Menikahi Mantan Suami Pelakor

Menikahi Mantan Suami Pelakor
Bab. 155


__ADS_3

Sinta menghela napas dalam-dalam, tidak tahu lagi apa yang harus dia lakukan. Belum berhenti dia menarik napas sang ibu sudah menodongnya dengan berbagai pertanyaan.


"Sinta, apa maksudmu dengan membawa Anggun pada Steve?" tanya Clara dengan berkacak pinggang.


Glek!


Sinta terkejut dengan apa yang dikatakan oleh sang ibu. Sinta lupa jika masih menitipkan Anggun pada Steve.


"Mm ... Itu, Mah. Belum Sinta ambil, tadi langsung datang ke kantor begitu saja, belum sempat ambil Anggun," jawab Sinta dengan menunduk karena takut pada Clara.


Clara menatap tajam pada Sinta, lalu dengan suara keras dia meminta Sinta untuk mengambil anaknya sekarang juga.


"Sinta, mama tidak mau tahu, pokoknya sekarang juga kau harus mengambil Anggun dari rumah Steve! Sudah cukup Anggun di sana, mama tidak ingin cucu mana tertular virus pengkhianat macam Steve!"


Sinta membulatkan matanya tidak percaya dengan apa yang ia dengar, sang ibu memintanya untuk mengambil Anggun sekarang juga.


"Tapi, Ma ...." tolak Sinta.


"Tidak ada tapi-tapian, sekarang juga kau harus segera menjemput Anggun!! Mama khawatir jika Anggun dibawa kabur oleh Steve!" hardik Clara tidak mau Sinta beralasan apapun.

__ADS_1


"Ma ....apa harus sekarang? Sinta masih capek lho?!" elak Sinta dengan berbagai alasan. Sinta terlanjur nyaman tanpa anak yang bikin ia repot dan tidak bisa kemana-mana.


Clara terkejut dan membulatkan matanya. Di tidak menyangka jika Sinta akan berkata begitu. Clara tidak tahu, jika selama ini Sinta menyimpan keluhannya sendiri. Membesarkan anak tanpa dukungan dari suami membuat seorang ibu akan kalah. Apalagi yang baru memiliki anak pertama.


Tidak adanya Suami, tidak ada tempat untuk berbagi dan berkeluh kesah. Sinta yang sebenarnya masih mencintai Steve, namun karena sang ibu sudah mengetahui pengkhianatan yang sering Steve lakukan, Sinta tidak bisa lagi menolak keputusan sang ibu.


"Sinta! Apa-apaan kamu?! Mengapa kamu bilang seperti itu? Apa kamu sudah tidak peduli lagi dengan Anggun?" pekik Clara yang tidak suka dengan sikap Sinta yang kelihatan aslinya.


Hati Sinta sudah tidak mau lagi diatur oleh ibunya. Sinta ingin menjalani kehidupan bebas tanpa ada yang mengikat. Dulu sewaktu jadi istri dia sudah menjadi istri yang patuh pada suaminya, jadi anak dia juga sudah patuh pada orang tuanya. Kini Sinta tidak ingin hidup diatur lagi.


"Cukup, Ma! Mama tidak usah mengatur hidup Sinta lagi! Sinta ingin hidup bebas!"


Sinta melempar semua yang ada di atas meja kerjanya. Clara melotot dan menutup mulutnya karena terkejut.


"Aa ... Sinta! Apa-apaan kau?!" teriak Clara yang tidak menyangka kalau Sinta akan mengamuk.


"Ma!! Dengarkan Sinta, Sinta sudah muak dengan kehidupan seperti ini! Sinta tidak mau mama atur lagi!" tegas Sinta dengan raut wajah kesal pada ibunya.


Sinta pun pergi begitu saja dari ruang kerja Clara.

__ADS_1


"Sintaa! Sintaaa ... jangan pergi!!" teriak Clara memanggil Sinta, namun Sinta tidak mau berhenti dan sudah tidak peduli dengan panggilan sang ibu. Dia terus melangkah meninggalkan ibunya.


Clara menghentakkan kaki karena kesal. Dia tidak ingin sang anak pergi meninggalkan dirinya.


"Sintaaa ... Jangan pergi, Nak!" teriak Clara melemah sambil berdiri di depan pintu. Clara merasa frustasi kini tidak ada yang menemaninya lagi.


Clara meneteskan air mata, namun hanya sebentar saja karena ponsel Clara berdering. Clara mengambil ponselnya yang berada di saku jas nya. Penampilan wanita berusia hampir mendekati kepala lima itu tiba-tiba tersenyum melihat siapa yang menelepon dirinya.


"Hallo, Rai. Kamu dimana?" tanya Clara sembari menyeka air mata yang membasahi pipi.


"Clara aku sudah ada di bandara. Apa kau bisa menjemput ku?" tanya Rai dengan nada yang dibuat - buat.


"Apa?! Kau ada di Lampung? Benarkah itu, Rai?" tanya Clara masih belum percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.


"Benar, Clara. Cepatlah kemari. Aku menunggumu," ucap Rai dengan nada mendesak.


Clara bergegas bangkit dari tempatnya menuju ke kamar mandi yang ada di ruang kerjanya.


"Baiklah, Rai. Tunggu aku," ucap Clara sambil tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2