
Mobil Hans sudah terparkir indah di halaman masjid. Aris turun lebih dahulu, sedangkan Hans berusaha membangunkan istrinya.
"Assalamu 'alaikum, Ustadz. Maaf jika kami datang terlambat. Apa tadi ustadz lama menunggu kamu?" tanya Aris memberi salam pada temannya yang merupakan seorang ustadz.
"Wa'alaikum salam, tidak lama menunggu kok. Kami juga baru datang,"jawab ustadz dengan kacamata minus ia pakai di hidung mancungnya.
"Alhamdulillaah, jika begitu. Tunggu sebentar ustadz, tadi kakak saya tertidur, jadi mungkin kakak ipar saya membangunkannya dulu. Sebentar ustadz, mungkin kakak ipar saya butuh bantuan," ucap Aris meminta ijin untuk membantu sang kakak ipar membangunkan Tia.
Aris melangkah menuju mobil yang membawanya ke masjid itu.
"Mas, bagaimana? Mbak Tia susah dibangunkan ya?" tanya Aris dari jendela mobil depan.
"Aris, mbakmu susah sekali dibangunkan. Sudah seperti tubuh tidak bernyawa saja. Tidak mempan dibangunkan!" gerutu Hans yang sedari tadi ingin membangunkan Tia tapi tidak berhasil.
Aris nampak berpikir sebentar untuk mencari solusi bagaimana membangunkan sang kakak.
"Sebentar, Mas. Aku akan mengambil air wudhu untuk membangunkan mbak Tia."
Aris setengah berlari menuju ke tempat wudhu untuk mengambil air untuk membasuh muka Tia. Setelah mendapatkan air itu segera Aris membasuhkan air itu ke wajah Tia.
"Alhamdulillaah, akhirnya bangun juga," ucap Aris yang senang usahanya membuahkan hasil. Memang Tia tadi tidur dalam pengaruh jin yang mengikuti kemanapun Tia pergi, dan Jin itu tahu jika diri Tia dibawa ke masjid. Untuk itu dia membuat Tia tertidur agar tidak bisa mengikuti Aris masuk ke dalam masjid.
"Mmm ... Aku di mana, Mas? Bukannya tadi kita ke kafe?" tanya Tia yang terbangun dan belum genap kesadarannya.
"Sekarang kita di masjid sesuai rute perjalanan kita dari awal," jawab Hans sembari mengeringkan wajah sang istri dengan pelan-pelan.
"Lhoh! Ini wajahku kenapa, Mas? Kenapa basah semua?" Tia heran pada wajah dan rambutnya yang basah.
"Maaf, Mbak. Tadi Aris bangunin mbak dengan air wudhu," ucap Aris mengakui kalau dirinya yang mengusap wajah Tia dengan air.
__ADS_1
"Aris! Kamu apa-apaan sih! Kan bisa bangunin mbak dengan cara lain!" hardik Tia pada sang adik.
"Habis gimana ya, Mbak. Tadi mbak susah sekali dibangunkan hingga mas Hans menyerah. Jadi aku punya inisiatif untuk membangunkan mbak Tia dengan air wudhu, Alhamdulillah usaha Aris berhasil juga. Mbak bangun kan?" seloroh Aris asal. Tia pun gemas dibuatnya.
Tia terdiam tidak membalas lagi perkataan sang adik. Tia akui tadi memang tidur sangat nyenyak. Berasa diri Tia ada di atas kasur bulu yang empuk dengan dikipasi seorang dayang. Tia bak seorang ratu di negeri awan.
"Mbak, ayo kita turun. Kita sudah ditunggu lho ini," ajak Aris membuka pintu mobil depan.
Tia hanya diam pasrah mengikuti Aris karena tangan Aris menggenggam kuat tangan Tia. Aris tahu pastilah kakak perempuannya itu ingin kabur. Untuk itu dia berinisiatif untuk menggenggam kuat tangan Tia.
Aris menuntun Tia untuk memasuki teras masjid, sedangkan Hans mengekor di belakang sembari membawa air mineral.
"Maaf, Ustadz. Kenalkan ini adalah kakak perempuan saya dan yang itu adalah suaminya," ucap Aris memperkenalkan kakak perempuan dan kakak ipar iparnya bergantian.
"Wa'alaikum salam, panggil saja saya Imran, teman Aris," ucap sang ustadz yang bernama Imran itu.
"Bisa dimulai sekarang, Ustadz?" tanya Aris sopan.
"Tentu bisa, ajaklah kakak perempuan mu untuk berwudhu terlebih dahulu. Setelah itu pakaikan mukena pada kakakmu itu." Sang ustadz menjelaskan apa yang harus dipersiapkan.
"Baik, Ustadz," jawab Hans dan Aris serempak.
Hans membantu Tia untuk berwudhu lalu mengenakan mukena yang tersedia di jama'ah putri.
"Mengapa harus pakai begini sih, Mas? Kan jadi gerah," gerutu Tia yang mulai beraksi. Tubuhnya merasakan kepanasan, sungguh dia ingin kali ini bisa lari.
__ADS_1
"Tenang, Mbak. Semua ini demi kebaikan mbak Tia. Mbak Tia ingin sembuh kan? Jadi mbak harus ikuti apa kata ustadz. Aris yakin mbak Tia mampu kok melawan rasa ingin kabur dari sini. Mbak Tia merasa kepanasan kan?" Tanya Aris yang sudah diberi tahu reaksi apa yang akan terjadi jika Tia pakai mukena.
Tia terdiam tidak membalas apa yang dikatakan oleh Aris. Dirinya sudah tidak ada mood untuk berdebat dengan sang adik. Hanya satu keinginannya yaitu dia bisa pergi secepatnya dari masjid itu.
"Nah, sudah selesai. Ayo kita ke sana lagi. Biar semua segera selesai dan kita cepat pulang," hibur Hans pada sang istri yang semenjak tadi hanya diam tidak bersuara.
Hans dan Aris kembali menuntun Tia mendekat ke arah sang ustadz yang sudah bersiap dengan sarung tangannya.
"Baringkan pasien di tengah dengan posisi bersedekap," titah sang ustadz yang ada dua orang itu dengan duduk bersila. Ustadz meminta posisi Tia sama seperti jenazah yang hendak di shalatkan.
Hans dan Aris membantu Tia untuk berbaring di tempat yang sudah ditentukan oleh sang ustadz. Setelah selesai, Hans dan Aris ikut duduk bersila, menunggu perintah selanjutnya dari sang ustadz.
"Sekarang bantu kami untuk berdzikir dan membaca ayat rukyah," pinta sang ustadz pada Hans dan Aris lagi.
"Siap, Ustadz," jawab Hans dan Aris serempak. Mereka pun mengambil kitab suci Al-Quran yang ada di masjid itu dan membantu ustadz dengan membaca ayat rukyah.
Prosesi pun dimulai, dia orang ustadz itu membaca ayat rukyah dengan ustadz Imran yang menjadi pemimpinnya dan memijat dahi Tia dengan tangan kanannya.
Tubuh Tia bergetar hebat, dia menunjukkan reaksi menolak dengan apa yang dilakukan oleh sang ustadz. Tia pun meronta dan ingin menyerang sang ustadz. Suara Tia berubah menjadi menyeramkan.
"Dengan nama Allah, kembalilah kau ke alam mu! Jangan kau ganggu wanita ini, dia adalah hamba yang beriman dan merupakan salah satu dari bangsa kami, kaum yang beriman!"
Ustadz Imran berkomunikasi dengan jin dan meminta jin itu keluar dari tubuh Tia. Tia terus meronta-ronta hingga hampir saja mukenanya terlepas, untunglah Hans sigap membantu sang ustadz memegangi istrinya.
"Ustadz, bagaimana ini?" teriak Hans yang sangat khawatir. Seumur baru sekarang dia benar-benar menyaksikan bagaimana tubuh bisa dirasuki oleh jin.
"Tetap pegang dengan kuat, Pak. Jangan sampai dia lepas, karena istri bapak bisa kabur dan membahayakan diri dan orang lain. Aris cepat bantu kakak iparmu. Kau pegang lengan kanan dan kakakmu lengan kiri," ucap ustadz Imran memberikan perintah pada Hans dan Aris.
__ADS_1