
Aris dan Tia saling pandang, mendengar suara Devi membuat keduanya terkejut.
"Aris, cepat keluar, temui istrimu itu!" ucap Tia meminta Aris untuk menemui istrinya.
"Baiklah, Mbak. Aris akan menemui Devi terlebih dahulu, jangan sampai wanita itu membuat keonaran di rumah ini," ucap Aris sembari berdiri meninggalkan Tia dan menghampiri istrinya.
"Mas Ariiis!" Di mana kamu, Mas!" Devi menaikkan suaranya, hingga Gunawan yang sedang beristirahat pun terganggu.
"Devi! Apa-apaan kamu! Ini bukan di rumah kita, tapi di rumah orang. Dan orang itu sangat aku hormati! Jadi jaga bicaramu!" hardik Aris dengan nada kesal bercampur malu.
"Mas! Kamu yang apa-apaan! Demi keluarga mu, kamu tega meninggalkan aku begitu saja di depan rumah! Aku tidak mau ya mas kamu seenaknya seperti itu!" seru Devi.
Aris membulatkan matanya, menatap nanar pada Devi. Baru sekarang Devi terlihat sifat aslinya.
"Devi, Jaga bicaramu! Jangan keterlaluan!" Aris mengingatkan sang istri yang semakin menjadi.
Bukannya mereda, Devi malah semakin menjadi. Emosi sudah menyala hebat di dada Devi. Seakan dia lupa siapa yang dulu mendukung pernikahannya jikalau bukan Tia.
__ADS_1
"Tidak, Mas! Aku tidak akan diam! Kak Tia sudah menghancurkan semua. Dia telah merubah dirimu seperti ini, Mas!" protes Devi yang menyalahkan Tia sebagai penyebab Aris berubah seperti itu.
Plak!
Tamparan telapak tangan Aris mendarat indah di pipi Devi.
"Mas! Tega kamu ya, Mas! Sekarang juga ceraikan aku, Mas!"
"Aris! Kenapa kau menampar Devi, Ris?!" teriak Tia yang melihat semua, Tia pun bangkit dari duduknya dan mendorong Aris.
Aris menatap tangannya yang baru saja ia gunakan untuk menampar Devi.
"Devi, sudah lah. Kalian bicarakan dengan kepala dingin. Saat ini kalian sedang dikuasai oleh emosi. Aris, lebih baik kau bawa pergi istri mu. Bicarakan semua di rumah kalian!" tegas Tia.
"Baiklah, Mbak."
Aris menghela napas dalam - dalam. Dia tidak menyangka semua akan menjadi begini. Wanita yang baru saja ia nikahi ternyata menyimpan bom waktu yang siap meledak.
__ADS_1
"Devi, ayo kita pulang!" Aris menarik tangan Devi.
"Lepaskan, Mas! Aku belum selesai bicara!"
"Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi di sini! Kita bicarakan di rumah!"
"Mas, Lepaskan! Kak Tia, awas kamu ya!" teriak Devi memberontak, akan tetapi kekuatan Aris lebih besar dari kekuatan Devi.
Tia menghela napas kasar, dia merasa bersalah. Bukan ini yang ia kehendaki, akan tetapi berharap Aris bisa membimbing Devi agar lebih bisa menjaga jari dan lisannya dari menggunjing orang.
"Sudahlah, Tia. Biarkan mereka menyelesaikan urusan mereka sendiri," ucap Hans yang sebenarnya sudah dari tadi sudah menyaksikan bagaimana Devi dan Aris bertengkar.
"Mas Hans? Mas sudah pulang?" Tia menoleh ke arah sumber suara.
"Iya, Sayang. Mas menyaksikan semua. Mas heran mengapa wanita yang dulu kita kira baik dan lemah lembut ternyata seperti itu. Memang sifat seseorang tidak bisa kita ketahui hanya dari penampilan dan tingkah lakunya di depan publik," ucap Hans lagi. Dia menghampiri sang istri yang juga berjalan menuju ke arahnya.
"Iya, Mas. Maafkan Tia yang dulu begitu mudah menyetujui Aris dekat dengan baik," jawab Tia masuk ke dalam dekapan sang suami.
__ADS_1
"Sudah, tidak apa-apa. Semua bukan urusan kita. Kita fokus pada keluarga kita saja." Hans mengecup kening istrinya.