
"Terima kasih, Mbak. Sebenarnya, kedatangan Aris ke sini ingin minta restu," ucap Aris mulai menyampaikan maksud dan tujuannya datang ke kediaman Tia dan Hans malam-malam bersama dengan seorang wanita cantik di sampingnya.
"Restu? Wah …. Ternyata wanita cantik ini adalah calon adik ipar Kakak, ya," goda Tua membuat Aris seketika salah tingkah.
"Ma, Mama …. Om Aris mau apa ajak ibu guru Hasna ke rumah?" tanya Hasna membuat Tia tercengang, begitu pun yang lainnya.
"Ibu guru? Wanita ini guru kamu, Hasna?" tanya Tia memastikan.
"Iya, Ma."
"Oh, pantas saja, saya merasa tidak asing dengan calonmu ini, Ris," ujar Hans.
"Iya, Mbak. Salam kenal. Saya Alya, guru di kelas Hasna," ujar Alya seraya mengulurkan tangannya kepada Tia sebab ia belum sama sekali bertemu dengan ibu dari anak didiknya itu.
"Tia, kakaknya Aris. Alhamdulillah, bisa bertemu dengan Ibu gurunya Hasna. Sungguh ini suatu kebetulan," ucap Tia yang senang melihat Aris sudah memiliki tambatan hatinya.
"Iya, Mbak. Tidak menyangka jika bisa bertemu dengan ibunya Hasna." Alya tersenyum simpul merasa senang bisa lebih akrab dengan calon kakak iparnya.
"Mari silakan duduk, Alya."
"Bik Inah ... Tolong buatkan minuman untuk tamu kita," ucap Tia memanggil bik Inah sang pembantu.
"Iya, Nyonya," jawab bik Inah dengan menundukkan badan.
Bik Inah gegas kembali ke dapur untuk membuat minuman untuk tamu.
__ADS_1
"Bagaimana, Ris. Apakah langsung diresmikan atau masih menunggu?" tanya Tia pada adik lelakinya.
"Kemungkinan kami akan langsung meresmikan bulan depan, Mbak. Kami masih mempersiapkan semuanya. Termasuk perlengkapan administrasi di kantor urusan agama," jawab Aris sambil melirik ke arah Alya yang membalas dengan senyum manisnya.
"Syukurlah kalau begitu, mbak hanya bisa mendoakan agar semua lancar sampai nanti acara resepsi pernikahan kalian. Oh ya, mama dan papa sudah kamu beri tahu, Ris?" tanya Tia ingin tahu tentang reaksi sang mama jika Aris sudah memiliki tambatan hatinya.
Aris terdiam, ternyata ada masalah di balik semua itu. Tia menangkap gelagat yang tidak menyenangkan dari Aris. Tia paham pastilah sang mama belum bisa menerima Aris memiliki pasangan.
Tia mendekat ke arah Aris yang menunduk. Dia paham pastilah adik laki-laki satu-satunya itu menghadapi kesulitan.
"Aris katakan pada mbak, apa yang terjadi? Apa mama tidak suka kau akan menikah dengan Alya?" tanya Tia dengan lembut.
Aris mengangguk dalam, ternyata selama ini di balik sikapnya yang biasa saja seakan tidak terjadi apa-apa, menyimpan masalah yang rumit.
"Benar, Aris. Kau sudah banyak membantu kami, sekarang giliran kami membantu mu. Mungkin jika mama kita bujuk bersama, hatinya akan luluh juga." Hans yang sedari tadi diam menyimak pada akhirnya mengeluarkan pendapatnya.
Aris menatap kedua kakaknya secara bergantian, sejurus kemudian dia mengambil napas dalam-dalam dan kemudian dia menceritakan apa yang menjadi masalahnya.
"Mbak, Mas. Mama waktu pertama kali aku memperkenalkan Alya pada mama. Mama histeris, dia sama sekali tidak mau melihat Alya. Aris heran mengapa mama bersikap seperti itu? Padahal Alya dan mama sama sekali belum pernah bertemu satu sama lain," ucap Aris menatap wajah Alya yang tertunduk.
"Lhoh kok bisa begitu sih, Ris? Apa mama kambuh lagi traumanya?" tanya Tia. Memang semenjak Tia merasakan tidak bisa tidur setiap malam, Tia jarang sekali ke rumah sang mama, wanita yang telah mengandung dan melahirkan dirinya.
"Aris juga tidak tahu, Mbak. Aris tanya pada Alya, apakah Alya pernah bertemu atau pernah berurusan dengan mama. Jawabnya tidak, Mbak. Lantas apa yang membuat mama seperti itu?" Aris memijat pelipisnya yang mulai berdenyut sakit.
__ADS_1
"Benar seperti itu, Alya?" Tia mengalihkan pandangannya menuju Alya dan disambut Alya dengan anggukan kepala.
"Mungkin mama tidak mau Aris tinggalkan, secara anak mama sekarang hanya tinggal Aris saja yang dekat dengannya," timpal Hans memberikan pendapatnya.
Tia dan Aris juga Alya menatap ke arah Hans yang dengan sikap bijaknya memberikan pendapatnya.
"Bisa jadi begitu, Mas. Aris selalu dilarang menikah dengan berbagai alasan yang Aris sendiri tidak paham," lirih Aris mengenang bagaimana sang ibu yang selalu marah jika dirinya mengatakan ingin menikah.
"Jika benar begitu, mungkin jika kau mengajak Alya tinggal di sana mama akan mau menerima Alya. Dengan adanya Alya, mbak berharap ibu ada temannya. Tentu saja jika Alya sudah pulang dari mengajar. Betewe kalian kenal di mana?" Tanya Tia yang sempat penasaran bagaimana sang adik bisa mendapatkan gadis secantik dan sepintar Alya.
"Mmm ... Kami kenalannya biasa aja sih, Mbak. Kami teman satu kampus hanya beda jurusan saja. Dia di kependidikan sedang Aris di tehniknya. Kami sering bertemu di acara yang diadakan BEM kampus. Dari situlah kami sering chat dan akhirnya menjalin hubungan yang lebih serius. Benarkan Alya?" Aris menatap kekasihnya dengan pandangan mesra.
Lelaki muda berkulit putih dengan hidung yang mancung dan lesung pipi di sebelah kanan itu tersenyum melihat sang gadis tersipu malu.
"Wah, ternyata teman kampus ya. Tapi yang namanya jodoh pastilah bersatu pada waktunya," imbuh Tia yang juga turut senang dengan pilihan sang adik. Seorang guru pastilah akan memiliki sifat penyayang pada anak kecil. Itu pikiran Tia yang mengambil sudut pandang secara akademik. Padahal tidak semua yang sekolah di kependidikan memiliki sifat yang benar-benar sayang pada anak kecil.
Memang di dunia kependidikan diajarkan bagaimana memiliki ilmu jiwa pendidik yang baik, akan tetapi di zaman sekarang, kuliah hanyalah untuk mencari titel dan secarik kertas yang bernamakan ijazah.
"Terimakasih, Mbak. Aris juga berharap kami berjodoh hingga maut memisahkan kami. Dari itu Aris berniat walau tanpa restu dari mama, Aris tetap akan terus melanjutkan hubungan Aris dengan Aly, Mbak. Itu sudah menjadi tekad Aris karena Aris sangat mencintai Alya," ucap Aris sembari menatap sendu ke arah calon istrinya itu.
"Waaw ... So sweet sekali adik mbak ini, tapi kalau bisa tetap dengan restu dari mama. Walaupun itu sulit, tapi tetap kita berusaha agar bisa mendapatkan restu dari mama kita," ucap Tia dengan penuh semangat.
Aris menghela napas panjang seolah ingin berteriak bahwa dia sudah berusaha semaksimal mungkin untuk memperoleh Restu dari sang ibu.
"Kamu tidak apa-apa 'kan Aris? Apa usul mbak tadi berat untuk mu?" tanya Tia yang melihat perubahan wajah Aris dari yang semula bahagia menatap Alya, sekarang berubah murung.
__ADS_1
"Mbak, jujur Aris bukannya tidak mau berusaha, akan tetapi mama selalu mengamuk jika Alya datang ke sana. Seperti marahnya dulu waktu kita kecil, mama marah pada mbak Tia karena tidak sengaja memecahkan vas bunga milik mama," jawab Aris frustasi.