
Bab. 88.
Wulan kebingungan, tidak tahu bagaimana dia harus menolak. Ridho terus menempel di badan Wulan. Rasa penasaran menguasai dirinya.
Ridho menarik tangan Wulan menuju ke kamar, Wulan terpaksa melayani sang suami dengan wajah yang tidak ikhlas.
Akhirnya mereka berdua pun tenggelam ke dalam nikmat dunia, akan tetapi lagi- lagi Ridho yang paling merasakannya. Wulan hanya pasrah tidak membalas permainan Ridho.
Ridho pun pura-pura tertidur saat selesai menuntaskan semua yang menurutnya umum terjadi di antara pasangan suami istri.
Melihat suaminya sudah tertidur, Wulan pun bangkit dari ranjang.
"Dasar lelaki lemah, belum ada lima menit sudah tak berdaya! Hiiih ... mana lengket semua! Masa iya sih, tiap kali harus merasa geli doang, dasar menyebalkan!" gerutu Wulan masih terdengar di telinga Ridho.
__ADS_1
Ridho tercengang, ternyata dugaannya tidak meleset. Wulan hanyalah sosok perempuan yang hanya mengincar hartanya saja selama ini. Pantas saja saldo rekeningnya banyak. Ridho merasa beruntung saat berhasil menguras saldo rekening Wulan, walau entah bagaimana besok saat Wulan datang ke bank.
Ridho memejamkan mata, merutuki nasibnya sebagai laki-laki yang lemah. Tidak menyangka jika dia mengalami gangguan kesehatan untuk lelaki.
"Hanya Tia yang bisa menerima aku, dia tidak mengeluh walau hanya dua kali aku menjamahnya. Pantas saja, tidak ada noda merah di sprei waktu aku menunaikan kewajiban memberi nafkah batinnya. Tia, entah mengapa aku menyesali keputusan ku untuk menikahi Wulan," gumam Ridho di dalam hati dengan air mata yang mengalir di sudut matanya.
Siang hari yang panas pun berlalu, matahari kembali ke peraduannya. Menyisakan rasa sedih di dalam hati seseorang yang dulu sombong akan harta dan menyakiti sosok yang tulus kepadanya.
\*\*\*
Di rumah Hans, acara tasyakuran pun berlangsung dengan meriah, Tia tampak cantik dengan gamis putih dan jilbab putihnya. Rias wajah yang sederhana, membuat Tia terlihat cantik alami. Sedari awal acara, Hans tidak henti-hentinya memuji kecantikan sang istri yang memakai jilbab.
Melihat ada kesempatan untuk bicara berdua, Hans pun mendekati Tia yang sedang sibuk menata gelas untuk tempat minum anak panti.
"Sssst ...." Hans memanggil Tia dengan kode agar tidak diketahui oleh orang lain.
__ADS_1
Tia menoleh ke arah sumber suara. Tia menatap heran pada suaminya yang terlihat berbeda malam ini.
"Ada apa, Mas?" tanya Tia mendekat ke arah Hans.
"Kamu cantik!" bisik Hans pada Tia. Mode merayu pun dinyalakan.
"Astaga ... Aku kira mas butuh sesuatu untuk diambilkan!" ketus Tia yang salah mengira.
Hans pun tersenyum, dia baru sadar ternyata mengerjai sang istri itu sangat mengasyikkan. Hans pun semakin tertantang untuk menggoda Tia kembali.
"Sssst ...." Hans memanggil Tia lagi. Namun kali ini usahanya gagal. Tia tidak menggubris usaha Hans yang ingin mencuri perhatiannya.
Hans tampak kecewa, dia pun memakai cara yang lain. Malam ini dia harus dapat jatah dari sang istri.
__ADS_1
Hans pun berjalan mendekati sang istri yang sedang menuangkan teh hangat ke dalam gelas -gelas untuk para tamu undangan. Kesibukan Tia melayani para tamu undangan, membuat Hans merasa diabaikan oleh Tia. Dia pun kembali memikirkan cara yang lain.