
Tia berjalan menyusuri lorong untuk sampai ke tempat administrasi. Di sana Tia harus mengisi beberapa form agar Hans bisa dirawat inap di rumah sakit itu.
Setelah selesai, Tia kembali ke kamar VVIP dimana Hans di rawat.
"Mungkin lebih baik aku sekalian ke kantin untuk beli makanan. Cacing di perut sudah mulai riuh berdemo untuk minta diisi," ucap Tia di dalam hati. Dia pun memutar balik tubuhnya untuk pergi ke kantin.
Di lorong menuju kantin tidak disengaja oleh Tia, dia melihat Arfa terlibat perdebatan dengan seorang wanita. Tia menepi, tubuhnya menempel tembok agar tidak diketahui oleh Arfa.
"Mas! Aku minta sekarang juga kau cari gadis yang mau melahirkan anak untuk kita, papa sudah mendesak kita untuk segera memiliki momongan. Terserah kau mau pilih siapa, asal gadis itu mau kita bayar dan melahirkan anak kita, aku tidak peduli!"
"Susi, aku mohon bersabarlah! Tidak mudah untuk mencari gadis yang mau kita sewa rahimnya!" Arfa meremas rambutnya dengan tangan kiri sedangkan tangan kanan berada di pinggangnya.
Arfa sangat tertekan dengan tuntutan sang Istri.
Dia merutuki semua kesalahan orang tuanya yang sudah menjodohkannya dengan Susi. Susi adalah seorang wanita karier yang tidak ingin direpotkan dengan tubuhnya yang akan melar jika harus mengandung seorang anak.
Bagi Susi, anak hanyalah makhluk yang akan merepotkan hidupnya. Harus mengandung, merawat dan mendidiknya agar menjadi manusia yang berguna. Sungguh sesuatu yang sangat merepotkan.
__ADS_1
"Aku tidak mau tahu, Mas! Tugasmu yang urus semua, aku tinggal terima beres! Aku terlalu sibuk untuk mengurus hal seperti itu. Jika bukan karena papa yang terus mendesak, aku tidak mau menemuimu saat ini!" Susi berkata dengan kasar pada sang suami.
Arfa menatap tidak percaya pada istrinya, mudah sekali Susi berbicara seperti itu padanya. Sebagai dokter umum, memanglah gajinya kalah jauh dengan Susi yang merupakan presiden direktur di perusahaan ayahnya.
"Beri aku waktu untuk berpikir dan mencari siapa wanita yang akan menjadi ibu surogasi untuk anak kita. Sama halnya dengan dirimu, aku pun sebenarnya tidak sudi menuruti semua keinginanmu. Jika bukan karena hutang budi keluarga kami kepada ayahmu!" Arfa melengos membuang muka.
"Apa kamu bilang, Mas?! Aku pun juga malas menjadi istrimu jika bukan karena papa! Camkan itu!" Susi menaikkan nada bicaranya karena kesal pada Arfa. Apa yang diucapkannya memang seperti itu keadaannya, Susi tidak pernah mencintai Arfa. Arfa bukanlah tipenya, baginya Arfa adalah sosok udik yang hanya memalukan dirinya saja.
"Mengapa kita tidak akhiri saja pernikahan ini?!" Arfa menantang Susi.
Tia mengusap dadanya yang berdetak kencang mendengar kalau Arfa dan istrinya menikah hanya karena harta warisan.
"Mengapa dunia ini hanya diukur dari harta? Dimana letak cinta dan pengabdian? Ada juga wanita yang tidak ingin punya anak. Apa akan bisa hidup sendiri di hari tua tanpa ada yang menjaga dan merawat dengan kasih sayang? Buat apa harta dicari jika bukan untuk anak, walau kadang ada anak yang tidak tahu terima kasih pada kedua orang tuanya. Minim adalah sosok yang akan memperberat timbangan amal kebaikan di akhirat kelak. Dasar wanita aneh! Orang lain ingin cepat punya anak, eh dia malah menolak! Kuwalat baru tahu rasa kau!!" geram Tia di dalam hati.
Tia kembali mencuri dengar pertengkaran Arfa dan Susi. Diintipnya kedua orang yang masih sama-sama emosi itu. Kelihatan di kedua netra Tia keduanya saling membuang muka. Sungguh pemandangan yang menggelikan.
"Sudahlah, Susi. Kita sebaiknya melanjutkan pembicaraan kita nanti di rumah," sergah Arfa agar Susi tidak melanjutkan pertengkaran mereka.
__ADS_1
Susi menatap remeh sang suami yang menurutnya tidak memiliki ketegasan.
"Sudahlah, Mas. Aku sudah muak, aku hanya ingin kau segera bergerak memenuhi keinginan papa! Carilah wanita itu segera dan kita selesaikan semua tanpa beban! Aku pergi dulu, selamat malam!" Susi berbalik meninggalkan Arfa yang masih termangu begitu saja.
"Ya Tuhan, berilah hamba kesabaran! Mudahkanlah jalanku untuk mendapatkan kebahagiaan," ucap Arfa lirih namun masih bisa terdengar oleh Tia.
Tia menatap kasihan pada sosok lelaki yang dulu menjadi pesaingnya itu. Setelah Susi tidak kelihatan lagi, Tua mendekati Arfa.
"Maaf, Dok. Anda tidak apa-apa?" Tia mendekati Arfa yang jongkok sembari meremas kepalanya dengan kedua tangannya.
"Tia? Kau ada di sini?" Arfa menengadahkan wajahnya melihat siapa yang ada di sampingnya itu.
"Iya, Arfa. Kamu kenapa jongkok seperti ini, ada masalah?" tanya Tia hati-hati.
Arfa menatap Tia, di dalam pikiran Arfa pun timbul niat untuk menjadikan Tia menjadi ibu surogasi untuk anak yang diinginkan Susi.
"Tia ...."
__ADS_1