangkan nya dengan keras.
__ADS_1
"Tia ... Tia, sudah, Dek! Ini di rumah sakit, jangan buat keributan!" Hans melerai Tia yang terus menyerang Devi.
"Tapi, Mas. Wanita itu yang sudah membuat Aris kecelakaan!" seru Tia masih ingin menghajar Devi.